Operasi Badai Al-Aqsa Pertontonkan Israel yang Rentan, Lemah dan Impoten
Senin, 09 Oktober 2023 - 16:40 WIB
loading...
Warga Palestina mengendarai kendaraan sitaan dari militer Israel di jalan-jalan Gaza. (EPA/ al jazeera)
A
A
A
Beberapa hari lalu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato sombong di PBB . Ia mengumumkan pembentukan Timur Tengah baru yang berpusat di sekitar Israel dan mitra-mitra Arabnya. Palestina sepenuhnya dihilangkan dari peta regional fantasinya. Kini, Israel mendapat pukulan telak, baik secara politis maupun strategis.
Gerakan perlawanan Palestina, Hamas , melancarkan serangan kilat yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan dengan baik dari Gaza ke Israel, melalui udara, laut, dan darat. Bersamaan dengan ribuan rudal yang ditembakkan ke sasaran-sasaran Israel, ratusan pejuang Palestina menyerang wilayah militer dan sipil Israel di bagian selatan negara itu, yang menyebabkan terbunuhnya sedikitnya 100 warga Israel dan penangkapan puluhan tentara dan warga sipil Israel.
Baca juga: Intelijen Israel Gagal Memprediksi Operasi Badai Al-Aqsa, Kenapa?
Analis politik senior di Al Jazeera, Marwan Bishara, menyebut tujuan Hamas dalam operasi ini bukan rahasia lagi: Pertama, membalas dan menghukum Israel atas pendudukan, penindasan, pemukiman ilegal, dan penodaan simbol-simbol agama Palestina, khususnya Masjid Al-Aqsa di Yerusalem; kedua, menargetkan normalisasi Arab dengan Israel yang menganut rezim apartheid di wilayah tersebut; dan yang terakhir, mengamankan pertukaran tahanan lagi agar sebanyak mungkin tahanan politik Palestina bisa dibebaskan dari penjara Israel.
"Patut diingat bahwa pemimpin Hamas di Jalur Gaza, Yahya al-Sinwar, yang menghabiskan lebih dari dua dekade di penjara Israel, dibebaskan melalui pertukaran tahanan," ujar Marwan Bishara dalam artikelnya berjudul "From hubris to humiliation: The 10 hours that shocked Israel" yang dilansir al Jazeera, 7 Oktober 2023.
Dia juga mengingatkan Mohammed Deif, kepala pasukan militer Hamas, seperti banyak warga Palestina lainnya, kehilangan orang-orang yang mereka cintai akibat kekerasan Israel – seorang bayi laki-laki, seorang putri berusia tiga tahun dan istrinya. "Oleh karena itu, jelas ada aspek hukuman dan dendam dalam operasi tersebut," tutur mantan profesor Hubungan Internasional di American University of Paris ini.
Baca juga: Apa Itu Operasi Badai Al-Aqsa? Berikut 5 Faktanya
Kesombongan
Operasi Badai al-Aqsa bisa jadi memang mengejutkan. Hubris akhirnya berhasil menyusul Israel dan para pemimpinnya yang arogan, yang telah lama menganggap diri mereka tak terkalahkan dan berulang kali meremehkan musuh-musuh mereka. Sejak serangan Arab yang “mengejutkan” pada bulan Oktober 1973, para pemimpin Israel berulang kali terkejut dan kagum dengan kemampuan orang-orang yang mereka tindas.
Mereka tidak siap menghadapi perlawanan Lebanon setelah invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982, Intifada Palestina pada tahun 1980an dan 2000an, dan perlawanan Palestina setelah lebih dari lima dekade pendudukan Israel dan empat perang berturut-turut di Gaza.
Gerakan perlawanan Palestina, Hamas , melancarkan serangan kilat yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan dengan baik dari Gaza ke Israel, melalui udara, laut, dan darat. Bersamaan dengan ribuan rudal yang ditembakkan ke sasaran-sasaran Israel, ratusan pejuang Palestina menyerang wilayah militer dan sipil Israel di bagian selatan negara itu, yang menyebabkan terbunuhnya sedikitnya 100 warga Israel dan penangkapan puluhan tentara dan warga sipil Israel.
Baca juga: Intelijen Israel Gagal Memprediksi Operasi Badai Al-Aqsa, Kenapa?
Analis politik senior di Al Jazeera, Marwan Bishara, menyebut tujuan Hamas dalam operasi ini bukan rahasia lagi: Pertama, membalas dan menghukum Israel atas pendudukan, penindasan, pemukiman ilegal, dan penodaan simbol-simbol agama Palestina, khususnya Masjid Al-Aqsa di Yerusalem; kedua, menargetkan normalisasi Arab dengan Israel yang menganut rezim apartheid di wilayah tersebut; dan yang terakhir, mengamankan pertukaran tahanan lagi agar sebanyak mungkin tahanan politik Palestina bisa dibebaskan dari penjara Israel.
"Patut diingat bahwa pemimpin Hamas di Jalur Gaza, Yahya al-Sinwar, yang menghabiskan lebih dari dua dekade di penjara Israel, dibebaskan melalui pertukaran tahanan," ujar Marwan Bishara dalam artikelnya berjudul "From hubris to humiliation: The 10 hours that shocked Israel" yang dilansir al Jazeera, 7 Oktober 2023.
Dia juga mengingatkan Mohammed Deif, kepala pasukan militer Hamas, seperti banyak warga Palestina lainnya, kehilangan orang-orang yang mereka cintai akibat kekerasan Israel – seorang bayi laki-laki, seorang putri berusia tiga tahun dan istrinya. "Oleh karena itu, jelas ada aspek hukuman dan dendam dalam operasi tersebut," tutur mantan profesor Hubungan Internasional di American University of Paris ini.
Baca juga: Apa Itu Operasi Badai Al-Aqsa? Berikut 5 Faktanya
Kesombongan
Operasi Badai al-Aqsa bisa jadi memang mengejutkan. Hubris akhirnya berhasil menyusul Israel dan para pemimpinnya yang arogan, yang telah lama menganggap diri mereka tak terkalahkan dan berulang kali meremehkan musuh-musuh mereka. Sejak serangan Arab yang “mengejutkan” pada bulan Oktober 1973, para pemimpin Israel berulang kali terkejut dan kagum dengan kemampuan orang-orang yang mereka tindas.
Mereka tidak siap menghadapi perlawanan Lebanon setelah invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982, Intifada Palestina pada tahun 1980an dan 2000an, dan perlawanan Palestina setelah lebih dari lima dekade pendudukan Israel dan empat perang berturut-turut di Gaza.
Lihat Juga :