Sering Diremehkan Muslimah, Ini Adab Berbicara dengan Lawan Jenis
Selasa, 18 Januari 2022 - 08:22 WIB
Dalam kehidupan sehari-hari, kaum muslimah tidak lepas dari interaksi dan berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahram, karenanya perlu mengetahui adab-adabnya yang sesuai syariat. Foto ilustrasi/ist
Dalam Islam, berbicara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram , sebenarnya tidak dilarang. Hanya syaratnya, pembicaraan yang dilakukan memenuhi ketentuan secara syara’. Pembicaraan boleh dilakukan jika tidak berkhalwat, tidak menimbulkan fitnah, isi pembicaraan mengandung kebaikan, serta tetap menjaga adab-adab kesopanan yang berlaku.
Dalam melakukan percakapan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, kita bisa meneladani sikap para istri nabi . Sebagaimana firman Allah Ta'ala :
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,"(QS Al-Ahzab : 32)
Baca juga: Mencontoh Adab Berkomunikasi Sesuai Tuntunan Rasul
Ayat itu menjelaskan tentang adab saat berbicara dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Baik secara langsung, maupun via teks atau media sosial. Untuk menjaga diri dari fitnah, hendaknya perempuan dan laki-laki yang berdialog atau berkirim pesan dengan lawan jenis bukan muhrim bisa menjaga diri.
Batasan dan Adab Berkomunikasi
Dalam kehidupan sehari-hari, kaum muslimah juga tidak lepas dari interaksi dan berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahram ini. Ketika saat berbelanja, sekolah, kuliah, bekerja dan aktivitas lainnya.
Ustadzah Ummi Fairuz Ar-Rahbini menjelaskan, ada aturan-aturan dalam muamalah antara seorang laki-laki dan perempuan. Menurut istri Buya Yahya ini, dalam pembicaraan dengan lawan jenis, intinya jangan merasa nyaman, jangan dinikmati dan hati-hatilah karena memang awalnya ketertarikan itu tidak serta merta.
Biasanya dimulai dari obrolan santai, pembahasan tugas dan seterusnya lalu berlanjut dengan candaan yang menjadikan kita semakin leboh nyaman dan senang untuk meneruskan komunikasi sampai akhirnya akan menjurus kearah yang lebih privasi.
Dalam melakukan percakapan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, kita bisa meneladani sikap para istri nabi . Sebagaimana firman Allah Ta'ala :
يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,"(QS Al-Ahzab : 32)
Baca juga: Mencontoh Adab Berkomunikasi Sesuai Tuntunan Rasul
Ayat itu menjelaskan tentang adab saat berbicara dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Baik secara langsung, maupun via teks atau media sosial. Untuk menjaga diri dari fitnah, hendaknya perempuan dan laki-laki yang berdialog atau berkirim pesan dengan lawan jenis bukan muhrim bisa menjaga diri.
Batasan dan Adab Berkomunikasi
Dalam kehidupan sehari-hari, kaum muslimah juga tidak lepas dari interaksi dan berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahram ini. Ketika saat berbelanja, sekolah, kuliah, bekerja dan aktivitas lainnya.
Ustadzah Ummi Fairuz Ar-Rahbini menjelaskan, ada aturan-aturan dalam muamalah antara seorang laki-laki dan perempuan. Menurut istri Buya Yahya ini, dalam pembicaraan dengan lawan jenis, intinya jangan merasa nyaman, jangan dinikmati dan hati-hatilah karena memang awalnya ketertarikan itu tidak serta merta.
Biasanya dimulai dari obrolan santai, pembahasan tugas dan seterusnya lalu berlanjut dengan candaan yang menjadikan kita semakin leboh nyaman dan senang untuk meneruskan komunikasi sampai akhirnya akan menjurus kearah yang lebih privasi.