Benarkah Muharram atau Suro Bulan Keramat? Begini Pandangan Islam
Minggu, 14 Juni 2026 - 11:25 WIB
Di tengah masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, bulan Muharram yang dikenal dengan sebutan Bulan Suro kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan keyakinan tertentu. Foto ilustrasi/ist
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyah dan termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Namun di tengah masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, bulan Muharram yang dikenal dengan sebutan Bulan Suro kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan keyakinan tertentu.
Sebagian masyarakat meyakini Bulan Suro sebagai bulan keramat sehingga dianggap kurang baik untuk menyelenggarakan hajatan besar seperti pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha baru. Bahkan ada anggapan bahwa siapa saja yang melangsungkan pernikahan pada bulan ini akan mengalami kesulitan dan musibah dalam kehidupan rumah tangganya.
Selain itu, muncul pula berbagai tradisi yang dilakukan untuk mencari keselamatan atau keberkahan pada malam 1 Suro . Di antaranya tirakatan, semedi, berendam di tempat-tempat tertentu, hingga ritual larung sesaji ke laut. Di sejumlah daerah juga dikenal tradisi kirab pusaka, jamasan keris, dan kirab kerbau bule yang diyakini sebagian masyarakat membawa keberuntungan.
Lantas, benarkah Muharram merupakan bulan keramat yang harus ditakuti?
Baca juga: Malam 1 Suro dan Muharram: Sejarah, Tradisi, serta Keutamaannya dalam Islam
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu." (QS At-Taubah: 36)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Zulqa'dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Imam Ath-Thabari menerangkan bahwa sejak zaman Arab Jahiliyah, bulan-bulan tersebut telah dihormati dan dimuliakan. Bahkan peperangan dihentikan selama bulan-bulan haram berlangsung.
Sebagian masyarakat meyakini Bulan Suro sebagai bulan keramat sehingga dianggap kurang baik untuk menyelenggarakan hajatan besar seperti pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha baru. Bahkan ada anggapan bahwa siapa saja yang melangsungkan pernikahan pada bulan ini akan mengalami kesulitan dan musibah dalam kehidupan rumah tangganya.
Selain itu, muncul pula berbagai tradisi yang dilakukan untuk mencari keselamatan atau keberkahan pada malam 1 Suro . Di antaranya tirakatan, semedi, berendam di tempat-tempat tertentu, hingga ritual larung sesaji ke laut. Di sejumlah daerah juga dikenal tradisi kirab pusaka, jamasan keris, dan kirab kerbau bule yang diyakini sebagian masyarakat membawa keberuntungan.
Lantas, benarkah Muharram merupakan bulan keramat yang harus ditakuti?
Muharram adalah Bulan Mulia
Mengutip tulisan Ustaz Abu Nu’aim Al-Atsari, dijelaskan bahwa dalam ajaran Islam, Muharram memang memiliki kedudukan istimewa. Namun kemuliaannya bukan karena dianggap membawa kesialan atau petaka, melainkan karena termasuk salah satu dari empat bulan haram (suci) yang dimuliakan Allah SWT.Baca juga: Malam 1 Suro dan Muharram: Sejarah, Tradisi, serta Keutamaannya dalam Islam
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu." (QS At-Taubah: 36)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Zulqa'dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Imam Ath-Thabari menerangkan bahwa sejak zaman Arab Jahiliyah, bulan-bulan tersebut telah dihormati dan dimuliakan. Bahkan peperangan dihentikan selama bulan-bulan haram berlangsung.
Lihat Juga :