Kisah Warga Asing yang Terjebak Serangan Israel di Gaza
Senin, 06 November 2023 - 06:41 WIB
loading...
A
A
A
Amena Nasrate tidak mau mengambil risiko. Ibu dan neneknya berada di Gaza. Pelajar Palestina di Kairo, yang juga warga negara Australia, pada hari Rabu menuju ke kedutaan negaranya di Mesir untuk mendapatkan visa bagi kerabatnya setelah dia mendengar pembukaan penyeberangan tersebut.
Ayah Nasrate, Sam, juga masuk dalam daftar Otoritas Perbatasan dan Penyeberangan Gaza, sebagai warga negara Australia. Dia juga masih berada di Gaza.
“Situasinya semakin buruk,” katanya kepada Al Jazeera, sangat ingin mengeluarkan keluarganya.
Baca juga: Pemerintah Masih Kesulitan Evakuasi WNI di Jalur Gaza
Tidak ada jalan yang aman
Seorang wanita, Samira Ismail Abusharkh, dengan kewarganegaraan ganda di Austria, mengatakan dia menerima telepon dari kedutaan Austria yang meminta agar dia dan suaminya menuju penyeberangan Rafah, namun mereka tidak memberikan informasi tentang sarana transportasi.
Seorang pria lain, yang kedua anaknya bernama Islam dan Hisham berkewarganegaraan Jepang, disuruh oleh kedutaan Jepang untuk menuju penyeberangan Rafah.
Namun serangan udara terus berlanjut di sekitar mereka dan tidak ada jalan keluar yang aman.
Sekembalinya ke Sydney, Abukhousa mengatakan dia terkejut dengan laju konflik dan kehancuran yang terjadi, sambil menunggu kabar dari keluarganya sekali lagi. “Situasinya sangat buruk,” katanya.
Baca juga: Hamas: AS Telah Memasuki Pertempuran di Jalur Gaza
Ayah Nasrate, Sam, juga masuk dalam daftar Otoritas Perbatasan dan Penyeberangan Gaza, sebagai warga negara Australia. Dia juga masih berada di Gaza.
“Situasinya semakin buruk,” katanya kepada Al Jazeera, sangat ingin mengeluarkan keluarganya.
Baca juga: Pemerintah Masih Kesulitan Evakuasi WNI di Jalur Gaza
Tidak ada jalan yang aman
Seorang wanita, Samira Ismail Abusharkh, dengan kewarganegaraan ganda di Austria, mengatakan dia menerima telepon dari kedutaan Austria yang meminta agar dia dan suaminya menuju penyeberangan Rafah, namun mereka tidak memberikan informasi tentang sarana transportasi.
Seorang pria lain, yang kedua anaknya bernama Islam dan Hisham berkewarganegaraan Jepang, disuruh oleh kedutaan Jepang untuk menuju penyeberangan Rafah.
Namun serangan udara terus berlanjut di sekitar mereka dan tidak ada jalan keluar yang aman.
Sekembalinya ke Sydney, Abukhousa mengatakan dia terkejut dengan laju konflik dan kehancuran yang terjadi, sambil menunggu kabar dari keluarganya sekali lagi. “Situasinya sangat buruk,” katanya.
Baca juga: Hamas: AS Telah Memasuki Pertempuran di Jalur Gaza
(mhy)
Lihat Juga :