Kisah Hikmah: Terjebak karena Mengikuti Omongan Orang Lain
Sabtu, 11 Desember 2021 - 13:20 WIB
Pelajaran berharga buat anak ketika kita terlalu mengikuti omongan orang lain. (Ilustrasi : Ist)
Suatu hari, Juha, tokoh bijak nan lucu dalam sastra Arab, ingin memberikan pelajaran kepada anaknya. Juha kali ini sengaja mengajak anaknya menyusuri perjalanan dengan membawa seekor keledai.
Juha lalu menunggangi keledai itu dan menyuruh sang anak berjalan di belakangnya. Baru saja berjalan beberapa langkah, keduanya berpapasan dengan serombongan wanita. Kontan saja para wanita itu menyoraki Juha, “Wah, ada apa gerangan dengan orang ini. Tidakkah ada kasih sayang di hatimu? Kok, kamu yang menunggang sementara anakmu yang kecil itu dibiarkan kelelahan berjalan di belakangmu?”
Maka, Juha pun segera turun dari keledainya dan menyuruh anaknya menunggangi keledai itu. Keduanya berlalu sambil menepukkan tangan masing-masing saking gembiranya.
Baca juga: Kisah Hikmah: Husain Cucu Rasulullah SAW Kehausan Jelang Sakaratul Maut
Tak berapa lama berjalan, segerombolan orang tua yang tengah duduk-duduk santai di bawah terik matahari melihat dan sontak saja saling mengomentari, “Wahai Pak Tua, kamu berjalan kaki padahal sudah renta, sementara anakmu engkau biarkan begitu saja mengendarai keledai itu. Bagaimana bisa kamu kelak mendidiknya memiliki etika dan tata krama?”
“Apakah kamu sudah mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan? Kalau begitu, mari kita naik bersama-sama!" kata Juha kepada anaknya mencoba metode baru. Mudah-mudahan saja kali ini tak ada lagi orang yang bakal ngomongin, demikian pikir Juha.
Lantas keduanya pun mengendarai keledai kecil itu. Kali ini, mereka berpapasan dengan sekelompok orang yang dikenal sebagai pencinta binatang dan lingkungan. Melihat pemandangan “mengerikan” itu, kontan saja mereka meneriaki sang ayah dan anak, “Takutlah kepada Allah wahai anak manusia! Kasihanilah binatang yang kurus kering ini! Bagaimana bisa kalian berdua menungganginya bersama-sama sementara timbangan masing-masing kalian saja lebih berat daripada keledai ini?”
“Kamu dengar tadi, Nak?” kata Juha kepada anaknya. Juha lalu turun dari keledai itu dan kemudian menurunkan anaknya. “Kalau begitu, mari kita berjalan saja dan kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita sehingga bisa terhindar dari omelan orang,” saran Juha mencoba cara lainnya.
Mereka kemudian berjalan sementara keledainya dibiarkan saja berlalu mendahului di depan mereka. Saat itu di tengah perjalanan, mereka berdua bertemu dengan sejumlah pemuda berandalan. Melihat pemandangan tersebut, tentu saja mereka mengejek Pak Tua dan anaknya itu seraya berkata, “Demi Allah, yang pantas adalah keledai ini mengendarai kalian berdua sehingga kalian bisa menyelamatkannya dari berbagai gangguan selama di perjalanan!”
Perjalanan pun dilanjutkan. Tetapi, ucapan para berandalan itu rupanya memengaruhi Juha. Dia dan anaknya lalu mencari ranting-ranting pepohonan dan menambatkan dengan kuat keledai itu pada ranting-ranting tersebut. Setelah rapi, Juha lalu memikul salah satunya, sementara anaknya pada sisi yang lainnya.
Baru saja mereka melangkah beberapa ratus meter, tiba-tiba sekumpulan warga yang dilalui mereka sontak menertawakan pemandangan aneh kedua orang tersebut. Setelah dilaporkan, akhirnya mereka berdua ditangkap oleh polisi karena dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Mereka juga segera digiring ke rumah sakit jiwa.
Baca juga: Kisah Hikmah : Tentang Tasbih Fatimah
Sesampainya Juha di rumah sakit tersebut, tibalah baginya untuk menjelaskan ringkasan eksperimen mereka yang telah mencapai puncaknya itu. Seraya menoleh ke arah anaknya, Juha berkata, “Wahai anandaku, inilah akibat yang bakal dipikul orang yang selalu mendengar ocehan orang seputar ini-itu dan melulu ingin mendapatkan kerelaan dari mereka!”
