Memaknai Keberkahan Ramadan (18): Mendorong Manusia untuk Berbuat Ihsan
Selasa, 18 April 2023 - 06:05 WIB
Imam Shamsi Ali (kanan), Dai yang juga Direktur Jamaica Muslim Center dan Presiden Nusantara Foundation. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Melemahnya spiritualitas kehidupan manusia dan menguatnya tendensi material (fisikal) kehidupan menjadikan manusia dalam esensi kemanusiaannya semakin mengecil. Salah satu indikasi itu adalah semakin minimnya sense of compassion (rasa kasih sayang) di antara manusia.
Minimnya rasa kasih sayang itu menjadikan manusia kurang peduli lagi dengan sesama. Kepedulian dengan sesama ini biasa ditandai oleh dorongan atau motivasi untuk berbuat baik (being kind) kepada sesama.
Dalam bahasa agama "kindness" atau kebaikan itu diekspresikan dengan beberapa kata. Ada kata al-birru seperti pada ayat: "Bukanlah kebaikan itu sekadar menghadapkan wajah ke arah Timur atau Barat". Juga dengan kata al-Khair seperti dalam beberapa ayat Al-Qur'an juga.
Namun kata yang lebih dominan dan populer adalah kata al-ihsan. Kata yang disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur'an, seperti "wa bil waalidain ihsana". Dan secara khusus disebutkan dalam hadits Jibril: "wa maa al-ihsaan…dst."
Kata ihsan (الاحسان) yang umumnya diterjemahkan dengan kebaikan yang diambil dari kata "ahsan-yuhsinu-ihsaan" sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ihsan juga mengandung makna beauty (husnun) atau keindahan dan kecantikan. Dengan demikian Al-ihsan itu tidak saja melakukan kebaikan. Tapi melakukan kebaikan dengan penuh keindahan, baik secara batin maupun lahir.
Dari pemahaman yang lebih dalam dari kata ihsan itu kita diingatkan akan dua dimensi ihsan. Yaitu dimensi vertikal dan dimensi horizontal.
Dimensi vertikal itulah yang diekspresikan dalam Hadits Jibril: "Hendaklah engkau menyembah Allah seolah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak sampai ke tingkat penglihatan (batin) itu, yakinlah jika Allah melihatmu."
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Melemahnya spiritualitas kehidupan manusia dan menguatnya tendensi material (fisikal) kehidupan menjadikan manusia dalam esensi kemanusiaannya semakin mengecil. Salah satu indikasi itu adalah semakin minimnya sense of compassion (rasa kasih sayang) di antara manusia.
Minimnya rasa kasih sayang itu menjadikan manusia kurang peduli lagi dengan sesama. Kepedulian dengan sesama ini biasa ditandai oleh dorongan atau motivasi untuk berbuat baik (being kind) kepada sesama.
Dalam bahasa agama "kindness" atau kebaikan itu diekspresikan dengan beberapa kata. Ada kata al-birru seperti pada ayat: "Bukanlah kebaikan itu sekadar menghadapkan wajah ke arah Timur atau Barat". Juga dengan kata al-Khair seperti dalam beberapa ayat Al-Qur'an juga.
Namun kata yang lebih dominan dan populer adalah kata al-ihsan. Kata yang disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur'an, seperti "wa bil waalidain ihsana". Dan secara khusus disebutkan dalam hadits Jibril: "wa maa al-ihsaan…dst."
Kata ihsan (الاحسان) yang umumnya diterjemahkan dengan kebaikan yang diambil dari kata "ahsan-yuhsinu-ihsaan" sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ihsan juga mengandung makna beauty (husnun) atau keindahan dan kecantikan. Dengan demikian Al-ihsan itu tidak saja melakukan kebaikan. Tapi melakukan kebaikan dengan penuh keindahan, baik secara batin maupun lahir.
Dari pemahaman yang lebih dalam dari kata ihsan itu kita diingatkan akan dua dimensi ihsan. Yaitu dimensi vertikal dan dimensi horizontal.
Dimensi vertikal itulah yang diekspresikan dalam Hadits Jibril: "Hendaklah engkau menyembah Allah seolah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak sampai ke tingkat penglihatan (batin) itu, yakinlah jika Allah melihatmu."
Lihat Juga :