Muhammad Sang Mutiara: Teladan Terbaik Menentang Segala Bentuk Kezaliman
Jum'at, 21 Oktober 2022 - 17:24 WIB
Imam Shamsi Ali, Direktur Jamaica Muslim Center yang juga Presiden Nusantara Foundation. Foto/Istimewa
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Dunia yang gelap saat ini biasa juga disebut dengan dunia yang tidak menentu (a world with uncertainty). Dunia yang seperti ini pastinya mengalami kebingungan yang dalam (deep confusion). Di era Rasulullah SAW dunia seperti ini disebut dengan dunia yang penuh kegelapan (zhulumat).
Kata ظلمات dalam bahasa Al-Qur'an tidak saja dimaknai sebagai situasi di mana cahaya atau sinar tidak ada (absen). Tapi juga menggambarkan situasi kekacauan (chaotic) yang menimbulkan keresahan, bahkan penderitaan. Kata ini pada dasarnya lebih identik dengan keadaan yang keluar dari batas-batas kewajaran.
Keadaan yang melanggar batas-batas kewajaran (thabiat) dalam bahasa sehari-sehari disebut kezaliman (zhulm). Kezaliman dalam berbagai wujudnya inilah yang menjadi kegelapan dalam hidup manusia. Kezaliman dalam akidah (syirik), kezaliman dalam pendidikan (kebodohan), kezaliman dalam kehidupan sosial dan perekonomian (ketidak adilan sosial), kezaliman dalam perpolitikan (kediktatoran). Baik kediktatoran kasar maupun halus, termasuk kediktatoran yang diakui sebagai sebuah prilaku politik diktator yang konstitusional.
Mekkah saat itu penuh dengan ragam kegelapan atau kezaliman. Situasi ini yang menjadikan Muhammad yang batinnya terpelihara dalam kefitrahan menjadi resah. Beliau kemudian tergerak untuk melakukan perubahan. Hanya saja ketika itu beliau dalam kesendirian. Prilaku zalim ketika itu seolah telah menjadi bagian dari alam (alami). Melakukan sesuatu yang melawan kezaliman justeru akan dianggap keanehan, bahkan pemberontakan.
Muhammad SAW yang ketika itu sesungguhnya telah memasuki masa hidup profesional sebagai menejer bisnis atau CEO di masa kini. Beliau mengelola perusahaan isterinya yang saat itu dikenal sebagai business woman yang sangat berhasil dan terhormat. Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid. Namun kesibukan Muhammad sebagai CEO tidak menjadikannya lupa akan tanggung jawab sosialnya. Membawa perubahan, menghadirkan cahaya dalam kehidupan manusia.
Dari hari ke hari beliau resah. Gelisah dengan berbagai penentangan terhadap fitrah manusia dan kehidupan. Beliau pun seringkali menjauhkan diri dari situasi yang demikian. Seolah ingin melepaskan keresahan dan kegelisahan itu. Beliaupun menghabiskan banyak waktu di dalam sebuah gua di atas sebuah gunung di luar kota. Inilah yang dikenal dalam sejarah dengan takhannuts dan gunungnya kemudian lebih dikenal dengan sebutan Jabal Nur.
Kata takhannuts dimaknai sebagai perenungan yang mendalam dalam kesendirian. Sebagian menyamakannya dengan kegiatan meditasi. Sebagian yang lain cenderung melihatnya mirip dengan kegiatan nyepi dalam tradisi Hindu. Tapi pastinya walau ada persamannya, kegiatan takhannuts ini memiliki makna substantial maupun tujuan yang berbeda yang bukan saatnya saya elaborasikan.
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Dunia yang gelap saat ini biasa juga disebut dengan dunia yang tidak menentu (a world with uncertainty). Dunia yang seperti ini pastinya mengalami kebingungan yang dalam (deep confusion). Di era Rasulullah SAW dunia seperti ini disebut dengan dunia yang penuh kegelapan (zhulumat).
Kata ظلمات dalam bahasa Al-Qur'an tidak saja dimaknai sebagai situasi di mana cahaya atau sinar tidak ada (absen). Tapi juga menggambarkan situasi kekacauan (chaotic) yang menimbulkan keresahan, bahkan penderitaan. Kata ini pada dasarnya lebih identik dengan keadaan yang keluar dari batas-batas kewajaran.
Keadaan yang melanggar batas-batas kewajaran (thabiat) dalam bahasa sehari-sehari disebut kezaliman (zhulm). Kezaliman dalam berbagai wujudnya inilah yang menjadi kegelapan dalam hidup manusia. Kezaliman dalam akidah (syirik), kezaliman dalam pendidikan (kebodohan), kezaliman dalam kehidupan sosial dan perekonomian (ketidak adilan sosial), kezaliman dalam perpolitikan (kediktatoran). Baik kediktatoran kasar maupun halus, termasuk kediktatoran yang diakui sebagai sebuah prilaku politik diktator yang konstitusional.
Mekkah saat itu penuh dengan ragam kegelapan atau kezaliman. Situasi ini yang menjadikan Muhammad yang batinnya terpelihara dalam kefitrahan menjadi resah. Beliau kemudian tergerak untuk melakukan perubahan. Hanya saja ketika itu beliau dalam kesendirian. Prilaku zalim ketika itu seolah telah menjadi bagian dari alam (alami). Melakukan sesuatu yang melawan kezaliman justeru akan dianggap keanehan, bahkan pemberontakan.
Muhammad SAW yang ketika itu sesungguhnya telah memasuki masa hidup profesional sebagai menejer bisnis atau CEO di masa kini. Beliau mengelola perusahaan isterinya yang saat itu dikenal sebagai business woman yang sangat berhasil dan terhormat. Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid. Namun kesibukan Muhammad sebagai CEO tidak menjadikannya lupa akan tanggung jawab sosialnya. Membawa perubahan, menghadirkan cahaya dalam kehidupan manusia.
Dari hari ke hari beliau resah. Gelisah dengan berbagai penentangan terhadap fitrah manusia dan kehidupan. Beliau pun seringkali menjauhkan diri dari situasi yang demikian. Seolah ingin melepaskan keresahan dan kegelisahan itu. Beliaupun menghabiskan banyak waktu di dalam sebuah gua di atas sebuah gunung di luar kota. Inilah yang dikenal dalam sejarah dengan takhannuts dan gunungnya kemudian lebih dikenal dengan sebutan Jabal Nur.
Kata takhannuts dimaknai sebagai perenungan yang mendalam dalam kesendirian. Sebagian menyamakannya dengan kegiatan meditasi. Sebagian yang lain cenderung melihatnya mirip dengan kegiatan nyepi dalam tradisi Hindu. Tapi pastinya walau ada persamannya, kegiatan takhannuts ini memiliki makna substantial maupun tujuan yang berbeda yang bukan saatnya saya elaborasikan.
Lihat Juga :