Juha lalu menunggangi keledai itu dan menyuruh sang anak berjalan di belakangnya. Baru saja berjalan beberapa langkah, keduanya berpapasan dengan serombongan wanita. Kontan saja para wanita itu menyoraki Juha, “Wah, ada apa gerangan dengan orang ini. Tidakkah ada kasih sayang di hatimu? Kok, kamu yang menunggang sementara anakmu yang kecil itu dibiarkan kelelahan berjalan di belakangmu?”
Maka, Juha pun segera turun dari keledainya dan menyuruh anaknya menunggangi keledai itu. Keduanya berlalu sambil menepukkan tangan masing-masing saking gembiranya.
Baca juga: Kisah Hikmah: Husain Cucu Rasulullah SAW Kehausan Jelang Sakaratul Maut
Tak berapa lama berjalan, segerombolan orang tua yang tengah duduk-duduk santai di bawah terik matahari melihat dan sontak saja saling mengomentari, “Wahai Pak Tua, kamu berjalan kaki padahal sudah renta, sementara anakmu engkau biarkan begitu saja mengendarai keledai itu. Bagaimana bisa kamu kelak mendidiknya memiliki etika dan tata krama?”
“Apakah kamu sudah mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan? Kalau begitu, mari kita naik bersama-sama!" kata Juha kepada anaknya mencoba metode baru. Mudah-mudahan saja kali ini tak ada lagi orang yang bakal ngomongin, demikian pikir Juha.
Lantas keduanya pun mengendarai keledai kecil itu. Kali ini, mereka berpapasan dengan sekelompok orang yang dikenal sebagai pencinta binatang dan lingkungan. Melihat pemandangan “mengerikan” itu, kontan saja mereka meneriaki sang ayah dan anak, “Takutlah kepada Allah wahai anak manusia! Kasihanilah binatang yang kurus kering ini! Bagaimana bisa kalian berdua menungganginya bersama-sama sementara timbangan masing-masing kalian saja lebih berat daripada keledai ini?”
“Kamu dengar tadi, Nak?” kata Juha kepada anaknya. Juha lalu turun dari keledai itu dan kemudian menurunkan anaknya. “Kalau begitu, mari kita berjalan saja dan kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita sehingga bisa terhindar dari omelan orang,” saran Juha mencoba cara lainnya.
Mereka kemudian berjalan sementara keledainya dibiarkan saja berlalu mendahului di depan mereka. Saat itu di tengah perjalanan, mereka berdua bertemu dengan sejumlah pemuda berandalan. Melihat pemandangan tersebut, tentu saja mereka mengejek Pak Tua dan anaknya itu seraya berkata, “Demi Allah, yang pantas adalah keledai ini mengendarai kalian berdua sehingga kalian bisa menyelamatkannya dari berbagai gangguan selama di perjalanan!”
Perjalanan pun dilanjutkan. Tetapi, ucapan para berandalan itu rupanya memengaruhi Juha. Dia dan anaknya lalu mencari ranting-ranting pepohonan dan menambatkan dengan kuat keledai itu pada ranting-ranting tersebut. Setelah rapi, Juha lalu memikul salah satunya, sementara anaknya pada sisi yang lainnya.
Baru saja mereka melangkah beberapa ratus meter, tiba-tiba sekumpulan warga yang dilalui mereka sontak menertawakan pemandangan aneh kedua orang tersebut. Setelah dilaporkan, akhirnya mereka berdua ditangkap oleh polisi karena dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Mereka juga segera digiring ke rumah sakit jiwa.
Baca juga: Kisah Hikmah : Tentang Tasbih Fatimah
Sesampainya Juha di rumah sakit tersebut, tibalah baginya untuk menjelaskan ringkasan eksperimen mereka yang telah mencapai puncaknya itu. Seraya menoleh ke arah anaknya, Juha berkata, “Wahai anandaku, inilah akibat yang bakal dipikul orang yang selalu mendengar ocehan orang seputar ini-itu dan melulu ingin mendapatkan kerelaan dari mereka!”
Lihat Juga :