Kisah Utsman bin Affan Melanjutkan Politik Pembebasan Umar bin Khattab
Jum'at, 11 Oktober 2024 - 19:50 WIB
Begitu Utsman dilantik sebagai khalifah, ia berjanji kepada seluruh aerah akan meneruskan kebijakan pendahulunya. Ilustrasi: Ist
Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga yang berkuasa pada tahun 644 sampai 656 dan merupakan Khulafaur Rasyidin dengan masa kekuasaan terlama. Sama seperti dua pendahulunya, Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab , Utsman termasuk salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW .
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan begitu Utsman dilantik sebagai khalifah, ia berjanji kepada seluruh daerah akan meneruskan kebijakan pendahulunya.
"Dia tetap mengukuhkan semua pejabat di kawasan mereka itu, tak seorang pun ada yang dipecat atau dipindahkan ke tempat lain dari daerah mereka saat Umar bin Khattab mati syahid," tulis Haekal.
Dibiarkannya Nafi' bin Abdul-Haris al-Khuza'i untuk Makkah, Sufyan bin Abdullah as-Saqafi untuk Ta'if, Ya'Ia bin Mun-yah untuk San'a, Utsman bin Abi al-As as-Saqafi untuk Bahrain dan sekitarnya, Mugirah bin Syu'bah untuk Kufah, Abu Musa al-Asy'ari untuk Basrah, Mu'awiyah bin Abi Sufyan untuk Damsyik, Umair bin Sa'd untuk Hims, Amr bin al-As untuk Mesir dan Abdullah bin Abi Rabi'ah untuk Janad.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan Mengadili Ubaidillah Putra Umar bin Khattab
Hanya saja, sebuah sumber menyebutkan bahwa Utsman memecat Mugirah bin Syu'bah begitu ia dibaiat, dan menggantikannya dengan Sa'd bin Abi Waqqas .
Sumber lain menyebutkan bahwa Umar bin Khattab berpesan kepada khalifah yang sesudahnya supaya pejabat-pejabat itu dibiarkan selama setahun.
Oleh karena itu, Utsman membiarkan Mugirah itu selama setahun, kemudian menggantikannya dengan Sa'd bin Abi Waqqas. "Sumber ini lebih cermat daripada yang pertama dan lebih cocok dengan bawaan dan politik Usman pada permulaan pemerintahannya," tutur Haekal.
Utsman berjanji kepada Abdur-Rahman bin Auf menjelang pelantikannya, bahwa dia akan bekerja atas dasar Kitabullah dan Sunah Rasulullah serta meneladani kedua Khalifah sebelumnya.
Haekal mengatakan tidak mudah bagi Utsman dan bagi siapa pun dalam situasi yang begitu gawat ketika Umar terbunuh, untuk mengambil langkah lain daripada harus menunggu dan mengikuti situasi serta apa yang mungkin terjadi terhadap dirinya.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan begitu Utsman dilantik sebagai khalifah, ia berjanji kepada seluruh daerah akan meneruskan kebijakan pendahulunya.
"Dia tetap mengukuhkan semua pejabat di kawasan mereka itu, tak seorang pun ada yang dipecat atau dipindahkan ke tempat lain dari daerah mereka saat Umar bin Khattab mati syahid," tulis Haekal.
Dibiarkannya Nafi' bin Abdul-Haris al-Khuza'i untuk Makkah, Sufyan bin Abdullah as-Saqafi untuk Ta'if, Ya'Ia bin Mun-yah untuk San'a, Utsman bin Abi al-As as-Saqafi untuk Bahrain dan sekitarnya, Mugirah bin Syu'bah untuk Kufah, Abu Musa al-Asy'ari untuk Basrah, Mu'awiyah bin Abi Sufyan untuk Damsyik, Umair bin Sa'd untuk Hims, Amr bin al-As untuk Mesir dan Abdullah bin Abi Rabi'ah untuk Janad.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan Mengadili Ubaidillah Putra Umar bin Khattab
Hanya saja, sebuah sumber menyebutkan bahwa Utsman memecat Mugirah bin Syu'bah begitu ia dibaiat, dan menggantikannya dengan Sa'd bin Abi Waqqas .
Sumber lain menyebutkan bahwa Umar bin Khattab berpesan kepada khalifah yang sesudahnya supaya pejabat-pejabat itu dibiarkan selama setahun.
Oleh karena itu, Utsman membiarkan Mugirah itu selama setahun, kemudian menggantikannya dengan Sa'd bin Abi Waqqas. "Sumber ini lebih cermat daripada yang pertama dan lebih cocok dengan bawaan dan politik Usman pada permulaan pemerintahannya," tutur Haekal.
Utsman berjanji kepada Abdur-Rahman bin Auf menjelang pelantikannya, bahwa dia akan bekerja atas dasar Kitabullah dan Sunah Rasulullah serta meneladani kedua Khalifah sebelumnya.
Haekal mengatakan tidak mudah bagi Utsman dan bagi siapa pun dalam situasi yang begitu gawat ketika Umar terbunuh, untuk mengambil langkah lain daripada harus menunggu dan mengikuti situasi serta apa yang mungkin terjadi terhadap dirinya.
Lihat Juga :