Penting, Mengenalkan Makna Lailatul Qadar kepada Anak Sejak Dini
Senin, 01 April 2024 - 04:05 WIB
Mengenalkan apa itu malam Lailatul Qadar merupakan salah satu bagian dari penguatan garizah tadayyun (naluri beragama) anak dengan mengajaknya beribadah di malam Qadar. Foto ilustrasi/ist
Setiap orang tua hendaknya tidak melupakan untuk mengenalkan dan mengajarkan anak-anaknya tentang makna malam Lailatul Qadar dan bagaimana cara meraih malam mulia yang lebih baik dari 1000 bulan tersebut. Bagaimana caranya?
Mengenalkan apa itu malam Lailatul Qadar merupakan salah satu bagian dari penguatan garizah tadayyun (naluri beragama) anak dengan mengajaknya beribadah di malam Qadar. Orang tua harus mulai mempersiapkan dengan mengikutsertakan anak-anaknya, mulai dari mencari Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan .
Perhatikan, sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,
“Barang siapa salat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari)
Kenapa anak perlu diikutsertakan? Penting, anak usia prabalig dipahamkan tentang keutamaan Lailatul Qadar dan beribadah di dalamnya. Seribu bulan jika dikonversi ke dalam tahun, maka sekitar 83 tahun. Maka, salat di malam Qadar seperti halnya melakukan salat selama 83 tahun. Masyaallah.
Selain dari besarnya pahala yang akan didapatkan, juga dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah SWT. Doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan. Pada malam Qadar semua malaikat termasuk malaikat Jibril turun ke bumi dan mengaminkan setiap doa hamba yang menghidupkan malam Qadar. Semua dilakukan hamba dengan landasan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah SWT
Ceritakan kepada anak bagaimana Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, di saat sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebab, Nabi Muhammad adalah teladan anak-anak muslim.
Dari Aisyah radhiyallahu'anha, ia berkata bahwa "Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim)
Aisyah juga menuturkan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membangunkan keluarganya dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR Tirmidzi).
Mengenalkan apa itu malam Lailatul Qadar merupakan salah satu bagian dari penguatan garizah tadayyun (naluri beragama) anak dengan mengajaknya beribadah di malam Qadar. Orang tua harus mulai mempersiapkan dengan mengikutsertakan anak-anaknya, mulai dari mencari Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan .
Perhatikan, sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,
“Barang siapa salat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari)
Kenapa anak perlu diikutsertakan? Penting, anak usia prabalig dipahamkan tentang keutamaan Lailatul Qadar dan beribadah di dalamnya. Seribu bulan jika dikonversi ke dalam tahun, maka sekitar 83 tahun. Maka, salat di malam Qadar seperti halnya melakukan salat selama 83 tahun. Masyaallah.
Selain dari besarnya pahala yang akan didapatkan, juga dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah SWT. Doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan. Pada malam Qadar semua malaikat termasuk malaikat Jibril turun ke bumi dan mengaminkan setiap doa hamba yang menghidupkan malam Qadar. Semua dilakukan hamba dengan landasan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah SWT
Ceritakan kepada anak bagaimana Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, di saat sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebab, Nabi Muhammad adalah teladan anak-anak muslim.
Dari Aisyah radhiyallahu'anha, ia berkata bahwa "Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim)
Aisyah juga menuturkan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membangunkan keluarganya dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR Tirmidzi).
Lihat Juga :