Puasa di Prancis
L'ambiance Ramadan di Paris
Kamis, 09 Agustus 2012 - 12:19 WIB
L'ambiance Ramadan di Paris
A
A
A
WARGA Paris ternyata sangat akrab dengan kata Ramadan. Kata tersebut biasa diujarkan “romadong”.
Kata tersebut sangat dikenal baik oleh kalangan muslim dan nonmuslim. Bukan menjadi rahasia lagi jika pada acara ulang tahun anak-anak sekalipun, seorang tuan rumah senantiasa menyediakan menu khusus bagi anak muslim dengan makanan halal.
Persis seperti apa yang dilakukan di Tanah Air, ketiga seorang tuan rumah yang kebetulan nonmuslim mesti menjamu saudara muslim mereka. Maklum bangsa-bangsa subkultur mediterania, seperti Prancis, Italia, dan Spanyol sudah mengalami persinggungan dengan budaya Islam sejak ratusan tahun yang lalu.
Sekadar menengok ke belakang, Laut Mediterania, yang menghubungkan daratan tiga benua (Asia, Eropa, dan Afrika) tersebut, sejak dulu menjadi kawasan yang supersibuk dan dinamis. Sejak zaman Romawi, Kristen, hingga zaman keemasan Islam di bawah pemerintahan Andalusia dan berlanjut sampai pemerintahan Turki Ottoman.
Dalam lembaran sejarah Eropa pun tercatat nama seperti Philip the Arab, Kaisar Romawi ke-33 yang berasal dari Syria (sekarang Suriah). Demikian juga dengan John of Damaskus, salah satu pemikir Kristen abad ke-7, yang berasal dari negara yang sama dengan Philip.
Memasuki pekan pertama bulan Ramadan 1433 H ini, l’ambiance (atmosfer) bulan suci Ramadan mulai terasa. “Pada bulan Ramadan, biasanya banyak warga Arab yang membaca Alquran di metro-metro,” ujar Anita, buruh migran asal NTB, malam itu.
“Mereka berpakaian seperti orang Eropa lainnya. Tidak mesti memakai baju muslim,” tambah wanita yang sudah tinggal di Paris hampir lima tahun tersebut.
Apa yang dikatakan Anita tersebut tidak meleset. Malam itu, memasuki hari keempat bulan Ramadan, tampak seorang pemuda sedang membaca Alquran di dalam metro 6 di Stasiun Nation yang hendak meluncur ke arah Charles de Gaule Etoile.
Pemuda Arab tersebut tampak santai, dengan mengenakan T-shirt hijau, sementara kaki kanannya disandarkan di atas bangku kosong yang ada di depannya. Sementara sore itu, di samping sortie Stasiun Metro le Kremlin Bicetre, tampak toko kue khas Tunisia, dipenuhi pengunjung.
Mereka bahkan dengan rela membuat antrean panjang hingga trotoar. Maklum, budaya antre di negeri ini sudah sangat mapan. Tidak jauh dari toko kue La Rose de Tunis tersebut, sebuah kios daging segar yang bersertifikasi halal, juga sedang dipadati pengunjung.
Boucherie (kios daging) tersebut tampak dipadati kaum wanita dan sebagian laki-laki. Menjelang keberangkatan metro 6 pada pukul 11 malam lebih itu, tiba-tiba menyeruak wajah seorang gadis yang berbusana muslim khas Indonesia.
Benar saja, dia adalah mahasiswi S-2 di Universitas Paris 5 yang sudah belajar hampir setahun. “Saya baru datang dari rumah Mas Rahmad, Ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Paris,” ujar gadis mungil asal Yogya tersebut. “Biasa, acara buka bersama kecil-kecilan,” tambah mahasiswi jebolan S-1 Teknik Fisika UGM tersebut.
Metro pun menderu menuju Stasiun Pasteur, di mana Atijah, nama mahasiswi tersebut akan turun. Mungkin, kerinduan akan Tanah Air yang dialami Atijah, menjadi sedikit terobati setelah berbuka bersama dengan rekan-rekan se-Indonesia-nya.
