Kisah Isra Mikraj, di Manakah Sidratul Muntaha?
Minggu, 28 Januari 2024 - 11:20 WIB
Isra Mikraj, yakni peristiwa tentang perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian berakhir di Sidratul Muntaha hanya dalam semalam. Foto ilustrasi/SINDOnews
Peristiwa penting di bulan Rajab adalah Isra Mikraj , yakni peristiwa tentang perjalanan agung Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina), kemudian dari Masjidil Aqsa berakhir di Sidratul Muntaha hanya dalam waktu satu malam.
Lantas yang menjadi pertanyaan, di manakah letak Sidratul Muntaha ? Dan seperti apakah Sidratul Muntaha ? Secara etimologi "Sidrah" bermakna daun, sedangkan "Muntaha" bermakna puncak atau penghabisan. Secara istilah Sidrah Al-Muntaha diibaratkan semacam stasiun akhir yang menjadi tujuan akhir perjalanan Mikraj Nabi.
Hal tersebut diungkapkan Nabi dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud: "Perjalananku berhenti di Sidratul Muntaha."
Dari Anas bin Malik, dari Malik bin Sha'sha'ah, dari Nabi Muhammad ﷺ : "Kemudian aku dinaikkan ke Sidratul Muntaha". Lalu Nabi mengisahkan: "Bahwasanya daunnya seperti telinga gajah dan bahwa buahnya seperti bejana batu". Hadits ini dikeluarkan dalam ash-Shahihain dari Hadits Ibnu Abi Arubah. Hadits riwayat Al-Baihaqi. Asal hadits ini ada pada riwayat Al-Bukhari 3207 dan Muslim 164.
Ketika Rasulullah SAW diangkat ke Sidratul Muntaha , beliau diselimuti awan yang berwarna-warni. Itulah tempat terakhir Jibril menemani Rasulullah. Dalam satu riwayat disebutkan Nabi Muhammad SAW melihat wujud Malaikat Jibril dengan 600 sayapnya di Sidratul Muntaha. Setiap sayapnya menutupi ufuq langit dan dari sayap-sayapnya berjatuhan permata dan Yaqut serta lain-lainnya yang hanya Allah yang mengetahuinya.
Ibnu Abbas dan para ahli tafsir mengatakan, dinamakan Sidratul Muntaha (pohon puncak) karena ilmu Malaikat puncaknya sampai di sini. Tidak ada yang bisa melewatinya, kecuali Rasulullah SAW. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dinamakan Sidratul Muntaha karena semua ketetapan Allah yang turun, pangkalnya dari sana dan semua yang naik, ujungnya ada di sana." (Ta'liqat 'ala Shahih Muslim, Muhammad Fuad Abdul Baqi, 1/145).
Riwayat lain, Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku melihat Sidratul Muntaha di langit ke tujuh. Buahnya seperti kendi daerah Hajar, dan daunnya seperti telinga gajah. Dari akarnya keluar dua sungai luar dan dua sungai dalam. Kemudian aku bertanya: "Wahai Jibril, apakah keduanya ini?" Dia menjawab, "Adapun dua yang dalam itu ada di surga sedangkan dua yang di luar itu adalah Nil dan Eufrat." (HR Al-Bukhari 3207)
Nabi diangkat ke tempat sangat tinggi hingga beliau mendengar suara goretan Al-Qolam (pena yang menulis segala apa yang ada di alam semesta). Kemudian Rasulullah SAW bertemu dengan Allah 'Azza wa Jalla tanpa ditemani Jibril. Beliau menerima perintah sholat 50 waktu dari sang Khaliq.
Ketika hendak turun, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa di langit ke-6. Nabi Musa meminta Rasulullah SAW kembali menghadap Allah untuk meminta keringanan.
Dai lulusan Mesir, Ustaz Miftah el-Banjari mengatakan, Sidratul Muntaha diibaratkan sebuah pokok pohon yang akarnya di langit ke-6, sedangkan dahan dan ranting-rantingnya menembus hingga ke langit ke-7. Hal ini berdasarkan penjelasan Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki dalam kitabnya "Huwa fi Ufuq al-'Ala
Lantas yang menjadi pertanyaan, di manakah letak Sidratul Muntaha ? Dan seperti apakah Sidratul Muntaha ? Secara etimologi "Sidrah" bermakna daun, sedangkan "Muntaha" bermakna puncak atau penghabisan. Secara istilah Sidrah Al-Muntaha diibaratkan semacam stasiun akhir yang menjadi tujuan akhir perjalanan Mikraj Nabi.
Hal tersebut diungkapkan Nabi dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud: "Perjalananku berhenti di Sidratul Muntaha."
Dari Anas bin Malik, dari Malik bin Sha'sha'ah, dari Nabi Muhammad ﷺ : "Kemudian aku dinaikkan ke Sidratul Muntaha". Lalu Nabi mengisahkan: "Bahwasanya daunnya seperti telinga gajah dan bahwa buahnya seperti bejana batu". Hadits ini dikeluarkan dalam ash-Shahihain dari Hadits Ibnu Abi Arubah. Hadits riwayat Al-Baihaqi. Asal hadits ini ada pada riwayat Al-Bukhari 3207 dan Muslim 164.
Ketika Rasulullah SAW diangkat ke Sidratul Muntaha , beliau diselimuti awan yang berwarna-warni. Itulah tempat terakhir Jibril menemani Rasulullah. Dalam satu riwayat disebutkan Nabi Muhammad SAW melihat wujud Malaikat Jibril dengan 600 sayapnya di Sidratul Muntaha. Setiap sayapnya menutupi ufuq langit dan dari sayap-sayapnya berjatuhan permata dan Yaqut serta lain-lainnya yang hanya Allah yang mengetahuinya.
Ibnu Abbas dan para ahli tafsir mengatakan, dinamakan Sidratul Muntaha (pohon puncak) karena ilmu Malaikat puncaknya sampai di sini. Tidak ada yang bisa melewatinya, kecuali Rasulullah SAW. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dinamakan Sidratul Muntaha karena semua ketetapan Allah yang turun, pangkalnya dari sana dan semua yang naik, ujungnya ada di sana." (Ta'liqat 'ala Shahih Muslim, Muhammad Fuad Abdul Baqi, 1/145).
Riwayat lain, Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku melihat Sidratul Muntaha di langit ke tujuh. Buahnya seperti kendi daerah Hajar, dan daunnya seperti telinga gajah. Dari akarnya keluar dua sungai luar dan dua sungai dalam. Kemudian aku bertanya: "Wahai Jibril, apakah keduanya ini?" Dia menjawab, "Adapun dua yang dalam itu ada di surga sedangkan dua yang di luar itu adalah Nil dan Eufrat." (HR Al-Bukhari 3207)
Nabi diangkat ke tempat sangat tinggi hingga beliau mendengar suara goretan Al-Qolam (pena yang menulis segala apa yang ada di alam semesta). Kemudian Rasulullah SAW bertemu dengan Allah 'Azza wa Jalla tanpa ditemani Jibril. Beliau menerima perintah sholat 50 waktu dari sang Khaliq.
Ketika hendak turun, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa di langit ke-6. Nabi Musa meminta Rasulullah SAW kembali menghadap Allah untuk meminta keringanan.
Dai lulusan Mesir, Ustaz Miftah el-Banjari mengatakan, Sidratul Muntaha diibaratkan sebuah pokok pohon yang akarnya di langit ke-6, sedangkan dahan dan ranting-rantingnya menembus hingga ke langit ke-7. Hal ini berdasarkan penjelasan Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki dalam kitabnya "Huwa fi Ufuq al-'Ala
Lihat Juga :