Makanan Khas Arab Saudi: Iduladha, Mahshoosh Kembali
Kamis, 20 Juni 2024 - 10:26 WIB
Mahshoosh sangat tinggi kalori dan biasanya disajikan hanya saat Iduladha. Foto/Ilustrasi: Arab News
Makanan tradisional itu menyandang nama mahshoosh, atau Al-Humais. Pada hari raya Iduladha menu ini banyak hadir menghiasi meja makan masyarakat Jazan, Arab Saudi . Ini adalah warisan budaya daerah tersebut.
Jazan adalah sebuah provinsi di Arab Saudi. Ini merupakan kota pelabuhan yang terletak di barat daya Arab Saudi, dan berada di utara perbatasan Arab Saudi dan Yaman . Kota Jazan berada di pesisir laut merah, dan merupakan jantung pertanian yang memiliki populasi 1,5 juta sesuai dengan sensus tahun 2010.
Wilayah ini juga terkenal dengan produksi berkualitas tinggi dari buah-buahan tropis seperti mangga, ficus dan pepaya.
Kembali ke makanan tradisional mahshoosh. Makanan ini telah teruji oleh waktu, mempertahankan keunggulannya di antara berbagai hidangan yang menghiasi meja Jazan.
Persiapannya dipandang sebagai kebangkitan tradisi kuno sejak zaman ketika belum ada alat pendingin. Masyarakat setempat mengandalkan hidangan ini untuk mengawetkan daging kurban Iduladha mereka.
Baca juga: Resep Urap, Makanan Tradisional nan Menyehatkan
Meskipun hidangan ini paling diasosiasikan dengan Iduladha, bukan berarti tak bisa dinikmati sepanjang tahun.
Namanya berasal dari metode persiapannya, yang melibatkan pemotongan halus daging dan lemak menjadi potongan-potongan kecil, sebuah proses yang disebut sebagai “Al-Hash” dalam dialek lokal.
Resep mahshoosh telah diturunkan dari generasi ke generasi, dan para wanita di Jazan sangat bangga dalam menyiapkannya. Setelah daging dan lemaknya dipotong, lemaknya dicairkan perlahan dan daging ditambahkan secara bertahap. Setelah bumbu ditambahkan, masakan kemudian dibiarkan mendidih selama beberapa jam sambil sesekali diaduk.
Jazan adalah sebuah provinsi di Arab Saudi. Ini merupakan kota pelabuhan yang terletak di barat daya Arab Saudi, dan berada di utara perbatasan Arab Saudi dan Yaman . Kota Jazan berada di pesisir laut merah, dan merupakan jantung pertanian yang memiliki populasi 1,5 juta sesuai dengan sensus tahun 2010.
Wilayah ini juga terkenal dengan produksi berkualitas tinggi dari buah-buahan tropis seperti mangga, ficus dan pepaya.
Kembali ke makanan tradisional mahshoosh. Makanan ini telah teruji oleh waktu, mempertahankan keunggulannya di antara berbagai hidangan yang menghiasi meja Jazan.
Persiapannya dipandang sebagai kebangkitan tradisi kuno sejak zaman ketika belum ada alat pendingin. Masyarakat setempat mengandalkan hidangan ini untuk mengawetkan daging kurban Iduladha mereka.
Baca juga: Resep Urap, Makanan Tradisional nan Menyehatkan
Meskipun hidangan ini paling diasosiasikan dengan Iduladha, bukan berarti tak bisa dinikmati sepanjang tahun.
Namanya berasal dari metode persiapannya, yang melibatkan pemotongan halus daging dan lemak menjadi potongan-potongan kecil, sebuah proses yang disebut sebagai “Al-Hash” dalam dialek lokal.
Resep mahshoosh telah diturunkan dari generasi ke generasi, dan para wanita di Jazan sangat bangga dalam menyiapkannya. Setelah daging dan lemaknya dipotong, lemaknya dicairkan perlahan dan daging ditambahkan secara bertahap. Setelah bumbu ditambahkan, masakan kemudian dibiarkan mendidih selama beberapa jam sambil sesekali diaduk.
Lihat Juga :