Inilah Asal-usul Yahudi Madinah yang Terusir dalam Perang Khaibar
Sabtu, 14 Oktober 2023 - 14:13 WIB
loading...
A
A
A
Demikian juga dengan jumlah tentara Bani Nadhir. Sementara Bani Quraizhah memiliki 700 sampai 900 tentara. Jumlah tentara ketiga suku ini lebih dari 2.000 orang. Ini belum lagi ditambah dengan suku-suku kecil yang tersebar di beberapa tempat di kota Yatsrib yang jumlahnya mencapai 20 suku.
Bangsa Yahudi mendominasi kehidupan kota Yatsrib secara ekonomi, politik, maupun intelektual. Mereka telah meninggalkan pengaruh di masyarakat Yatsrib dan suku-suku Aran di sekelilingnya.
Sebelum Nabi hijrah ke Madinah, secara umum, wilayah ini dihuni kabilah besar yang saling bertikai yakni kabilah Aus dan Khazraj, serta berbagai kabilah dan klan Yahudi di sisi lain. Masing-masing mereka memperebutkan dominasi atas Yatsrib. Kerap terjadi perang di antara kedua pihak ini.
Pertempuran dan perselisihan itu melelahkan semua pihak; sayang tidak ada di antara mereka yang memiliki wibawa yang dapat mempersatukan kelompok-kelompok yang bertikai ini.
Orang-orang Yahudi sering mengemukakan kepada Aus dan Khazraj, bahwa akan datang seorang Nabi (dari kelompok mereka), dan bila ia datang pastilah kaum Yahudi akan mengalahkan musuh-musuhnya.
Baca juga: Menelisik Yahudi di Madinah, Keturunan Arab Atau Ibrani?
Perang terakhir mereka adalah Perang Bu'ats, yaitu antara kabilah Aus dan sekutu mereka Bani Quraizhah dengan Bani Nadhir dan Khazraj serta sekutu mereka Bani Qainuqa. Perang ini terjadi tak berapa lama sebelum Nabi hijrah ke Yatsrib. Perang ini populer dan dianggap sebagai perseteruan terakhir antara suku Aus dan Khazraj.
Kemudian datanglah Rasulullah ke Madinah yang saat itu Madinah dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul al-Awfi Khazraji. Bahkan, kaumnya sudah membuat mahkota sebagai simbol penobatan sang pemimpin menjadi raja. Tetapi, rencana itu tak terlaksana akibat tibanya sang Nabi yang disambut para pengikutnya dari kaum Anshar.
Kehadiran Nabi Muhammad SAW ke Madinah, disambut baik oleh Aus dan Khazraj bukan saja sebagai pemersatu mereka yang selama ini telah lelah bertempur dan mendambakan perdamaian, tetapi juga karena mereka yakin bahwa beliau adalah utusan Allah, yang sebelumnya telah mereka ketahui kehadirannya melalui orang-orang Yahudi.
Baca juga: Piagam Madinah dan Terusirnya Kaum Yahudi dari Tanah Suci
Bangsa Yahudi mendominasi kehidupan kota Yatsrib secara ekonomi, politik, maupun intelektual. Mereka telah meninggalkan pengaruh di masyarakat Yatsrib dan suku-suku Aran di sekelilingnya.
Sebelum Nabi hijrah ke Madinah, secara umum, wilayah ini dihuni kabilah besar yang saling bertikai yakni kabilah Aus dan Khazraj, serta berbagai kabilah dan klan Yahudi di sisi lain. Masing-masing mereka memperebutkan dominasi atas Yatsrib. Kerap terjadi perang di antara kedua pihak ini.
Pertempuran dan perselisihan itu melelahkan semua pihak; sayang tidak ada di antara mereka yang memiliki wibawa yang dapat mempersatukan kelompok-kelompok yang bertikai ini.
Orang-orang Yahudi sering mengemukakan kepada Aus dan Khazraj, bahwa akan datang seorang Nabi (dari kelompok mereka), dan bila ia datang pastilah kaum Yahudi akan mengalahkan musuh-musuhnya.
Baca juga: Menelisik Yahudi di Madinah, Keturunan Arab Atau Ibrani?
Perang terakhir mereka adalah Perang Bu'ats, yaitu antara kabilah Aus dan sekutu mereka Bani Quraizhah dengan Bani Nadhir dan Khazraj serta sekutu mereka Bani Qainuqa. Perang ini terjadi tak berapa lama sebelum Nabi hijrah ke Yatsrib. Perang ini populer dan dianggap sebagai perseteruan terakhir antara suku Aus dan Khazraj.
Kemudian datanglah Rasulullah ke Madinah yang saat itu Madinah dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul al-Awfi Khazraji. Bahkan, kaumnya sudah membuat mahkota sebagai simbol penobatan sang pemimpin menjadi raja. Tetapi, rencana itu tak terlaksana akibat tibanya sang Nabi yang disambut para pengikutnya dari kaum Anshar.
Kehadiran Nabi Muhammad SAW ke Madinah, disambut baik oleh Aus dan Khazraj bukan saja sebagai pemersatu mereka yang selama ini telah lelah bertempur dan mendambakan perdamaian, tetapi juga karena mereka yakin bahwa beliau adalah utusan Allah, yang sebelumnya telah mereka ketahui kehadirannya melalui orang-orang Yahudi.
Baca juga: Piagam Madinah dan Terusirnya Kaum Yahudi dari Tanah Suci
(mhy)
Lihat Juga :