Kisah Perampok yang Bertobat dan Menjadi Ulama Besar
Kamis, 01 September 2022 - 05:10 WIB
Kisah tobat perampok dan menjadi ulama besar ini layak kita jadikan pelajaran berharga. Beliau adalah Fudahil bin Iyadh, mantan perampok yang menjadi guru para ulama pada abad ke-2 Hijriyah. Foto/ilustrasi
Tak ada yang menyangka kalau perampok yang ditakuti pedagang ini menjadi seorang ulama dan muhaddis besar pada Abad ke-2 Hijriyah. Kisah ini terjadi pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid.
Begitulah apabila Allah berkehendak dan memberikan hidayah kepada seseorang. Jangankan perampok, seorang musyrik yang memusuhi Islam pun bisa menjadi sahabat setia Nabi berkat rahmat-Nya yang Maha Pemurah.
Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury menceritakan kisah ini dalam kitabnya Al-Mawaizh Al-Usfuriyah. Beliau bernama Fudhail bin 'Iyadh (wafat 187 H). Dulunya dikenal seorang perampok yang keluar mencari mangsa dari satu daerah ke daerah lain.
Pada suatu malam, ketika sedang beraksi merampok orang-orang, ia meletakkan kepalanya di atas pangkuan pelayannya. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat segerombolan orang. Ketika mereka mulai dekat dengan Fudhail, mereka berhenti dan berkata: "Fudhail ada di sana bersama anak-anak buahnya. Apa yang harus kita lakukan?"
Mereka akhirnya berpencar menjadi tiga kelompok. Salah satu kelompok dari mereka bekata: "Aku akan memanahnya dari sini. Jika anak panah mengenainya maka kita akan meneruskan perjalanan dan jika tidak mengenainya maka kita akan kembali pulang."
Kemudian orang pertama dari mereka memanah sambil membaca Firman Allah:
اَلَمۡ يَاۡنِ لِلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ تَخۡشَعَ قُلُوۡبُهُمۡ لِذِكۡرِ اللّٰ
Artinya: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah..." (QS. Al-Hadid Ayat 16)
Kemudian Fudhail berteriak keras dan jatuh tersungkur pingsan. Pelayannya mengira Fudhail terkena anak panah. Kemudian pelayannya segera memeriksa apakah betul Fudhail terkena anak panah. Setelah Fudhail tersadar dari pingsan, ia berkata: "Panah Allah telah mengenaiku".
Kemudian orang kedua dari germobolan itu memanahkan anak panah ke arah Fudhail sambil membaca firman Allah:
Begitulah apabila Allah berkehendak dan memberikan hidayah kepada seseorang. Jangankan perampok, seorang musyrik yang memusuhi Islam pun bisa menjadi sahabat setia Nabi berkat rahmat-Nya yang Maha Pemurah.
Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury menceritakan kisah ini dalam kitabnya Al-Mawaizh Al-Usfuriyah. Beliau bernama Fudhail bin 'Iyadh (wafat 187 H). Dulunya dikenal seorang perampok yang keluar mencari mangsa dari satu daerah ke daerah lain.
Pada suatu malam, ketika sedang beraksi merampok orang-orang, ia meletakkan kepalanya di atas pangkuan pelayannya. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat segerombolan orang. Ketika mereka mulai dekat dengan Fudhail, mereka berhenti dan berkata: "Fudhail ada di sana bersama anak-anak buahnya. Apa yang harus kita lakukan?"
Mereka akhirnya berpencar menjadi tiga kelompok. Salah satu kelompok dari mereka bekata: "Aku akan memanahnya dari sini. Jika anak panah mengenainya maka kita akan meneruskan perjalanan dan jika tidak mengenainya maka kita akan kembali pulang."
Kemudian orang pertama dari mereka memanah sambil membaca Firman Allah:
اَلَمۡ يَاۡنِ لِلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ تَخۡشَعَ قُلُوۡبُهُمۡ لِذِكۡرِ اللّٰ
Artinya: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah..." (QS. Al-Hadid Ayat 16)
Kemudian Fudhail berteriak keras dan jatuh tersungkur pingsan. Pelayannya mengira Fudhail terkena anak panah. Kemudian pelayannya segera memeriksa apakah betul Fudhail terkena anak panah. Setelah Fudhail tersadar dari pingsan, ia berkata: "Panah Allah telah mengenaiku".
Kemudian orang kedua dari germobolan itu memanahkan anak panah ke arah Fudhail sambil membaca firman Allah:
Lihat Juga :