Mengais rezeki di jalur Pantura Jawa Barat
Senin, 13 Agustus 2012 - 15:50 WIB
Mengais rezeki di jalur Pantura Jawa Barat
A
A
A
MENJELANG mudik Lebaran, warung-warung dadakan mulai bermunculan di jalur pantura wilayah Kabupaten Karawang hingga Cirebon, Jawa Barat. Mereka mengaku hampir setiap tahun mengais rezeki dari berjualan di warung dadakan selama arus mudik dan balik Lebaran. Dengan menggunakan bahan sederhana seperti bambu, kayu, dan kain bekas spanduk, mereka mendirikan warung dadakan.
“Di warung berukuran sekitar 4x3 meter ini, nantinya akan berjualan mi instan baik rebus maupun goreng, berbagai minuman dingin, berbagai macam jenis rokok; dan satu yang tidak pernah lupa, es kelapa muda,” kata Nanang, warga Desa Gebang Mekar, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, kemarin.
Teriknya cuaca di pantura membuat minum segar dingin itu sangat laku. Karena itu, Nanang pun tidak pernah lupa berjualan es kelapa muda sejak empat tahun berjualan di warung dadakan. Adapun modal yang dibutuhkan sekitar Rp1 juta.
”Itu untuk membeli berbagai bahan makanan dan minuman,” katanya. Adapun kursi, terpal, dan lainnya masih menggunakan bahan yang dibeli empat tahun lalu.
Saat ditanyakan berapa pendapatan per harinya dari warung dadakan, Nanang mengaku tidak tentu.
”Tapi saya bisa dapat hingga Rp5 juta selama arus mudik dan balik. Itu bersih,” katanya. Uniknya, seusai arus mudik, Nanang akan memindahkan warungnya ke jalur balik.
"Di sisi sana masih kosong, jadi saya pindahkan saja,” katanya.
Warga lainnya, Aris Maulana, mengungkapkan hal yang sama. Menurut dia, berjualan musim mudik Lebaran sudah dilakukan selama empat kali di setiap musim mudik sebelumnya. Pada penjualan tahun lalu, Aris mengaku memperoleh keuntungan sekitar Rp3 juta selama dua minggu.
“Kalau yang beli,ya tidak tentu.Tapi kebanyakan pemudik yang menggunakan sepeda motor,” kata Aris saat ditemui di kawasan SPBU, Jalan Gempol Sari, Patokbeusi, Subang.
Kalau yang memakai mobil jarang karena mobil rata-rata mengambil jalur tol untuk mudik. Karena itu, Mustopa pun memberikan ruang yang luas bagi pemudik pengguna sepeda motor untuk beristirahat.
"Terutama untuk meluruskan kaki dan punggung,” ujarnya. Semacam bale-bale dari bambu disiapkannya. Selain bisa digunakan untuk makan dan minum, juga bisa untuk berselonjor.
Taman (27), seorang pedagang lain, mengatakan berjualan dengan menggelar kios dadakan memang sudah menjadi tradisi warga. Bahkan, kesempatan seperti ini sengaja dimanfaatkan dia dan istrinya untuk menambah penghasilan keluarga.
“Ya, hitung-hitung untuk cari tambahan lebih buat beli baju Lebaran ini. Kan, tidak selamanya penghasilan saya berkecukupan,” ucapnya.
Sejumlah pemudik mengaku sangat tertolong dengan munculnya warung dadakan tersebut. “Kondisinya macet terus. Jadi lebih baik berhenti terlebih dahulu, istirahat, sambil menunggu azan magrib,” kata Amin, salah seorang pemudik tujuan Magelang, Jawa Tengah.
Pemudik lain yang menggunakan sepeda motor, Yono, mengatakan bahwa warung dadakan yang berada di sepanjang jalur pantura dipilih sebagai tempat istirahat, sekadar untuk minum kopi atau makan mi instan.
“Setelah melewati kemacetan di jalan alternatif (jalur khusus sepeda motor), sekarang tinggal istirahat terlebih dahulu,” kata Yono, yang mengaku akan mudik ke Tegal, Jawa Tengah.
“Di warung berukuran sekitar 4x3 meter ini, nantinya akan berjualan mi instan baik rebus maupun goreng, berbagai minuman dingin, berbagai macam jenis rokok; dan satu yang tidak pernah lupa, es kelapa muda,” kata Nanang, warga Desa Gebang Mekar, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, kemarin.
Teriknya cuaca di pantura membuat minum segar dingin itu sangat laku. Karena itu, Nanang pun tidak pernah lupa berjualan es kelapa muda sejak empat tahun berjualan di warung dadakan. Adapun modal yang dibutuhkan sekitar Rp1 juta.
”Itu untuk membeli berbagai bahan makanan dan minuman,” katanya. Adapun kursi, terpal, dan lainnya masih menggunakan bahan yang dibeli empat tahun lalu.
Saat ditanyakan berapa pendapatan per harinya dari warung dadakan, Nanang mengaku tidak tentu.
”Tapi saya bisa dapat hingga Rp5 juta selama arus mudik dan balik. Itu bersih,” katanya. Uniknya, seusai arus mudik, Nanang akan memindahkan warungnya ke jalur balik.
"Di sisi sana masih kosong, jadi saya pindahkan saja,” katanya.
Warga lainnya, Aris Maulana, mengungkapkan hal yang sama. Menurut dia, berjualan musim mudik Lebaran sudah dilakukan selama empat kali di setiap musim mudik sebelumnya. Pada penjualan tahun lalu, Aris mengaku memperoleh keuntungan sekitar Rp3 juta selama dua minggu.
“Kalau yang beli,ya tidak tentu.Tapi kebanyakan pemudik yang menggunakan sepeda motor,” kata Aris saat ditemui di kawasan SPBU, Jalan Gempol Sari, Patokbeusi, Subang.
Kalau yang memakai mobil jarang karena mobil rata-rata mengambil jalur tol untuk mudik. Karena itu, Mustopa pun memberikan ruang yang luas bagi pemudik pengguna sepeda motor untuk beristirahat.
"Terutama untuk meluruskan kaki dan punggung,” ujarnya. Semacam bale-bale dari bambu disiapkannya. Selain bisa digunakan untuk makan dan minum, juga bisa untuk berselonjor.
Taman (27), seorang pedagang lain, mengatakan berjualan dengan menggelar kios dadakan memang sudah menjadi tradisi warga. Bahkan, kesempatan seperti ini sengaja dimanfaatkan dia dan istrinya untuk menambah penghasilan keluarga.
“Ya, hitung-hitung untuk cari tambahan lebih buat beli baju Lebaran ini. Kan, tidak selamanya penghasilan saya berkecukupan,” ucapnya.
Sejumlah pemudik mengaku sangat tertolong dengan munculnya warung dadakan tersebut. “Kondisinya macet terus. Jadi lebih baik berhenti terlebih dahulu, istirahat, sambil menunggu azan magrib,” kata Amin, salah seorang pemudik tujuan Magelang, Jawa Tengah.
Pemudik lain yang menggunakan sepeda motor, Yono, mengatakan bahwa warung dadakan yang berada di sepanjang jalur pantura dipilih sebagai tempat istirahat, sekadar untuk minum kopi atau makan mi instan.
“Setelah melewati kemacetan di jalan alternatif (jalur khusus sepeda motor), sekarang tinggal istirahat terlebih dahulu,” kata Yono, yang mengaku akan mudik ke Tegal, Jawa Tengah.
(hyk)