Sedekah Laut: Tradisi Syawalan dan Kupatan di Pesisir Jawa
Selasa, 16 April 2024 - 05:15 WIB
Tradisi Syawalan di pesisir Jawa berupa sedekah laut. Foto/Ilustrasi: ant
Tradisi Syawalan bagi masyarakat pesisir Jawa juga disebut sedekah laut . Tradisi ini biasa dilakukan masyarakat pesisir Jawa misalnya di wilayah-wilayah pantai di Cilacap, Tegal, Pekalongan, Batang, Weleri, Kendal, Kaliwungu, Demak, Jepara, Kudus, Juwana, Pati dan sebagainya.
Syawalan atau sedekah laut serta tradisi-tradisi lainnya dalam pandangan Antropolog Ruth Benedict (1959) merupakan salah satu konstruk kebudayaan suatu masyarakat tertentu.
Menurutnya, pada setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai tertentu yang mendominasi ide yang berkembang. Dominasi ide tertentu dalam masyarakat akan membentuk dan mempengaruhi aturan-aturan bertindak masyarakatnya (rules of conduct) dan aturan-aturan bertingkah laku (rules of behavior) yang kemudian secara bersama-sama membentuk pola kultural masyarakat.
Baca juga: Merawat Tradisi Kupatan di Tengah Pandemi Covid-19
Semua adat kebiasaan atau tradisi-tradisi tersebut memiliki nalar kebudayaan yang melatarbelakanginya; selain ini juga memiliki makna luhur bagi orang-orang yang hidup di dalamnya.
Berdasarkan hal tersebut dapat dipahami bahwa sebagai sebuah tradisi yang sangat populer, Syawalan memiliki latar belakang nalar kebudayaan serta makna yang luhur tersebut.
Pada bulan Syawal, juga ada tradisi kupatan. Buku "Tradisi-Tradisi Islam Nusantara" karya Puji Rahayu dkk menyebutkan dari sisi sejarah, tradisi kupatan berangkat dari upaya-upaya Walisongo memasukkan ajaran Islam. Sebab, zaman dulu orang Jawa selalu menggunakan simbol-simbol tertentu, akhirnya Walisongo memanfaatkan cara tersebut. "Tradisi kupatan akhirnya menggunakan simbol janur atau daun kelapa muda berwarna kuning,” tuturnya.
Khoirul Anwar dalam karya tulisnya berjudul "Tradisi Syawalan di Morodemak, Bonang, Demak" yang meneliti Syawalan di Desa Morodemak, Jawa Tengah, menjelaskan banyak istilah yang digunakan untuk menyebut tradisi Syawalan yang diselenggarakan oleh komunitas warga Morodemak.
Selain Syawalan, istilah-istilah tersebut seperti lomban, sedekah laut dan pesta laut. Istilah Syawalan berasal dari kata Syawal, nama salah satu bulan pada kalender Islam atau tahun Hijriyah.
Disebut dengan istilah Syawalan karena tradisi tersebut dilaksanakan pada bulan Syawal, yaitu pada satu pekan setelah hari raya Idulfitri. Perayaan Syawalan dijadikan momentum untuk menjalin silaturahmi dan kumpul dengan sanak keluarga yang tinggal di tempat jauh.
Baca juga: Tradisi Syawalan, Warga Makan Lontong Lodeh dan Lotisan Bersama
Syawalan masih terkait dengan hari raya Idulfitri yang biasanya disebut Bada Kupat atau Hari Raya Ketupat. Oleh karena itu biasanya pada saat prosesi Syawalan banyak warga yang merayakannya dengan membuat makanan ketupat dan opor ayam serta sambel goreng.
Sedekah Laut
Tradisi Syawalan juga sering disebut dengan istilah lomban, karena pada acara tersebut juga dilakukan berbagai lomba yang diikuti oleh komunitas nelayan setempat. Jenis cabang yang diperlombakan antara lain perahu atau kapal hias, adu cepat mendayung perahu, selam, renang, panjat pinang dan sebagainya.
Syawalan atau sedekah laut serta tradisi-tradisi lainnya dalam pandangan Antropolog Ruth Benedict (1959) merupakan salah satu konstruk kebudayaan suatu masyarakat tertentu.
Menurutnya, pada setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai tertentu yang mendominasi ide yang berkembang. Dominasi ide tertentu dalam masyarakat akan membentuk dan mempengaruhi aturan-aturan bertindak masyarakatnya (rules of conduct) dan aturan-aturan bertingkah laku (rules of behavior) yang kemudian secara bersama-sama membentuk pola kultural masyarakat.
Baca juga: Merawat Tradisi Kupatan di Tengah Pandemi Covid-19
Semua adat kebiasaan atau tradisi-tradisi tersebut memiliki nalar kebudayaan yang melatarbelakanginya; selain ini juga memiliki makna luhur bagi orang-orang yang hidup di dalamnya.
Berdasarkan hal tersebut dapat dipahami bahwa sebagai sebuah tradisi yang sangat populer, Syawalan memiliki latar belakang nalar kebudayaan serta makna yang luhur tersebut.
Pada bulan Syawal, juga ada tradisi kupatan. Buku "Tradisi-Tradisi Islam Nusantara" karya Puji Rahayu dkk menyebutkan dari sisi sejarah, tradisi kupatan berangkat dari upaya-upaya Walisongo memasukkan ajaran Islam. Sebab, zaman dulu orang Jawa selalu menggunakan simbol-simbol tertentu, akhirnya Walisongo memanfaatkan cara tersebut. "Tradisi kupatan akhirnya menggunakan simbol janur atau daun kelapa muda berwarna kuning,” tuturnya.
Khoirul Anwar dalam karya tulisnya berjudul "Tradisi Syawalan di Morodemak, Bonang, Demak" yang meneliti Syawalan di Desa Morodemak, Jawa Tengah, menjelaskan banyak istilah yang digunakan untuk menyebut tradisi Syawalan yang diselenggarakan oleh komunitas warga Morodemak.
Selain Syawalan, istilah-istilah tersebut seperti lomban, sedekah laut dan pesta laut. Istilah Syawalan berasal dari kata Syawal, nama salah satu bulan pada kalender Islam atau tahun Hijriyah.
Disebut dengan istilah Syawalan karena tradisi tersebut dilaksanakan pada bulan Syawal, yaitu pada satu pekan setelah hari raya Idulfitri. Perayaan Syawalan dijadikan momentum untuk menjalin silaturahmi dan kumpul dengan sanak keluarga yang tinggal di tempat jauh.
Baca juga: Tradisi Syawalan, Warga Makan Lontong Lodeh dan Lotisan Bersama
Syawalan masih terkait dengan hari raya Idulfitri yang biasanya disebut Bada Kupat atau Hari Raya Ketupat. Oleh karena itu biasanya pada saat prosesi Syawalan banyak warga yang merayakannya dengan membuat makanan ketupat dan opor ayam serta sambel goreng.
Sedekah Laut
Tradisi Syawalan juga sering disebut dengan istilah lomban, karena pada acara tersebut juga dilakukan berbagai lomba yang diikuti oleh komunitas nelayan setempat. Jenis cabang yang diperlombakan antara lain perahu atau kapal hias, adu cepat mendayung perahu, selam, renang, panjat pinang dan sebagainya.
Lihat Juga :