Tausiyah Gus Baha Tentang Tidurnya Orang Berpuasa, Apakah Termasuk Ibadah?
Minggu, 18 April 2021 - 15:06 WIB
Gus Baha dikenal sebagai ulama ahli tafsir yang ceramahnya disukai banyak orang karena mudah dicerna dan penuh hikmah. Foto/dok islami.co
Salah satu aktivitas yang lazim dilakukan pada bulan Ramadhan adalah tidur. Selain puasa dan tilawah Qur'an, tidur merupakan salah satu kenikmatan orang yang berpuasa. Benarkah tidurnya orang berpuasa termasuk ibadah?
Berikut penjelasan KH Bahauddin Nur Salim atau akrab disapa dengan Gus Baha. Beliau menyebutkan tentang keutamaan tidur di hadapan para jamaah dan santrinya dilansir dari tsaqafah.id. "Tidurnya umatnya Rasulullah itu luar biasa. Utamanya tidurnya orang puasa dan ulama, tidurnya tasbih," ucap Gus Baha.
Baca Juga: Wajib Diketahui, Tiga Waktu yang Dilarang untuk Tidur
Menurut Gus Baha, dengan tidur, kita mengetahui tanda atau alamat kematian. Apabila saat kita masih di dunia saja punya kondisi di mana kita tidak bisa menentukan diri kita sendiri, hal tersebut menjadi awal kita mengimani "La haulaa wa laa quwwata illa billah". Bahwa segagah-gagahnya manusia, ternyata akan menemui sebuah kondisi di mana ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Gus Baha mengingatkan kepada kita semua, bahwa sanad-sanad seperti ini mungkin luput. "Kamu lupa bahwa saat paling krusial dalam hidup adalah tidur. Sehingga disebut dalam QS Ar-Rum 23:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖ مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاۤؤُكُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan."
Itu hanya dari segi krusial gawat darurat, bahwa tidur mengingatkan setiap saat manusia bisa mati. Sementara dalam urgensi lainnya, tidur berperan melawan maksiat. "Itu kalau kamu hidup di kota Demak atau Semarang, agar tidak kepikiran nightclub, perempuan-perempuan cantik di terminal, di jalan-jalan, itu satu-satunya cara adalah tidur. Kamu kalau melek, tetep jlalatan. Tak jamin," pesan Gus Baha.
Gus Baha memberi penjelasan lewat kacamata ushul fiqih. "Dulu saya pernah musyawarah dengan Gus Ghofur tentang ushul fiqih," cerita Gus Baha.
Berikut penjelasan KH Bahauddin Nur Salim atau akrab disapa dengan Gus Baha. Beliau menyebutkan tentang keutamaan tidur di hadapan para jamaah dan santrinya dilansir dari tsaqafah.id. "Tidurnya umatnya Rasulullah itu luar biasa. Utamanya tidurnya orang puasa dan ulama, tidurnya tasbih," ucap Gus Baha.
Baca Juga: Wajib Diketahui, Tiga Waktu yang Dilarang untuk Tidur
Menurut Gus Baha, dengan tidur, kita mengetahui tanda atau alamat kematian. Apabila saat kita masih di dunia saja punya kondisi di mana kita tidak bisa menentukan diri kita sendiri, hal tersebut menjadi awal kita mengimani "La haulaa wa laa quwwata illa billah". Bahwa segagah-gagahnya manusia, ternyata akan menemui sebuah kondisi di mana ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Gus Baha mengingatkan kepada kita semua, bahwa sanad-sanad seperti ini mungkin luput. "Kamu lupa bahwa saat paling krusial dalam hidup adalah tidur. Sehingga disebut dalam QS Ar-Rum 23:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖ مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاۤؤُكُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan."
Itu hanya dari segi krusial gawat darurat, bahwa tidur mengingatkan setiap saat manusia bisa mati. Sementara dalam urgensi lainnya, tidur berperan melawan maksiat. "Itu kalau kamu hidup di kota Demak atau Semarang, agar tidak kepikiran nightclub, perempuan-perempuan cantik di terminal, di jalan-jalan, itu satu-satunya cara adalah tidur. Kamu kalau melek, tetep jlalatan. Tak jamin," pesan Gus Baha.
Gus Baha memberi penjelasan lewat kacamata ushul fiqih. "Dulu saya pernah musyawarah dengan Gus Ghofur tentang ushul fiqih," cerita Gus Baha.
Lihat Juga :