Beragam Ujian dari Allah : Diberi Kesusahan, Keburukan bahkan Kebaikan
Minggu, 07 Mei 2023 - 19:20 WIB
loading...
Ketentuan ujian dari Allah Subhanahu wa taala tidak hanya berupa kesusahan dan keburukan saja. Ujian juga bisa berupa kebaikan. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Ketentuan ujian dari Allah Subhanahu wa ta'ala tidak hanya berupa kesusahan dan keburukan saja. Ujian juga bisa berupa kebaikan. Artinya, ujian itumencakup segala kondisi, baik itu ujian berupa kesusahan maupun kesenangan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." (QS. Al-Anbiya : 35)
Dalam sebuah hadis dari sahabat Anasradhiyallahu’anhu, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :
“Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Tidaklah Allah menetapkan kepadanya sesuatu kecuali itu merupakan kebaikan baginya“ (H.R Ahmad).
Sehingga, bagi seorang mukmin jika dia mendapat kebaikan dia bersyukur. Dan jika sedang diuji oleh Allah dengan kesusahan dan kesempitan seperti sakit, miskin, dan musibah lainnya akan menghadapinya dengan sabar. Baik bersyukur maupun sabar adalah kebaikan dan bernilai pahala di sisi Allah Ta'ala.
Dalam Kitab at-Tafsir al-Muyassar karya Syaikh 'Aidh Al Qorni, saat menafsirkan Surat Al Anbiya ayat 35 ("Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."), disebutkan bahwa setiap manusia pasti mati sepanjang apa pun usianya di kehidupan ini.
Dilanjutkan, bahwa kehidupan manusia di muka bumi ini tak lain dan tak bukan adalah ujian dan cobaan . Yakni dengan hukum-hukum syariat Allah Ta'ala baik berupa perintah, larangan, dan ketentuan halal maupun haram, juga dengan ketentuan yang menurut kita baik maupun buruk, serta yang sulit maupun yang mudah.
Lalu, semuanya akan kembali kepada Allah pada hari Kiamat agar Dia membalas setiap orang dengan amalnya masing-masing. Begitulah Allah Ta'ala sudah menentukan kehidupan seorang hamba untuk mengujinya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِا لشَّرِّ وَا لْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِ لَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." (QS. Al-Anbiya : 35)
Dalam sebuah hadis dari sahabat Anasradhiyallahu’anhu, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :
“Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Tidaklah Allah menetapkan kepadanya sesuatu kecuali itu merupakan kebaikan baginya“ (H.R Ahmad).
Sehingga, bagi seorang mukmin jika dia mendapat kebaikan dia bersyukur. Dan jika sedang diuji oleh Allah dengan kesusahan dan kesempitan seperti sakit, miskin, dan musibah lainnya akan menghadapinya dengan sabar. Baik bersyukur maupun sabar adalah kebaikan dan bernilai pahala di sisi Allah Ta'ala.
Dalam Kitab at-Tafsir al-Muyassar karya Syaikh 'Aidh Al Qorni, saat menafsirkan Surat Al Anbiya ayat 35 ("Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."), disebutkan bahwa setiap manusia pasti mati sepanjang apa pun usianya di kehidupan ini.
Dilanjutkan, bahwa kehidupan manusia di muka bumi ini tak lain dan tak bukan adalah ujian dan cobaan . Yakni dengan hukum-hukum syariat Allah Ta'ala baik berupa perintah, larangan, dan ketentuan halal maupun haram, juga dengan ketentuan yang menurut kita baik maupun buruk, serta yang sulit maupun yang mudah.
Lalu, semuanya akan kembali kepada Allah pada hari Kiamat agar Dia membalas setiap orang dengan amalnya masing-masing. Begitulah Allah Ta'ala sudah menentukan kehidupan seorang hamba untuk mengujinya.
Lihat Juga :