Abdullah bin Zubair: Bayi Mungil dan Kekalahan Sihir Yahudi
Senin, 03 Mei 2021 - 16:02 WIB
Ilustrasi/Ist
ABDULLAH bin Zubair atau Ibnu Zubair adalah putra dari pasangan Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar. Zubair juga merupakan keponakan dari istri pertama Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah .
Baca juga: Konflik Khilafah: Kisah Suram Putra Ketiga Ali bin Abi Thalib
Ibnu Zubair lahir tatkala sang bunda, Asma binti Abu Bakar, dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Setibanya di Quba, suatu dusun di luar kota Madinah, ia dilahirkan.
Asma dengan jabang bayinya sampai ke bumi Madinah bersamaan waktunya dengan masuknya kaum muhajirin lainnya dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW .
Bayi yang pertama kali lahir pada saat hijrah itu dibawa kepada Rasulullah SAW di rumahnya di Madinah. Rasulullah pun mencium kedua pipinya dan dikecupnya mulutnya, hingga yang mula pertama masuk ke rongga perut Abdullah bin Zubeir itu ialah air selera Rasulullah SAW.
Kaum muslimin berkumpul dan beramai-ramai membawa bayi yang dalam gendongan itu berkeliling kota sambil membaca tahlil dan takbir.
Upacara ini dilakukan ada latar belakangnya. Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabatnya tinggal menetap di Madinah, orang- orang Yahudi merasa terpukul dan iri hati, lalu melakukan perang urat saraf terhadap kaum muslimin. Mereka sebarkan berita bahwa dukun-dukun mereka telah menyihir kaum muslimin dan membuat mereka jadi mandul, hingga di Madinah tak seorang pun akan mempunyai bayi dari kalangan mereka.
Maka tatkala Abdullah bin Zubair lahir, hal itu merupakan suatu kenyataan yang digunakan takdir untuk menolak kebohongan orang-orang Yahudi di Madinah dan mematahkan tipu muslihat mereka.
Baca juga: Abbad bin Bisyir: Ada Cahaya Allah yang Selalu Menyertainya
Tanpa Noda
Di masa hayat Rasulullah SAW, Abdullah belum mencapai usia dewasa. Tetapi lingkungan hidup dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah SAW telah membentuk kerangka kepahlawanan dan prinsip hidupnya, sehingga darma baktinya dalam menempuh kehidupan di dunia ini menjadi buah bibir orang dan tercatat dalam sejarah dunia.
Anak kecil itu tumbuh dengan amat cepatnya dan menunjukkan hal-hal yang luar biasa dalam kegairahan, kecerdasan dan keteguhan pendirian. Masa mudanya dilaluinya tanpa noda, seorang yang suci, tekun beribadat, hidup sederhana dan perwira tidak terkira.
Baca juga: Konflik Khilafah: Kisah Suram Putra Ketiga Ali bin Abi Thalib
Ibnu Zubair lahir tatkala sang bunda, Asma binti Abu Bakar, dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Setibanya di Quba, suatu dusun di luar kota Madinah, ia dilahirkan.
Asma dengan jabang bayinya sampai ke bumi Madinah bersamaan waktunya dengan masuknya kaum muhajirin lainnya dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW .
Bayi yang pertama kali lahir pada saat hijrah itu dibawa kepada Rasulullah SAW di rumahnya di Madinah. Rasulullah pun mencium kedua pipinya dan dikecupnya mulutnya, hingga yang mula pertama masuk ke rongga perut Abdullah bin Zubeir itu ialah air selera Rasulullah SAW.
Kaum muslimin berkumpul dan beramai-ramai membawa bayi yang dalam gendongan itu berkeliling kota sambil membaca tahlil dan takbir.
Upacara ini dilakukan ada latar belakangnya. Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabatnya tinggal menetap di Madinah, orang- orang Yahudi merasa terpukul dan iri hati, lalu melakukan perang urat saraf terhadap kaum muslimin. Mereka sebarkan berita bahwa dukun-dukun mereka telah menyihir kaum muslimin dan membuat mereka jadi mandul, hingga di Madinah tak seorang pun akan mempunyai bayi dari kalangan mereka.
Maka tatkala Abdullah bin Zubair lahir, hal itu merupakan suatu kenyataan yang digunakan takdir untuk menolak kebohongan orang-orang Yahudi di Madinah dan mematahkan tipu muslihat mereka.
Baca juga: Abbad bin Bisyir: Ada Cahaya Allah yang Selalu Menyertainya
Tanpa Noda
Di masa hayat Rasulullah SAW, Abdullah belum mencapai usia dewasa. Tetapi lingkungan hidup dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah SAW telah membentuk kerangka kepahlawanan dan prinsip hidupnya, sehingga darma baktinya dalam menempuh kehidupan di dunia ini menjadi buah bibir orang dan tercatat dalam sejarah dunia.
Anak kecil itu tumbuh dengan amat cepatnya dan menunjukkan hal-hal yang luar biasa dalam kegairahan, kecerdasan dan keteguhan pendirian. Masa mudanya dilaluinya tanpa noda, seorang yang suci, tekun beribadat, hidup sederhana dan perwira tidak terkira.
Lihat Juga :