Uniknya Islam: Mengajarkan Tauhid Namun Merangkul Keberagaman

Jum'at, 13 Mei 2022 - 16:47 WIB
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali

Imam/Direktur Jamaica Muslim Center

Presiden Nusantara Foundation

Senin malam 9 Mei 2022, saya mendapat kehormatan menyampaikan ceramah kunci (keynote speech) pada acara pertemuan interfaith tahunan dan pemberian penghargaan kepada beberapa tokoh agama di Florida US. Acara ini diadakan dengan kolaborasi antara Interfaith Center Northeast Florida dan University of North Florida.

Tema yang diusung adalah "Our Common Humanity: together we build a better world". Intinya kira-kira menekankan bahwa basis koneksi antara manusia itu ada pada kemanusiaan itu. Dan atas dasar kemanusiaan itu dengan segala perbedaannya manusia bisa bekerja sama untuk membangun dunia yang lebih baik.

Salah satu poin penting dari pesentasi saya adalah menekankan kembali urgensi memahami makna "insaniat" atau kemanusiaan manusia. Rujukan saya dalam mengelaborasi poin ini adalah Surat Al-Hujurat Ayat 13.

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kalian dari seorang pria (Adam) dan seorang wanita (Hawa) dan menjadikan kalian berbagai bangsa dan suku untuk saling mengenal. Sesungguhnya yang termulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti".

Salah satu dari makna terpenting dari sekian banyak makna (pelajaran) yang saya samppaikan dari ayat ini adalah makna kemanusiaan (insaniat). Seruan Allah "wahai manusia" pada ayat ini sejatinya mengingatkan kita akan sebuah hakikat terpenting tentang hidup dan esensi relasi antarmanusia.

Seruan kemanusiaan ini merupakan penekanan akan realita manusia sesungguhnya. Bahwa manusia itu bukan pada fisiknya dan afiliasinya. Bukan bentuk tubuhnya atau warna kulitnya. Tapi esensi manusia ada pada apa yang disebut "insaniat" (kemanusiaan).

Kemanusiaan ini pulalah sejatinya yang menjadi dasar koneksi atau relasi antar sesama manusia. Sebab "insaniat" inilah yang menjadi "common ground" (pijakan bersama) yang tidak diperselisihkan. Manusia secara warna kulit, bahasa, ras dan etnis, bahkan keyakinan (faith) boleh berbeda. Perbedaan itu bahkan menjadi bagian dari sunnatullah. Tapi "insaniat" tidak akan pernah berubah. Sehingga ikatan terkuat antar manusia itu ada pada kemanusiaannya.

Jika kemanusiaan (insaniat) ini dipahami secara agama maka sesungguhnya itulah nilai "spiritulitas" (ruhiyah). Sehingga pernah saya sampaikan bahwa manusia itu terdefenisikan sebagai "wujud spiritualitas yang bertengger pada eksistensi fisikalnya" (spiritual being in a physical body).

Berdasarkan pemahaman yang demikian sejatinya interfaith itu dapat terbangun. Dengan kata lain, agama-agama yang bersifat pertikular (masing-masing dengan keunikannya) itu memang plural (berbeda-beda). Tapi semua agama-agama itu memilki ikatan universal tadi (spiritualitas).

Dengan demikian apapun keyakinan atau agama seseorang, terlepas dari pemahaman partikular keagamaannya, memiliki ikatan dengan spiritulitas yang bersifat universal tadi. Sehingga perbedaan agama-agama tidak seharusnya menjadikan manusia saling terpecah, apalagi saling memusuhi dan berperang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!