Masjid Patok Negoro Plosokuning

Tetap lestarikan tradisi Salawat Jawa

loading...
Tetap lestarikan tradisi Salawat Jawa
Tetap lestarikan tradisi Salawat Jawa
Sindonews.com - Suasana sepi terasa saat memasuki gapura kompleks Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman, kemarin siang. Suasana sepi makin terasa saat memasuki masjid.

Maklum saja, dari pagi hingga menjelang salat Zuhur di masjid ini memang tak ada kegiatan. Masjid ini baru ramai ketika salat Zuhur dan Asar. Masjid semakin ramai menjelang sore atau menjelang buka puasa hingga selesai Tarawih. Sebab, berbagai kegiatan dilakukan untuk menyemarakkan masjid, di antaranya mengaji dan belajar membaca Quran bagi anak-anak di sekitar masjid menjelang Magrib.

Selain itu juga akan terdengar lantunan salawat (pujian). Salawat ini tidak menggunakan bahasa Arab, melainkan menggunakan bahasa Jawa. Lantunan pujian ini berakhir pada waktu salat Magrib tiba. Seperti halnya masjid lainnya, selepas buka puasa dan salat Magrib, kegiatan dilanjutkan dengan salat Isya dan Tarawih. Setelah itu dilanjutkan dengan tadarusan hingga tengah malam.

Selepas tadarusan, khususnya bapak-bapak, tidak langsung pulang, mereka kembali melantunkan pujian dalam bahasa Jawa. Pujian itu akan berakhir hingga pukul 02.00 WIB. “Ya seperti inilah kegiatan kami saat bulan puasa, selain kegiatan keagamaan seperti umumnya,” kata salah satu takmir masjid Patok Negoro, Plosokuning, Supriyadi, 72.

Selain tradisi pujian dalam bahasa Jawa, ciri khas lain Masjid Pathok Negoro Plosokuning, yakni azan dua kali pada saat salat Jumat dan khotbah menggunakan bahasa Jawa. Pada momen tertentu juga dilaksanakan kegiatan keagamaan yang diikuti keluarga keraton. Misalnya tradisi Bukhorenan, yakni mengkaji ajaran dan tuntunan nabi dengan membaca dan memahami hadis yang terdapat dalam Sahih Bukhari.

Masjid Plosokuning sendiri berdiri di atas tanah Kasultanan seluas 2.500 meter persegi. Bangunan masjid pada saat didirikan seluas 288 m2, dan setelah pengembangan menjadi 328 m2. Masjid yang didirikan pada masa pemerintahan Sri Sultan HB I 1723-1819 ini awalnya merupakan benteng spiritual, dan pada masa perang kemerdekaan menjadi benteng pertahanan fisik serta tempat menghimpun kekuatan.



Karena memiliki nilai sejarah dan masih asli, masjid ini ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya. Ciri lain yang terdapat di masjid ini adalah adanya pohon sawo kecik di halaman masjid, kolam yang mengelilingi masjid, serta serambi masjid yang berbentuk joglo. Kemudian di dalam masjid ada mimbar tua yang terbuat dari kayu jati dengan ornamen pada pegangan mimbar.

Mimbar ini juga dilengkapi sebuah tongkat yang dipakai khatib pada saat memberikan khotbah. Selain itu, pintu gerbangnya berundak 14 yang terbagi dalam tiga bagian, yakni undakan pertama berjumlah tiga, kedua lima, dan ketiga berjumlah enam. Undakan sendiri memiliki arti, tiga undakan pertama berarti Islam itu terdiri dari tiga elemen, yakni iman, Islam, dan ihsan.

Lima undakan kedua menunjukkan bahwa rukun Islam itu ada, dan enam undakan ketiga menunjukkan bahwa rukun iman ada enam. Selain itu, dalam kompleks masjid juga terdapat makam imam pertama, yakni Kyai Mustafa. “Keberadaan makam di dekat Masjid ini juga memiliki nilai historis dan filosofis tersendiri bagi umat Islam, yakni ketika kita datang ke masjid untuk beribadah, sekaligus mengingat kematian dan alam akhirat” papar Supriyadi.

Selain mempertahankan tradisi, baik dalam hal keagamaan dan bangunan, pendidikan keagamaan dan umum juga menjadi perhatian, dari takmir masjid dengan mendirikan taman kanakkanak (TK) yang diberi nama Sulthoni. Seiring perkembangan zaman, pendidikan tak hanya sebatas TK, namun juga taman bermain dan pendidikan anak usia dini (PAUD).

Untuk kegiatan belajar mengajar memanfaatkan gedung yang dulunya sebagai kantor takmir yang berada di sisi utara timur masjid tersebut. “Kami harapkan dengan penanaman mental spiritual, anak-anak nantinya memiliki budi pekerti dan karakter yang luhur,” tandasnya.
(nfl)
cover top ayah
وَّاسۡتَغۡفِرِ اللّٰهَ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوۡرًا رَّحِيۡمًا‌
Mohonkanlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

(QS. An-Nisa:106)
cover bottom ayah
preload video