Tradisi Nyadran di Bulan Syaban, Sudah Ada di Era Majapahit
Jum'at, 03 Maret 2023 - 13:49 WIB
loading...
A
A
A
Pelaksanaan tradisi nyadran pada umumnya dengan membaca doa dan ayat-ayat yang ada di Al-Quran. Selanjutnya juga ada tahlillan yang di tengah lingkaran terdapat kenduri dan sesajinya. Tahap terakhir tabur bunga dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama.
Baca juga: Asal-usul Syaban Disebut Ruwah Menurut Gus Baha
Campuran Hindu-Budha-Islam
Schrieke sebagaimana dikutip Koentjaraningrat dalam buku berjudul "Kebudayaan Jawa" mengatakan budaya tradisi Nyadran ini ditandai oleh suatu kehidupan keagamaan yang sangat sinkretistik, yakni campuran dari unsur-unsur agama Hindu, Buddha dan Islam.
Sinkretistik tersebut tampak ketika acara tahlilan dimulai pada Sholawat mengalunkan tembang-tembang berbahasa Arab – Jawa. Tampak pada perlengkapan kenduri yang dibawa oleh masing-masing anggota keluarga yang memiliki leluhur. Ada juga yang membakar kemenyan, dupa agar bau harum dari kemenyan dan dupa tersebut bisa mengingat keharuman atau perbuatan baiknya ketika leluhur hidup di dunia ini.
Muhammad Arifin dkk. dalam "Upaya Mempertahankan Tradisi Nyadran di Tengah Arus Modernisasi" menyebut tradisi nyadran mengandung nilai-nilai yang baik bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Salah satunya adalah mengajarkan kita untuk menghargai jasa-jasa dan menghormati para leluhur yang telah tiada dengan mendoakan agar memperoleh ketenangan di alamnya.
Selanjutnya dalam tradisi nyadran mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat yang telah kita peroleh dan dan mengajarkan kita untuk berbagi antar sesama, ini terlihat dari makanan - makanan yang dibagikan ke masyarakat seperti nasi tumpeng, ayam ingkung dan masih banyak lainnya.
Baca juga: Syaban Bulan Arwah dan Konsep Roh Imam Al-Ghazali
Baca juga: Asal-usul Syaban Disebut Ruwah Menurut Gus Baha
Campuran Hindu-Budha-Islam
Schrieke sebagaimana dikutip Koentjaraningrat dalam buku berjudul "Kebudayaan Jawa" mengatakan budaya tradisi Nyadran ini ditandai oleh suatu kehidupan keagamaan yang sangat sinkretistik, yakni campuran dari unsur-unsur agama Hindu, Buddha dan Islam.
Sinkretistik tersebut tampak ketika acara tahlilan dimulai pada Sholawat mengalunkan tembang-tembang berbahasa Arab – Jawa. Tampak pada perlengkapan kenduri yang dibawa oleh masing-masing anggota keluarga yang memiliki leluhur. Ada juga yang membakar kemenyan, dupa agar bau harum dari kemenyan dan dupa tersebut bisa mengingat keharuman atau perbuatan baiknya ketika leluhur hidup di dunia ini.
Muhammad Arifin dkk. dalam "Upaya Mempertahankan Tradisi Nyadran di Tengah Arus Modernisasi" menyebut tradisi nyadran mengandung nilai-nilai yang baik bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Salah satunya adalah mengajarkan kita untuk menghargai jasa-jasa dan menghormati para leluhur yang telah tiada dengan mendoakan agar memperoleh ketenangan di alamnya.
Selanjutnya dalam tradisi nyadran mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat yang telah kita peroleh dan dan mengajarkan kita untuk berbagi antar sesama, ini terlihat dari makanan - makanan yang dibagikan ke masyarakat seperti nasi tumpeng, ayam ingkung dan masih banyak lainnya.
Baca juga: Syaban Bulan Arwah dan Konsep Roh Imam Al-Ghazali
(mhy)
Lihat Juga :