Puasa di Tanah Suci Saat Pandemi, Irfan: Doakan Kami Bisa Pulang
Selasa, 28 April 2020 - 20:21 WIB
loading...
A
A
A
Arab Saudi setidaknya mengambil tiga langkah bidang pendidikan di tengah pandemi. Pertama, pemerintah memberlakukan screening terutama bagi mahasiswa dan ekspatriat yang baru tiba dari negeri China.
Kedua, menteri pendidikan membentuk gugus tugas untuk menanggulangi penyebaran wabah ini dan mensosialisasikannya kepada seluruh kampus dan sekolah—baik negeri maupun swasta.
Ketiga, melakukan menyuluhan dan penyemprotan disinfektan ke semua kampus dan sekolah yang ada di Arab Saudi.
Pemerintah Arab Saudi juga memberlakukan beberapa peraturan lain dalam lockdown. Di antaranya pemberlakuan jam malam dari pukul 7 malam hingga 6 pagi. Khusus di kota Madinah Al-Munawwarah, Makkah, dan Riyadh, jam malam diberlakukan dari pukul 3 sore hingga 6 pagi. Bagi yang melanggar jam malam didenda sebesar 10.000 real atau sekitar Rp40 juta rupiah.
“Kita benar-benar tidak boleh ke mana-mana. Di dalam asrama ada minimarket. Di situlah kita berbelanja kebutuhan sehari-hari. Sementara mal-mal dan pasar tutup,” ujar Irfan.
Tergolong Tinggi
Arab Saudi merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang angka penyebaran Virus Corona tergolong tinggi. Sampai 27 April 2020, tercatat 18.811 kasus dengan meninggal 144 orang dan sembuh 2.531 orang.
Warga Negara Indonesia atau WNI yang terjangkit virus Corona untuk yang di Mekkah berjumlah 16 orang. Dari jumlah itu 3 orang dinyatakan sembuh, 10 orang dikarantina dan 3 orang meninggal. Sedangkan di Madinah, 5 orang positif corona, sebanyak 3 orang dikarantina, dan 2 meninggal. Di Riyadh 2 orang, keduanya dikarantina, dan di Najran 1 orang, kini sudah sembuh.
Pada tanggal 18 Maret 2020 pemerintah Arab Saudi resmi menutup semua masjid dan meniadakan salat jamaah selain di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Dua hari berikutnya, yaitu pada tanggal 20 Maret, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram juga resmi ditutup.
Biasanya mahasiswa mengikuti kajian di sana, baik kajian hadis, halaqah Quran atau yang lain. Kondisi saat ini semua itu tidak lagi bisa dilakukan.
Sejak 20 Maret 2020 pula, semua penerbangan dan transportasi umum di Arab Saudi diberhentikan. Biasanya, mahasiswa di Arab Saudi bisa pulang setahun sekali di bulan Ramadhan. Mahasiswa dari Jerman, Inggris, Turki, Somalia, menurut Irfan, sudah pulang, pada awal April lalu.
Kedua, menteri pendidikan membentuk gugus tugas untuk menanggulangi penyebaran wabah ini dan mensosialisasikannya kepada seluruh kampus dan sekolah—baik negeri maupun swasta.
Ketiga, melakukan menyuluhan dan penyemprotan disinfektan ke semua kampus dan sekolah yang ada di Arab Saudi.
Pemerintah Arab Saudi juga memberlakukan beberapa peraturan lain dalam lockdown. Di antaranya pemberlakuan jam malam dari pukul 7 malam hingga 6 pagi. Khusus di kota Madinah Al-Munawwarah, Makkah, dan Riyadh, jam malam diberlakukan dari pukul 3 sore hingga 6 pagi. Bagi yang melanggar jam malam didenda sebesar 10.000 real atau sekitar Rp40 juta rupiah.
“Kita benar-benar tidak boleh ke mana-mana. Di dalam asrama ada minimarket. Di situlah kita berbelanja kebutuhan sehari-hari. Sementara mal-mal dan pasar tutup,” ujar Irfan.
Tergolong Tinggi
Arab Saudi merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang angka penyebaran Virus Corona tergolong tinggi. Sampai 27 April 2020, tercatat 18.811 kasus dengan meninggal 144 orang dan sembuh 2.531 orang.
Warga Negara Indonesia atau WNI yang terjangkit virus Corona untuk yang di Mekkah berjumlah 16 orang. Dari jumlah itu 3 orang dinyatakan sembuh, 10 orang dikarantina dan 3 orang meninggal. Sedangkan di Madinah, 5 orang positif corona, sebanyak 3 orang dikarantina, dan 2 meninggal. Di Riyadh 2 orang, keduanya dikarantina, dan di Najran 1 orang, kini sudah sembuh.
Pada tanggal 18 Maret 2020 pemerintah Arab Saudi resmi menutup semua masjid dan meniadakan salat jamaah selain di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Dua hari berikutnya, yaitu pada tanggal 20 Maret, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram juga resmi ditutup.
Biasanya mahasiswa mengikuti kajian di sana, baik kajian hadis, halaqah Quran atau yang lain. Kondisi saat ini semua itu tidak lagi bisa dilakukan.
Sejak 20 Maret 2020 pula, semua penerbangan dan transportasi umum di Arab Saudi diberhentikan. Biasanya, mahasiswa di Arab Saudi bisa pulang setahun sekali di bulan Ramadhan. Mahasiswa dari Jerman, Inggris, Turki, Somalia, menurut Irfan, sudah pulang, pada awal April lalu.
Lihat Juga :