Tarif belum naik, pemudik serbu Terminal Kalideres

Tarif belum naik, pemudik serbu Terminal Kalideres
A
A
A
Sindonews.com - Memasuki H-10 Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriah, sejumlah pemudik di Terminal Kalideres terus berdatangan. Hal tersebut dilakukan penumpang untuk menghindari penumpukan dan kenaikan tarif bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).
"Saya sengaja cuti kerja sejak Sabtu (26 Juli) lalu, dan pulang sekarang supaya tidak berjubelan nanti," kata Ashrudin (23) di Terminal Kalideres kepada Koran Sindo, Senin 30 Juli 2013.
Pria asal Cilacap yang bekerja di wilayah Daan Mogot tersebut mengaku masih membeli harga tiket yang berbeda Rp5.000 dari tahun lalu yakni sebesar Rp75.000. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kenaikan Rp5.000 tersebut disesuaikan dengan kenaikan BBM beberapa hari lalu.
Menurut Ashrudin, kenaikan tersebut terbilang wajar. Pasalnya, jika dibandingkan tahun lalu, harga tarif bus akan naik sekitar 20 persen setiap memasuki H-7, bahkan H-3 bisa jauh meningkat.
"Tahun lalu saya beli tiket seharga Rp75.000, sekarang Rp80.000 dengan naik Sinar Jaya. Bahkan memasuki H-7 harga tiket ke Cilacap bisa mencapai Rp100.000 lebih," ungkap pria yang memiliki pengalaman tahun lalu mudik pada H-7 dengan harga tiket naik 20 persen dari hari biasa.
Senada dengan Ashrudin, Imam Nur Hidayat (43), yang mudik bersama istri dan kedua anaknya ke Banjarnegara, Jawa Tengah itu mengaku mudik dari jauh-jauh hari dengan alasan untuk menghindari kepadatan penumpang saat berada dalam terminal dan bus yang biasanya terjadi saat H-7 hingga hari H.
"Saya mending cuti sekarang bareng keluarga, kasian anak-anak kalau nunggu cuti bersama pada Jumat (2 Agustus) yang diperkirakan akan terjadi penumpukan penumpang," ungkapnya yang sedang menunggu pemberangkatan bus Ekonomi Sinar Jaya.
Imam mengatak, dirinya bahkan hingga mengorbankan sekolah putra pertamanya yang masih duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD) demi menghindari kepadatan penumpang tersebut.
Adapun tiket yang dibeli dirinya, lanjut Imam dirinya membeli seharga Rp100.000. Menurutnya, harga tersebut masih dalam keadaan normal.
"Selain menghindari penumpukan penumpang, saya juga menghindari kenaikan tarif. Bayangkan jika hari biasa dan H-7 yang rata-rata naik Rp20.000-25000 itu dikali empat kepala, kan lumayan buat jajan dan makan kalau saya mudik sekarang," jelasnya.
Sujiyati (38), karyawan loket PO Sinar Jaya, mengakui belum adanya kenaikan tarif ekonomi dan Eksekutif. Menurutnya, tarif bus akan naik saat H-7.
"Kenaikan tarif akan diumumkan dari PO pusat sehari sebelum kenaikan," ungkapnya.
Ia memaparkan, sejak Sabtu 26 Juli 2013 hingga saat ini jumlah penumpang Sinar Jaya mencapai 400-500 penumpang. "Ini belum seberapa, kami baru menurunkan 9-11 armada bus saja. Untuk penambahan armada kami masih menunggu info dari pusat," ujarnya.
Meskipun uji kelaikan bus mudik baru dilakukan pada H-7 oleh oihak terminal, Sopir Bus AKAP Laju Prima tidak khawatir untuk mengangkut penumpang mudik. Pasalnya saat ini setiap PO sudah memiliki persyaratan sendiri mengenai kelaikan armada bus yang akan beroperasi.
"Kami kalau nggak layak ya ga boleh keluar, begitu juga dengan sopir, disana di tes semua," kata. David Azhari (40).
Pria yang sudah membawa bus selama 4 itu mengaku tidak ada perubahan penumpang meskipun tarif sekarang naik jelang kenaikan bbm beberapa waktu lalu.