Kata tersebut sangat dikenal baik oleh kalangan muslim dan nonmuslim. Bukan menjadi rahasia lagi jika pada acara ulang tahun anak-anak sekalipun, seorang tuan rumah senantiasa menyediakan menu khusus bagi anak muslim dengan makanan halal.
Persis seperti apa yang dilakukan di Tanah Air, ketiga seorang tuan rumah yang kebetulan nonmuslim mesti menjamu saudara muslim mereka. Maklum bangsa-bangsa subkultur mediterania, seperti Prancis, Italia, dan Spanyol sudah mengalami persinggungan dengan budaya Islam sejak ratusan tahun yang lalu.
Sekadar menengok ke belakang, Laut Mediterania, yang menghubungkan daratan tiga benua (Asia, Eropa, dan Afrika) tersebut, sejak dulu menjadi kawasan yang supersibuk dan dinamis. Sejak zaman Romawi, Kristen, hingga zaman keemasan Islam di bawah pemerintahan Andalusia dan berlanjut sampai pemerintahan Turki Ottoman.
Dalam lembaran sejarah Eropa pun tercatat nama seperti Philip the Arab, Kaisar Romawi ke-33 yang berasal dari Syria (sekarang Suriah). Demikian juga dengan John of Damaskus, salah satu pemikir Kristen abad ke-7, yang berasal dari negara yang sama dengan Philip.
Memasuki pekan pertama bulan Ramadan 1433 H ini, l’ambiance (atmosfer) bulan suci Ramadan mulai terasa. “Pada bulan Ramadan, biasanya banyak warga Arab yang membaca Alquran di metro-metro,” ujar Anita, buruh migran asal NTB, malam itu.
“Mereka berpakaian seperti orang Eropa lainnya. Tidak mesti memakai baju muslim,” tambah wanita yang sudah tinggal di Paris hampir lima tahun tersebut.
Apa yang dikatakan Anita tersebut tidak meleset. Malam itu, memasuki hari keempat bulan Ramadan, tampak seorang pemuda sedang membaca Alquran di dalam metro 6 di Stasiun Nation yang hendak meluncur ke arah Charles de Gaule Etoile.
Pemuda Arab tersebut tampak santai, dengan mengenakan T-shirt hijau, sementara kaki kanannya disandarkan di atas bangku kosong yang ada di depannya. Sementara sore itu, di samping sortie Stasiun Metro le Kremlin Bicetre, tampak toko kue khas Tunisia, dipenuhi pengunjung.
Mereka bahkan dengan rela membuat antrean panjang hingga trotoar. Maklum, budaya antre di negeri ini sudah sangat mapan. Tidak jauh dari toko kue La Rose de Tunis tersebut, sebuah kios daging segar yang bersertifikasi halal, juga sedang dipadati pengunjung.
Boucherie (kios daging) tersebut tampak dipadati kaum wanita dan sebagian laki-laki. Menjelang keberangkatan metro 6 pada pukul 11 malam lebih itu, tiba-tiba menyeruak wajah seorang gadis yang berbusana muslim khas Indonesia.
Benar saja, dia adalah mahasiswi S-2 di Universitas Paris 5 yang sudah belajar hampir setahun. “Saya baru datang dari rumah Mas Rahmad, Ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Paris,” ujar gadis mungil asal Yogya tersebut. “Biasa, acara buka bersama kecil-kecilan,” tambah mahasiswi jebolan S-1 Teknik Fisika UGM tersebut.
Metro pun menderu menuju Stasiun Pasteur, di mana Atijah, nama mahasiswi tersebut akan turun. Mungkin, kerinduan akan Tanah Air yang dialami Atijah, menjadi sedikit terobati setelah berbuka bersama dengan rekan-rekan se-Indonesia-nya.
(hyk)
Lihat Juga :