Mengenal Abdullah, Ayah Rasulullah SAW yang Hampir Disembelih

Kamis, 05 Oktober 2023 - 21:14 WIB
Asal-usul Abdullah (ayah Rasulullah SAW) dijuluki adz-Dzabih (yang disembelih) berawal dari nazar sang Kakek Abdul Mutholib. Foto ilustrasi Makkah zaman dulu/ist
Abdullah adalah laki-laki sangat tampan di kalangan kaum Quraisy Makkah. Beliau dijuluki "adz-Dzabih" atau yang disembelih. Bagaimana kisahnya? Simak ulasannya berikut dinukil dari Kitab Syarah Sulam at-Taufik karya Syaikh Nawawi Al-Bantani.

Dikisahkan, Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad ﷺ) yang juga ayah Abdullah pernah bernadzar jika ia memiliki anak 10 (sepuluh) dan menjadi para penerus atau penolongnya, maka ia akan menyembelih salah satu dari mereka. Ketika Allah memberinya 10 anak, Abdul Mutholib lupa dengan nadzarnya.

Pada suatu malam di dekat Ka'bah, Abdul Mutholib tidur dan memimpikan sesosok yang berkata kepadanya, "Hai Abdul Mutholib. Penuhilah nadzarmu." Ia terbangun kaget dan bergemetar karena mimpinya. Tak lama kemudian, ia memerintahkan untuk menyembelih seekor kambing gibas dan mensedekahkannya kepada para fakir dan miskin.

Suatu ketika, ia tidur dan memimpikan sesosok yang berkata kepadanya lagi, "Lakukanlah ritual ibadah yang lebih besar daripada hanya sekadar menyembelih gibas." Kemudian ia menyembelih sapi jantan.

Ia tidur lagi dan memimpikan sesosok yang berkata kepadanya lagi, "Lakukanlah ritual ibadah yang lebih besar daripada hanya menyembelih sapi." Tak lama kemudian, ia menyembelih unta. Dalam tidur berikutnya, ia bermimpi kalau ia diseru, "Lakukanlah ibadah yang lebih besar."

Dalam mimpinya, Abdul Mutholib bertanya, "Apa itu?" Dijawabnya, "Sembelihlah salah satu dari anak-anakmu seperti yang pernah kamu nadzari." Karena mimpi itu, Abdul Mutholib sangat bersedih. ia mengumpulkan semua anak-anaknya dan memberitahu mereka tentang nadzarnya dan mengajak mereka untuk memenuhi nadzar itu.

Mereka berkata, "Kami patuh kepadamu, Ayah. Manakah salah satu di antara kami yang hendak anda sembelih maka kami bersedia." Abdul Mutholib akhirnya mengundi secara acak. Tiba-tiba undian jatuh pada Sayyid Abdullah (ayah Nabi), padahal ia adalah anak yang paling dicintainya.

Setelah itu, ia memegang tangan Abdullah dan bersiap-siap menyembelihnya. Ketika ia telah meletakkan pisau di atas leher Abdullah, orang-orang Quraisy mendatanginya dan bertanya, "Apa yang ingin kamu lakukan?" Ia menjawab, "Aku akan memenuhi nadzarku." Mereka mencegah dan melarangnya dan berkata kepadanya, "Jika kamu menyembelih Abdullah maka orang-orang akan bersedih. Cobalah untuk menemui perempuan si tukang ramal, barangkali ia akan memberikan solusi dan jalan keluarnya."

Mendengar saran itu, Abdul Mutholib segera menemui si tukang ramal di tanah Khoibar. Setelah berhasil menemuinya, Abdul Mutholib menceritakan kisah tentang nadzarnya. Si tukang ramal bertanya, "Berapa denda untuk satu nyawa menurut peraturan yang berlaku di masyarakatmu." Abdul Mutholib menjawab: "10 ekor unta."

Si tukang ramal berkata, "Sekarang, pulanglah ke negerimu dan lakukan undian antara Abdullah dan 10 unta. Jika undian yang keluar adalah Abdullah maka tambahkanlah 10 unta lagi, kemudian undi lagi dan seterusnya sampai kamu rela dengan keputusan Tuhanmu kalau Abdullah memang harus dikorbankan."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!