Menebarkan Kebajikan Melalui Berbagi dan Berempati (2) - Dra Hj Ida Fauziyah MSi

Rasulullah SAW bersabda, “tidaklah beriman dengan iman yang sempurna di antara kalian semua sampai mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri”, (hadist riwayat Bukhari dan Muslim). Dari sabda ini menunjukkan Islam sangat mendorong umatnya untuk memiliki empati pada sesama. Kalau kita berada pada posisi yang berkecukupan rizki, kita pun harus senang jika orang lain mendapatkan hal yang sama. Kalau kita berharap agar perut kita kenyang, seyogyanya kita berkeinginan dan berharap agar orang lain pun perutnya kenyang dan tidak susah makan. Kalau kita memimpikan kesuksesan, di saat yang sama selayaknya juga kita memikirkan kesuksesan orang lain. Sebaliknya apabila kita tidak menyukai kesengsaraan dan kesulitan, maka tak elok kita membiarkan orang lain kesulitan dan sengsara. Bila kita berusaha keras terhindar dari kesedihan, terhindar dari kegagalan, maka rasanya tidak pantas kita berdiam diri melihat orang lain sedih bahkan terpuruk. Singkatnya agama tidak membenarkan sama sekali seseorang berpangkutangan ketika sesamanya tengah tertimpa kesusahan. Bahkan individu-individu berwatak egois dicap oleh Allah SWT sebagai pendusta agama. Karena kesalehan seseorang itu tak melulu identik dengan seberapa sering kita bersujud, tetapi juga ditentukan seberapa besar kepedulian dan solidaritas yang melekat dalam kesadaran dan tindakan sehari-hari.
Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah SWT melipatgandakan ganjaran pada siapa yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya dan Maha Mengetahui.
Semangat berbagi dan berempati harus terus kita gaungkan dimana kita saat ini tengah menghadapi masalah akibat pandemi Covid-19. Tak hanya pada masalah kesehatan, namun juga sudah meluas pada masalah sosial dan ekonomi. Banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan, banyak pedagang yang terpaksa kehilangan sumber penghasilan dan yang belum sempat bekerja pun semakin tertekan oleh beban hidup yang bertambah berat. Apalagi himbauan Stay at Home atau berdiam di rumah dimaksudkan sebagai upaya pencegahan virus berbahaya ini sulit dipungkiri turut memperkecil peluang sebagian orang untuk mengais rizki di berbagai sektor baik formal maupun informal. Situasi rentan ini rasanya tak mungkin dipulihkan dalam waktu yang cepat. Oleh karena itu kesediaan semua kita, bergandengan tangan, bergotong royong, saling bahu membahu meringankan penderitaan masyarakat khususnya masyarakat di lapisan bawah. Bagi yang punya kelonggaran finansial bisa memberikan donasi uang ataupun barang kebutuhan pokok.
Simak tausiyah dari Menteri Ketenagakerjaan RI, Dra. Hj. Ida Fauziyah, M.Si selengkapnya dalam video berikut ini.

(ary)
cover top ayah
وَلَوۡ يُعَجِّلُ اللّٰهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسۡتِعۡجَالَهُمۡ بِالۡخَيۡرِ لَـقُضِىَ اِلَيۡهِمۡ اَجَلُهُمۡ‌ؕ فَنَذَرُ الَّذِيۡنَ لَا يَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا فِىۡ طُغۡيَانِهِمۡ يَعۡمَهُوۡنَ‏
Jika Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pasti diakhiri umur mereka. Namun Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang dalam kesesatan.

(QS. Yunus:11)
cover bottom ayah