Amirul Hajj Imbau Jemaah Haji Tak Anggap Remeh Penyakit Batuk Pilek
Jum'at, 23 Juni 2023 - 21:00 WIB
loading...
A
A
A
Arianti mengaku, ada beberapa problem yang dihadapi layanan kesehatan. Hal itu karena pada tahun ini jumlah jemaah haji cukup besar dengan usia yang tidak dibatasi, ditambah cuaca panas hingga mencapai 40 derajat celsius.
"Problem yang kami hadapi ini lansia cukup tinggi, tidak ada pendamping. Ini membuat kami kesulitan untuk berkomunikasi. Mereka juga tidak tahu obatnya apa, dasar penyakitnya apa. Ini pula yang menyebabkan cukup tinggi kasus kematian dari jemaah haji," kata Arianti.
Arianti menyebut, banyak jemaah haji yang terserang penyakit Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Meski demikian, hal itu dapat diselesaikan di klinik kesehatan yang ada di kloter.
"Kita lihat banyaknya jemaah yang sakit itu ISPA. Biasanya bisa di selesaikan di kloter. Kalau yang di KKHI biasanya sudah masuk pneumonia. Kita juga ada 300 pasien di RSAS yang umumnya menderita penyakit jantung," katanya.
Terkait ketersediaan obat-obatan, Arianti mengakui ada beberapa obat yang sampai kehabisan. "Kita tidak menyangka kasus cukup besar ya terutama batuk, pilek, dan juga demensia. Ada penambahan obat-obatan yang kita tambah saat datang ke Makkah," ujarnya.
Tidak hanya obat-obatan, pihaknya juga menyiapkan dokter-dokter spesialis jantung dan paru untuk melayani jemaah haji. Arianti berharap ke depan jemaah yang diberangkatkan telah memenuhi persyaratan.
"Ini menjadi evaluasi kita bersama ke depannya untuk bisa memberangkatkan jemaah haji sudah memenuhi persyaratan karena kami menemui jemaah baru datang sudah sakit," pungkasnya.
"Problem yang kami hadapi ini lansia cukup tinggi, tidak ada pendamping. Ini membuat kami kesulitan untuk berkomunikasi. Mereka juga tidak tahu obatnya apa, dasar penyakitnya apa. Ini pula yang menyebabkan cukup tinggi kasus kematian dari jemaah haji," kata Arianti.
Arianti menyebut, banyak jemaah haji yang terserang penyakit Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Meski demikian, hal itu dapat diselesaikan di klinik kesehatan yang ada di kloter.
"Kita lihat banyaknya jemaah yang sakit itu ISPA. Biasanya bisa di selesaikan di kloter. Kalau yang di KKHI biasanya sudah masuk pneumonia. Kita juga ada 300 pasien di RSAS yang umumnya menderita penyakit jantung," katanya.
Terkait ketersediaan obat-obatan, Arianti mengakui ada beberapa obat yang sampai kehabisan. "Kita tidak menyangka kasus cukup besar ya terutama batuk, pilek, dan juga demensia. Ada penambahan obat-obatan yang kita tambah saat datang ke Makkah," ujarnya.
Tidak hanya obat-obatan, pihaknya juga menyiapkan dokter-dokter spesialis jantung dan paru untuk melayani jemaah haji. Arianti berharap ke depan jemaah yang diberangkatkan telah memenuhi persyaratan.
"Ini menjadi evaluasi kita bersama ke depannya untuk bisa memberangkatkan jemaah haji sudah memenuhi persyaratan karena kami menemui jemaah baru datang sudah sakit," pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :