Iman kepada Malaikat Mencegah Tindak Korupsi, Begini Penjelasannya
Senin, 13 November 2023 - 05:52 WIB
Pengaruh dari beriman kepada para malaikat adalah ia akan melahirkan sifat istikamah pada diri seorang beriman atas perintah Allah SWT. Ilustrasi: Ist
Orang yang beriman semestinya akan mengindari diri dari perbuatan kotor seperti korupsi . Pertama, beriman kepada Allah SWT memiliki urgensitas dan pengaruh kuat dan besar bagi kehidupan manusia, dan bagi penanggulangan korupsi, sebab beriman kepada Allah SWT akan memberikan bekas dan pengaruh dalam perilaku seorang muslim .
Ali Fikri Noor dalam desertasinya berjudul "Penanggulangan Korupsi melalui Pendekatan Teologis Berbasis al-Quran" memaparkan kedua, yakni iman kepada Malaikat . "Pengaruh dari beriman kepada para malaikat adalah ia akan melahirkan sifat istikamah pada diri seorang beriman atas perintah Allah SWT," tulisnya.
Baca juga: Rukun Iman dan Rukun Islam Sarana Menuju Kehidupan Akhirat Lebih Baik
Seseorang yang di dalam hatinya merasakan keberadaan para malaikat, dan beriman bahwa mereka itu selalu mencatat dan mengawasinya atas seluruh perilaku, dan ucapannya, para malaikat itu selalu menyaksikan apa saja yang keluar dari pribadi seorang muslim.
Itu sebabnya dipastikan ia akan merasa malu kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya. Dengan begitu orang tersebut tidak akan melanggar perintah-Nya dan bermaksiat kepada-Nya, baik di dalam kesendirian ataupun keramaian.
"Hal ini dikarenakan keimanannya bahwa setiap perilaku dan ucapannya itu akan selalu diawasi, dicatat dan disaksikan oleh-Nya dan oleh malaikat Nya," ujarnya.
Dalil yang melandasi hal ini adalah firman-Nya:
Mā yalfiẓu ming qaulin illā ladaihi raqībun 'atīd
Artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. ( QS Qaf/50 :18).
Baca juga: Korupsi dan Menyuap adalah Perbuatan Zalim, Diancam dengan Azab yang Sangat Pedih
Pengertian lafaz yang keluar dari mulut seorang manusia, di mana malaikat turut mencatatnya- sebagaimana dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dari riwayat Ibnu Abbas - adalah: “ditulis setiap ucapan yang dibicarakan seseorang dari ucapan kebaikan atau keburukan, sehingga ucapannya itu seperti: “aku telah makan”, “telah minum”, “telah pergi”, “telah datang”, “telah melihat”.
Menurut Ibnu Katsir, juga ditulis oleh malaikat, sampai jika datang hari Kamis, maka diperlihatkan oleh Allah SWT ucapan seseorang manusia dan perbuatannya itu, lalu ditetapkan dari orang tersebut semua yang baik atau yang buruk, dan dibuang yang selainnya.
Ali Fikri Noor dalam desertasinya berjudul "Penanggulangan Korupsi melalui Pendekatan Teologis Berbasis al-Quran" memaparkan kedua, yakni iman kepada Malaikat . "Pengaruh dari beriman kepada para malaikat adalah ia akan melahirkan sifat istikamah pada diri seorang beriman atas perintah Allah SWT," tulisnya.
Baca juga: Rukun Iman dan Rukun Islam Sarana Menuju Kehidupan Akhirat Lebih Baik
Seseorang yang di dalam hatinya merasakan keberadaan para malaikat, dan beriman bahwa mereka itu selalu mencatat dan mengawasinya atas seluruh perilaku, dan ucapannya, para malaikat itu selalu menyaksikan apa saja yang keluar dari pribadi seorang muslim.
Itu sebabnya dipastikan ia akan merasa malu kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya. Dengan begitu orang tersebut tidak akan melanggar perintah-Nya dan bermaksiat kepada-Nya, baik di dalam kesendirian ataupun keramaian.
"Hal ini dikarenakan keimanannya bahwa setiap perilaku dan ucapannya itu akan selalu diawasi, dicatat dan disaksikan oleh-Nya dan oleh malaikat Nya," ujarnya.
Dalil yang melandasi hal ini adalah firman-Nya:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Mā yalfiẓu ming qaulin illā ladaihi raqībun 'atīd
Artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. ( QS Qaf/50 :18).
Baca juga: Korupsi dan Menyuap adalah Perbuatan Zalim, Diancam dengan Azab yang Sangat Pedih
Pengertian lafaz yang keluar dari mulut seorang manusia, di mana malaikat turut mencatatnya- sebagaimana dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dari riwayat Ibnu Abbas - adalah: “ditulis setiap ucapan yang dibicarakan seseorang dari ucapan kebaikan atau keburukan, sehingga ucapannya itu seperti: “aku telah makan”, “telah minum”, “telah pergi”, “telah datang”, “telah melihat”.
Menurut Ibnu Katsir, juga ditulis oleh malaikat, sampai jika datang hari Kamis, maka diperlihatkan oleh Allah SWT ucapan seseorang manusia dan perbuatannya itu, lalu ditetapkan dari orang tersebut semua yang baik atau yang buruk, dan dibuang yang selainnya.
Lihat Juga :