Sifat dan Karakteristik Ibad ar-Rahman (2): Berjalan di Muka Bumi dengan Rendah Hati
Rabu, 23 Agustus 2023 - 13:50 WIB
Imam Shamsi Ali (kanan), Dai yang juga Presiden Nusantara Foundation USA. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation USA
Surat Al-Furqan kemudian melanjutkan deskripsi ibaad ar-Rahman (hamba-hamba Yang Maha Penyayang). Selain menegaskan sifat ubuudiyah (وعباد) mereka juga dihubungkan dengan sifatNya yang mulia: الرحمن (Yang Maha Penyayang). Sebuah korelasi yang menegaskan bahwa hamba-hamba yang memiliki jiwa ubudiyah itu memiliki hati yang rahmah. Karena pastinya mereka berusaha untuk menauladani sifat-sifat mulia Sang Rahman: تخلقوا باخلاق الله (tirulah akhlak Allah).
Sifat atau karakteristik yang kedua ibaad ar-Rahman adalah الذين يمشون علي الارض هونا (mereka yang berjalan di muka bumi ini dengan rendah hati).
Rendah hati atau tawadhu' adalah sifat yang mahmudah (terpuji) dan mulia. Bahkan sesungguhnya kibriya atau perasaan lebih besar, hebat, kuat yang disebut kibr atau keangkuhan itu hanya milik Dia Yang memiliki segalanya tanpa batas (Allah SWT). Maka ketika seorang hamba merasa memilikinya maka seolah dia sedang merebut sesuatu yang hanya miliknya sang Pencipta. Maka siapapun yang merasakan itu di hatinya walau sebesar dzat (atom) tidak akan masuk ke dalam suurga-Nya.
Rendah hati adalah keadaan batin yang merasakan keterbatasan dan kelemahan, serta mengakui adanya Dia yang lebih dan tiada batas dalam segalanya. Rendah hati bukan perasaan hina, minder dan lemah. Tapi lebih kepada sebuah kesadaran akan keterbatasan yang dimiliki. Tawadhu tidak harus menjadikan seseorang kehilangan rasa 'izzah (mulia) dan rasa percaya diri (self confidence).
Dalam defenisi agama keangkuhan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Keduanya saling terkait. Penolakan kepada kebenaran itu yang seringkali menjadikan seseorang mudah merendahkan orang lain. Kebenaran akan Allah yang al-a'laa (Maha Tinggi) dan Al-Kabiir wal mukabbir (Besar dan menguasasi kebesaran) pastinya menjadikannya rendah hati kepada Dia dan sesamanya.
Secara umum ciri ibaad ar-Rahman yang kedua ini ada pada pengakuan bahwa kebesaran dan Kesempurnaan hanya milik Allah semata. Sehingga apapun kelebihan yang ada pada diri kita semua itu bersumber dan merupakan karunia dari Al-Mu'thi (Yang Maha Pemberi). Kekuasaan, kekayaan, kehormatan, kekuatan, kepopuleran dan seterusnya, semuanya adalah titipan yang sementara secara alami. Dan karenanya tidak perlu menjadikan seseorang terbang melampaui batas kemanusiaannya yang terbatas.
Kerendahhatian hamba-hamba ar-Rahman kepada Sang Khalik dalam bentuk ketaatan dan pengabdian. Melaksanakan dengan segala kesungguhan dan keridoan hati segala perintah-Nya. Dan menjauhi dan menghindari dengan segala rasa takut dan malu segala yang dilarang-Nya.
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation USA
Surat Al-Furqan kemudian melanjutkan deskripsi ibaad ar-Rahman (hamba-hamba Yang Maha Penyayang). Selain menegaskan sifat ubuudiyah (وعباد) mereka juga dihubungkan dengan sifatNya yang mulia: الرحمن (Yang Maha Penyayang). Sebuah korelasi yang menegaskan bahwa hamba-hamba yang memiliki jiwa ubudiyah itu memiliki hati yang rahmah. Karena pastinya mereka berusaha untuk menauladani sifat-sifat mulia Sang Rahman: تخلقوا باخلاق الله (tirulah akhlak Allah).
Sifat atau karakteristik yang kedua ibaad ar-Rahman adalah الذين يمشون علي الارض هونا (mereka yang berjalan di muka bumi ini dengan rendah hati).
Rendah hati atau tawadhu' adalah sifat yang mahmudah (terpuji) dan mulia. Bahkan sesungguhnya kibriya atau perasaan lebih besar, hebat, kuat yang disebut kibr atau keangkuhan itu hanya milik Dia Yang memiliki segalanya tanpa batas (Allah SWT). Maka ketika seorang hamba merasa memilikinya maka seolah dia sedang merebut sesuatu yang hanya miliknya sang Pencipta. Maka siapapun yang merasakan itu di hatinya walau sebesar dzat (atom) tidak akan masuk ke dalam suurga-Nya.
Rendah hati adalah keadaan batin yang merasakan keterbatasan dan kelemahan, serta mengakui adanya Dia yang lebih dan tiada batas dalam segalanya. Rendah hati bukan perasaan hina, minder dan lemah. Tapi lebih kepada sebuah kesadaran akan keterbatasan yang dimiliki. Tawadhu tidak harus menjadikan seseorang kehilangan rasa 'izzah (mulia) dan rasa percaya diri (self confidence).
Dalam defenisi agama keangkuhan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Keduanya saling terkait. Penolakan kepada kebenaran itu yang seringkali menjadikan seseorang mudah merendahkan orang lain. Kebenaran akan Allah yang al-a'laa (Maha Tinggi) dan Al-Kabiir wal mukabbir (Besar dan menguasasi kebesaran) pastinya menjadikannya rendah hati kepada Dia dan sesamanya.
Secara umum ciri ibaad ar-Rahman yang kedua ini ada pada pengakuan bahwa kebesaran dan Kesempurnaan hanya milik Allah semata. Sehingga apapun kelebihan yang ada pada diri kita semua itu bersumber dan merupakan karunia dari Al-Mu'thi (Yang Maha Pemberi). Kekuasaan, kekayaan, kehormatan, kekuatan, kepopuleran dan seterusnya, semuanya adalah titipan yang sementara secara alami. Dan karenanya tidak perlu menjadikan seseorang terbang melampaui batas kemanusiaannya yang terbatas.
Kerendahhatian hamba-hamba ar-Rahman kepada Sang Khalik dalam bentuk ketaatan dan pengabdian. Melaksanakan dengan segala kesungguhan dan keridoan hati segala perintah-Nya. Dan menjauhi dan menghindari dengan segala rasa takut dan malu segala yang dilarang-Nya.
Lihat Juga :