Lebaran di Mogadishu
Damai tanpa tembakan mortir dan peluru nyasar
Jum'at, 24 Agustus 2012 - 13:35 WIB
Damai tanpa tembakan mortir dan peluru nyasar
A
A
A
Sindonews.com - Letusan kembang api dan rentetan senapan di jalanan Mogadishu menandai kegembiraan warga yang sedang menyambut berakhirnya bulan Ramadan sekaligus memulai perayaan Idul Fitri.
Tapi, tak semua orang bersuka cita saat mendengar keriaan di jalanan itu. Salah satunya adalah Faisa Abdi Salad. Saat mendengar letusan kembang api dan senapan dari jalanan, dia langsung lari bersembunyi karena mengira kota itu sedang diserang.
Tapi, kemudian dia tersadar bahwa suara ledakan itu adalah letupan kegembiraan, bukan tanda kekerasan. Dia pun lega.
“Saya ketakutan saat mendengar suara letusan senjata itu dan saya kira Al Shabab sedang menyerang kantor polisi di dekat situ. Tapi, kemudian saya sadar kalau itu adalah peluru yang ditembakkan ke udara sebagai tanda perayaan,” papar Salad, ibu lima orang anak, kepada Los Angeles Times.
“Saya hampir menangis karena bahagia.” Bagi Salad, peringatan Idul Fitri tahun ini begitu istimewa. Karena, inilah kali pertama Mogadishu bisa merayakan hari besar umat Islam itu dengan damai dalam lebih dari 20 tahun terakhir.
Tahun lalu suara letusan senapan bukanlah suara perayaan, tapi suara perang. Saat itu milisi Al Shabab yang berafiliasi dengan Alqaeda masih menduduki sebagian besar ibu kota Somalia. Saat ini kelompok itu sudah meninggalkan Mogadishu tapi masih menguasai sebagian besar wilayah selatan Somalia dan beberapa kali menyerang kota itu.
Dukungan warga Somalia terhadap mereka pun menurun tajam. Warga Mogadishu saat ini hidup dalam damai, dengan bisnis yang kembali aktif dan orang-orang yang sebelumnya pergi ke luar negeri memilih pulang.
Senin 20 Agustus 2012, masa pemerintahan transisional selesai dan presiden baru bakal dipilih parlemen baru. Banyak warga Somalia berharap bahwa perubahan pemerintahan akan mengantarkan era baru perdamaian, tapi ada juga yang mengkhawatirkan kembalinya kekerasan yang telah membuat negara itu terpuruk di masa lalu.
Menjelang Idul Fitri, poster dan gambar-gambar memenuhi tembok-tembok dan warga Muslim merayakan hari nan suci itu dengan memberikan permen, hadiah berupa baju baru, dan mainan untuk anak-anak. Perdamaian yang dibawa Idul Fitri tahun ini juga dirasakan Fanah Abdiasiis Mohamed.
Pria berusia 32 tahun itu bangun sebelum subuh pada Minggu 19 Agustus 2012. Dia lantas mengenakan sarung kuning barunya, baju koko dan sorban merah, kemudian bergegas ke Masjid Abdurahman Bin-Owf di distrik Waberi di Mogadishu. Kemudian dia menggelar sajadah di lantai pertama masjid itu, yang tak digunakan dalam perayaan sebelumnya karena kekerasan.
“Hari ini saya sangat senang bisa salat dengan damai tanpa ketakutan terkena tembakan mortir dan peluru nyasar,” ujar dia.
“Tidak diragukan lagi, Mogadishu menghadapi era baru dan semoga Allah memberikan perdamaian dan kesejahteraan bagi kami.”
Mohamed berharap, perayaan Idul Fitri tahun depan di Mogadishu bisa lebih damai lagi sehingga warga bisa begadang larut malam untuk merayakannya.
Putra Mohamed, Abdulkadir (6), dengan bangga memamerkan jins barunya dan lari ke luar rumah untuk bermain bersama teman-temannya, yang juga diberikan hadiah yang sama seperti dia, mainan senjata baru.
Tapi, tak semua orang bersuka cita saat mendengar keriaan di jalanan itu. Salah satunya adalah Faisa Abdi Salad. Saat mendengar letusan kembang api dan senapan dari jalanan, dia langsung lari bersembunyi karena mengira kota itu sedang diserang.
Tapi, kemudian dia tersadar bahwa suara ledakan itu adalah letupan kegembiraan, bukan tanda kekerasan. Dia pun lega.
“Saya ketakutan saat mendengar suara letusan senjata itu dan saya kira Al Shabab sedang menyerang kantor polisi di dekat situ. Tapi, kemudian saya sadar kalau itu adalah peluru yang ditembakkan ke udara sebagai tanda perayaan,” papar Salad, ibu lima orang anak, kepada Los Angeles Times.
“Saya hampir menangis karena bahagia.” Bagi Salad, peringatan Idul Fitri tahun ini begitu istimewa. Karena, inilah kali pertama Mogadishu bisa merayakan hari besar umat Islam itu dengan damai dalam lebih dari 20 tahun terakhir.
Tahun lalu suara letusan senapan bukanlah suara perayaan, tapi suara perang. Saat itu milisi Al Shabab yang berafiliasi dengan Alqaeda masih menduduki sebagian besar ibu kota Somalia. Saat ini kelompok itu sudah meninggalkan Mogadishu tapi masih menguasai sebagian besar wilayah selatan Somalia dan beberapa kali menyerang kota itu.
Dukungan warga Somalia terhadap mereka pun menurun tajam. Warga Mogadishu saat ini hidup dalam damai, dengan bisnis yang kembali aktif dan orang-orang yang sebelumnya pergi ke luar negeri memilih pulang.
Senin 20 Agustus 2012, masa pemerintahan transisional selesai dan presiden baru bakal dipilih parlemen baru. Banyak warga Somalia berharap bahwa perubahan pemerintahan akan mengantarkan era baru perdamaian, tapi ada juga yang mengkhawatirkan kembalinya kekerasan yang telah membuat negara itu terpuruk di masa lalu.
Menjelang Idul Fitri, poster dan gambar-gambar memenuhi tembok-tembok dan warga Muslim merayakan hari nan suci itu dengan memberikan permen, hadiah berupa baju baru, dan mainan untuk anak-anak. Perdamaian yang dibawa Idul Fitri tahun ini juga dirasakan Fanah Abdiasiis Mohamed.
Pria berusia 32 tahun itu bangun sebelum subuh pada Minggu 19 Agustus 2012. Dia lantas mengenakan sarung kuning barunya, baju koko dan sorban merah, kemudian bergegas ke Masjid Abdurahman Bin-Owf di distrik Waberi di Mogadishu. Kemudian dia menggelar sajadah di lantai pertama masjid itu, yang tak digunakan dalam perayaan sebelumnya karena kekerasan.
“Hari ini saya sangat senang bisa salat dengan damai tanpa ketakutan terkena tembakan mortir dan peluru nyasar,” ujar dia.
“Tidak diragukan lagi, Mogadishu menghadapi era baru dan semoga Allah memberikan perdamaian dan kesejahteraan bagi kami.”
Mohamed berharap, perayaan Idul Fitri tahun depan di Mogadishu bisa lebih damai lagi sehingga warga bisa begadang larut malam untuk merayakannya.
Putra Mohamed, Abdulkadir (6), dengan bangga memamerkan jins barunya dan lari ke luar rumah untuk bermain bersama teman-temannya, yang juga diberikan hadiah yang sama seperti dia, mainan senjata baru.
(hyk)
Lihat Juga :