Ibnu Khaldun, Ilmuwan Islam yang Seluruh Keluarganya Meninggal karena Wabah
Rabu, 10 November 2021 - 16:58 WIB
Ibnu Khaldun memasuki kehidupan yang memilukan saat remaja. Seluruh keluarga termasuk gurunya meninggal karena wabah sampar. (Foto/Ilustrasi: Ist)
Ibnu Khaldun bernama lengkap Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami. Beliau adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Saat masih remaja seluruh keluarganya, termasuk gurunya meninggal karena wabah sampar yang menyerang Afrika Utara.
Baca juga: Muncul Wabah Baru Corona, China Tutup Sekolah dan Batalkan Ratusan Penerbangan
Ibnu Khaldun lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H/27 Mei 1332 M. Sejak usia dini beliau sudah hafal Al-Quran. Selain sebagai sejarawan, Ibnu Khaldun juga sebagai ahli politik Islam. Beliau pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis. Beliau mengemukaan teori ekonominya jauh sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823).
Ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.
Wabah Sampar
Sejarah mencatat masa muda Ibn Khaldun diliputi kepiluan. Saat beliau berusia 16 tahun Afrika Utara wabah sampar menyerang Afrika Utara. Keluarganya, termasuk ayahnya, Muhammad Abu Bakr meninggal karena wabah ini.
Syed Farid Alatas, dalam “Ibn Khaldun; Biografi Intelektual dan Pemikiran Sang Pelopor Sosiologi” menggambarkan wabah sampar menyapu hampir seluruh wilayah di kawasan Afrika Utara, telah menjadikan Ibn Khaldun yatim.
Tidak hanya ayah dan ibunya, wabah tersebut juga merenggut guru-guru kesayangannya. Praktis pada usia yang sangat dini, Ibn Khaldun kehilangan semua yang dicintainya, mulai dari keluarga, hingga wahana belajar, tempat ia memahat pondasi intelektualnya.
Meski demikian, kecakapannya di usia tersebut, sudah cukup menjadikannya salah satu sosok yang paling diperhitungkan oleh pemerintah setempat kala itu.
Baca juga: Wabah Misterius Kembali Lagi, Kazakhstan Diserang Virus Alien?
Pada usia yang sangat belia tersebut, beliau sudah memegang Ijazah dan lisensi untuk mengajar bahasa dan hukum, yang ia dapatkan langsung dari Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Jabir bin Sultan al-Qaisi al-Wadiyashi, seorang pemegang otoritas hadits terbesar di Tunisia.
Dan pada usia 20 tahunan, ia sudah bertindak sebagai sekretaris Sultan di Tunisia dan Fez. Pada titik tertentu, wabah ini sudah berhasil membalikkan suasana sosial masyarakat di hampir seluruh kawasan Afrika Utara kala itu.
Di antara sekian banyak guru yang paling memberikan pengaruh besar pada perkembangan intelektual Ibn Khaldun, adalah Muhammad bin Ibrahim al-Abili. Beliau dikenal sebagai guru besar dari ilmu-ilmu rasional.
Baca juga: Muncul Wabah Baru Corona, China Tutup Sekolah dan Batalkan Ratusan Penerbangan
Ibnu Khaldun lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H/27 Mei 1332 M. Sejak usia dini beliau sudah hafal Al-Quran. Selain sebagai sejarawan, Ibnu Khaldun juga sebagai ahli politik Islam. Beliau pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis. Beliau mengemukaan teori ekonominya jauh sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823).
Ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.
Wabah Sampar
Sejarah mencatat masa muda Ibn Khaldun diliputi kepiluan. Saat beliau berusia 16 tahun Afrika Utara wabah sampar menyerang Afrika Utara. Keluarganya, termasuk ayahnya, Muhammad Abu Bakr meninggal karena wabah ini.
Syed Farid Alatas, dalam “Ibn Khaldun; Biografi Intelektual dan Pemikiran Sang Pelopor Sosiologi” menggambarkan wabah sampar menyapu hampir seluruh wilayah di kawasan Afrika Utara, telah menjadikan Ibn Khaldun yatim.
Tidak hanya ayah dan ibunya, wabah tersebut juga merenggut guru-guru kesayangannya. Praktis pada usia yang sangat dini, Ibn Khaldun kehilangan semua yang dicintainya, mulai dari keluarga, hingga wahana belajar, tempat ia memahat pondasi intelektualnya.
Meski demikian, kecakapannya di usia tersebut, sudah cukup menjadikannya salah satu sosok yang paling diperhitungkan oleh pemerintah setempat kala itu.
Baca juga: Wabah Misterius Kembali Lagi, Kazakhstan Diserang Virus Alien?
Pada usia yang sangat belia tersebut, beliau sudah memegang Ijazah dan lisensi untuk mengajar bahasa dan hukum, yang ia dapatkan langsung dari Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Jabir bin Sultan al-Qaisi al-Wadiyashi, seorang pemegang otoritas hadits terbesar di Tunisia.
Dan pada usia 20 tahunan, ia sudah bertindak sebagai sekretaris Sultan di Tunisia dan Fez. Pada titik tertentu, wabah ini sudah berhasil membalikkan suasana sosial masyarakat di hampir seluruh kawasan Afrika Utara kala itu.
Di antara sekian banyak guru yang paling memberikan pengaruh besar pada perkembangan intelektual Ibn Khaldun, adalah Muhammad bin Ibrahim al-Abili. Beliau dikenal sebagai guru besar dari ilmu-ilmu rasional.
Lihat Juga :