Catatan Invasi Israel ke Lebanon dan Pembantaian Sabra dan Shatila
Selasa, 17 Oktober 2023 - 14:58 WIB
loading...
A
A
A
Faktanya, Paul Findley mangatakan, sudah jelas pada 6 September bahwa suatu pembantaian tengah dilakukan di beberapa kamp pengungsi Palestina di Lebanon.
Utusan Khusus AS, Morris Draper, cukup peduli dengan mengemukakan masalah keamanan para pengungsi pada Perdana Menteri Israel Ariel Sharon dan Kepala Staf Rafael Eitan.
Draper mengusulkan agar angkatan bersenjata Lebanon dikirim ke kamp-kamp pengungsi Palestina di selatan Beirut untuk mencari "para teroris" yang menurut Sharon bersembunyi di sana. Namun Eitan mengatakan bahwa angkatan bersenjata regular tidak mampu memikul tugas itu, sambil menambahkan: 'Lebanon sedang berada pada titik ledak menjadi huru-hara balas dendam...'
"Saya katakan pada Anda bahwa beberapa komandan mereka mengunjungi saya, dan saya dapat melihat pada mata mereka bahwa peristiwa itu akan menjadi suatu pembantaian yang sangat kejam," ujarnya.
Pada waktu itu, pasukan Israel telah mengepung kamp-kamp pengungsi Sabra dan Shatila dan sepenuhnya menguasai area. Namun tidak seperti kata-kata yang diucapkannya pada wakil Amerika, Eitan mengizinkan milisi Phalangis Kristen Lebanon untuk memasuki dua kamp pengungsi pada 16 September untuk menggunakan "metode-metode mereka sendiri."
Baca juga: Omong Kosong Israel dalam Perang 1967: Menuduh Arab Menyerang Duluan
Eitan menjelaskan pada kabinet Israel bahwa kamp-kamp itu dikepung "oleh kami, bahwa kaum Phalangis akan mulai beroperasi malam itu di dalam kamp-kamp, bahwa kami boleh memberi perintah-perintah pada mereka sementara mustahil untuk memberi perintah pada Angkatan Bersenjata Lebanon."
Pembantaian atas kaum wanita, anak-anak, dan kaum pria yang telah tua-namun jelas bukan "teroris" yang kata orang Israel tengah bersembunyi di kamp-kamp itu, sebab tidak seorang pun yang dapat ditemukan-mulai pada malam yang sama, 16 September, dan berlangsung hingga 18 September. Ketika berita tentang pembantaian itu tersebar dan kecaman internasional tertuju pada Israel, Perdana Menteri Menachem Begin dengan marah menyatakan: "Goyim membunuh Goyim dan mereka menyalahkan orang Yahudi."
Menurut Paul Findley, sebuah pernyataan yang telah dipersiapkan oleh kabinet Israel berbunyi: "Suatu fitnah berdarah telah dilancarkan pada bangsa Yahudi."
Dan dalam sebuah surat untuk Senator Demokrat California Alan Cranston, salah seorang pendukung terkuat Israel, Begin menulis: "Seluruh kampanye... untuk menuduh Israel, menyalahkan Israel, meletakkan tanggung jawab moral pada Israel --semua itu di mata saya, seorang lelaki tua yang telah melihat begitu banyak di dalam hidupnya, hampir tak dapat dipercaya, fantastis, dan tentu saja betul-betul tercela."
Utusan Khusus AS, Morris Draper, cukup peduli dengan mengemukakan masalah keamanan para pengungsi pada Perdana Menteri Israel Ariel Sharon dan Kepala Staf Rafael Eitan.
Draper mengusulkan agar angkatan bersenjata Lebanon dikirim ke kamp-kamp pengungsi Palestina di selatan Beirut untuk mencari "para teroris" yang menurut Sharon bersembunyi di sana. Namun Eitan mengatakan bahwa angkatan bersenjata regular tidak mampu memikul tugas itu, sambil menambahkan: 'Lebanon sedang berada pada titik ledak menjadi huru-hara balas dendam...'
"Saya katakan pada Anda bahwa beberapa komandan mereka mengunjungi saya, dan saya dapat melihat pada mata mereka bahwa peristiwa itu akan menjadi suatu pembantaian yang sangat kejam," ujarnya.
Pada waktu itu, pasukan Israel telah mengepung kamp-kamp pengungsi Sabra dan Shatila dan sepenuhnya menguasai area. Namun tidak seperti kata-kata yang diucapkannya pada wakil Amerika, Eitan mengizinkan milisi Phalangis Kristen Lebanon untuk memasuki dua kamp pengungsi pada 16 September untuk menggunakan "metode-metode mereka sendiri."
Baca juga: Omong Kosong Israel dalam Perang 1967: Menuduh Arab Menyerang Duluan
Eitan menjelaskan pada kabinet Israel bahwa kamp-kamp itu dikepung "oleh kami, bahwa kaum Phalangis akan mulai beroperasi malam itu di dalam kamp-kamp, bahwa kami boleh memberi perintah-perintah pada mereka sementara mustahil untuk memberi perintah pada Angkatan Bersenjata Lebanon."
Pembantaian atas kaum wanita, anak-anak, dan kaum pria yang telah tua-namun jelas bukan "teroris" yang kata orang Israel tengah bersembunyi di kamp-kamp itu, sebab tidak seorang pun yang dapat ditemukan-mulai pada malam yang sama, 16 September, dan berlangsung hingga 18 September. Ketika berita tentang pembantaian itu tersebar dan kecaman internasional tertuju pada Israel, Perdana Menteri Menachem Begin dengan marah menyatakan: "Goyim membunuh Goyim dan mereka menyalahkan orang Yahudi."
Menurut Paul Findley, sebuah pernyataan yang telah dipersiapkan oleh kabinet Israel berbunyi: "Suatu fitnah berdarah telah dilancarkan pada bangsa Yahudi."
Dan dalam sebuah surat untuk Senator Demokrat California Alan Cranston, salah seorang pendukung terkuat Israel, Begin menulis: "Seluruh kampanye... untuk menuduh Israel, menyalahkan Israel, meletakkan tanggung jawab moral pada Israel --semua itu di mata saya, seorang lelaki tua yang telah melihat begitu banyak di dalam hidupnya, hampir tak dapat dipercaya, fantastis, dan tentu saja betul-betul tercela."
Lihat Juga :