Tafsir Surat Al Fatihah Ayat 7 : Siapa yang Dimaksud Orang yang Tersesat Itu?
Sabtu, 05 November 2022 - 10:45 WIB
Siapa yang dimaksud orang yang tersesat di Surat Al-Fatihah ayat ke tujuh? Salah satu maksud tersesat, artinya jalan tersebut bukan jalan orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengamalkannya. Foto ilustrasi/ist
Siapa yang dimaksud orang yang tersesat di Surat Al-Fatihah ayat ke tujuh. Mengapa Al-Qur'an menggunakan termad-Dhoolliin (sesat) dalam ayat terakhir surat Al Fatihah tersebut).
Meski terjadi silang pendapat para mufasir tentang perkiraan maksud dari ayat tersebut dan terkait makna dari lafadz tersebut, namun yang pasti, kataad-dhoolliin,secara bahasa dapat diartikan sebagai sesat, dan menyimpang dari kebenaran. Hal ini disebutkan dalam kamus Munawwir.
Baca juga: Surat Al-Qur'an untuk Menenangkan Hati yang Dilanda Gundah dan Gelisah
Allah Ta'ala berfirman :
"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau Beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah : 7).
Kitab Tafsir Muyassar edisi juz 1 - 8 karya Syaikh 'Aidh Al Qorni menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini ada jalan yang jelas dan terang. Dan jalan itu adalah jalan yang ditempuh para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan jalan orang-orang saleh.
Artinya, jalan tersebut bukan jalan orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengamalkannya. Dan bukan pula jalan orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan. Sesat juga diartikan menjauh dari jalan kebenaran dan menyimpang dari jalan yang lurus.
Dalam Tafsir Muyassar orang yang sesat tersebut adalah seperti halnya orang-orang nasrani. Tafsir Jalalain juga menjelaskan definisiad-Dhoolliinsebagai orang-orang nasrani sebab mereka bukanlah orang yang diberikan petunjuk oleh Allah Ta'ala. Ibn Kastir juga memaknai kata sesat dalam ayat di atas merujuk kepada orang nasrani yang mana mereka telah melakukan kesesatan.
Meski terjadi silang pendapat para mufasir tentang perkiraan maksud dari ayat tersebut dan terkait makna dari lafadz tersebut, namun yang pasti, kataad-dhoolliin,secara bahasa dapat diartikan sebagai sesat, dan menyimpang dari kebenaran. Hal ini disebutkan dalam kamus Munawwir.
Baca juga: Surat Al-Qur'an untuk Menenangkan Hati yang Dilanda Gundah dan Gelisah
Allah Ta'ala berfirman :
ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau Beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah : 7).
Kitab Tafsir Muyassar edisi juz 1 - 8 karya Syaikh 'Aidh Al Qorni menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini ada jalan yang jelas dan terang. Dan jalan itu adalah jalan yang ditempuh para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan jalan orang-orang saleh.
Artinya, jalan tersebut bukan jalan orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengamalkannya. Dan bukan pula jalan orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan. Sesat juga diartikan menjauh dari jalan kebenaran dan menyimpang dari jalan yang lurus.
Dalam Tafsir Muyassar orang yang sesat tersebut adalah seperti halnya orang-orang nasrani. Tafsir Jalalain juga menjelaskan definisiad-Dhoolliinsebagai orang-orang nasrani sebab mereka bukanlah orang yang diberikan petunjuk oleh Allah Ta'ala. Ibn Kastir juga memaknai kata sesat dalam ayat di atas merujuk kepada orang nasrani yang mana mereka telah melakukan kesesatan.
Lihat Juga :