"Kenaikan sekitar Rp5.000. Untuk ke Pekalongan ekomoni Laju Utama saat ini Rp50.000, sedangkan H-7 bisa mencapai Rp75.000. Sementara untuk Eksekuti saat ini hanya Rp75.000, H-7 bisa Rp130.000," ungkap pria asal Pekalongan, Jawa Tengah.
"Saya sengaja cuti kerja sejak Sabtu (26 Juli) lalu, dan pulang sekarang supaya tidak berjubelan nanti," kata Ashrudin (23) di Terminal Kalideres kepada Koran Sindo, Senin 30 Juli 2013.
Pria asal Cilacap yang bekerja di wilayah Daan Mogot tersebut mengaku masih membeli harga tiket yang berbeda Rp5.000 dari tahun lalu yakni sebesar Rp75.000. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kenaikan Rp5.000 tersebut disesuaikan dengan kenaikan BBM beberapa hari lalu.
Menurut Ashrudin, kenaikan tersebut terbilang wajar. Pasalnya, jika dibandingkan tahun lalu, harga tarif bus akan naik sekitar 20 persen setiap memasuki H-7, bahkan H-3 bisa jauh meningkat.
"Tahun lalu saya beli tiket seharga Rp75.000, sekarang Rp80.000 dengan naik Sinar Jaya. Bahkan memasuki H-7 harga tiket ke Cilacap bisa mencapai Rp100.000 lebih," ungkap pria yang memiliki pengalaman tahun lalu mudik pada H-7 dengan harga tiket naik 20 persen dari hari biasa.
Senada dengan Ashrudin, Imam Nur Hidayat (43), yang mudik bersama istri dan kedua anaknya ke Banjarnegara, Jawa Tengah itu mengaku mudik dari jauh-jauh hari dengan alasan untuk menghindari kepadatan penumpang saat berada dalam terminal dan bus yang biasanya terjadi saat H-7 hingga hari H.
"Saya mending cuti sekarang bareng keluarga, kasian anak-anak kalau nunggu cuti bersama pada Jumat (2 Agustus) yang diperkirakan akan terjadi penumpukan penumpang," ungkapnya yang sedang menunggu pemberangkatan bus Ekonomi Sinar Jaya.
Imam mengatak, dirinya bahkan hingga mengorbankan sekolah putra pertamanya yang masih duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD) demi menghindari kepadatan penumpang tersebut.
Adapun tiket yang dibeli dirinya, lanjut Imam dirinya membeli seharga Rp100.000. Menurutnya, harga tersebut masih dalam keadaan normal.
"Selain menghindari penumpukan penumpang, saya juga menghindari kenaikan tarif. Bayangkan jika hari biasa dan H-7 yang rata-rata naik Rp20.000-25000 itu dikali empat kepala, kan lumayan buat jajan dan makan kalau saya mudik sekarang," jelasnya.
Sujiyati (38), karyawan loket PO Sinar Jaya, mengakui belum adanya kenaikan tarif ekonomi dan Eksekutif. Menurutnya, tarif bus akan naik saat H-7.
"Kenaikan tarif akan diumumkan dari PO pusat sehari sebelum kenaikan," ungkapnya.
Ia memaparkan, sejak Sabtu 26 Juli 2013 hingga saat ini jumlah penumpang Sinar Jaya mencapai 400-500 penumpang. "Ini belum seberapa, kami baru menurunkan 9-11 armada bus saja. Untuk penambahan armada kami masih menunggu info dari pusat," ujarnya.
Meskipun uji kelaikan bus mudik baru dilakukan pada H-7 oleh oihak terminal, Sopir Bus AKAP Laju Prima tidak khawatir untuk mengangkut penumpang mudik. Pasalnya saat ini setiap PO sudah memiliki persyaratan sendiri mengenai kelaikan armada bus yang akan beroperasi.
"Kami kalau nggak layak ya ga boleh keluar, begitu juga dengan sopir, disana di tes semua," kata. David Azhari (40).
Pria yang sudah membawa bus selama 4 itu mengaku tidak ada perubahan penumpang meskipun tarif sekarang naik jelang kenaikan bbm beberapa waktu lalu.
"Kenaikan sekitar Rp5.000. Untuk ke Pekalongan ekomoni Laju Utama saat ini Rp50.000, sedangkan H-7 bisa mencapai Rp75.000. Sementara untuk Eksekuti saat ini hanya Rp75.000, H-7 bisa Rp130.000," ungkap pria asal Pekalongan, Jawa Tengah.
(mhd)