Kemenangan itu Nyata, Berikut Beberapa Fakta Sejarah
Rabu, 08 November 2023 - 17:24 WIB
loading...
Catatan sejarah membuktikan bahwa setiap kali Israel melancarkan pembunuhan massal terhadap Palestina, bukannya semakin lemah apalagi menyerah. Justru bangsa Palestina semakin kuat dan kokoh. Foto/AFP/Getty Images
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation USA
Penyerangan pejuang Palestina di tanggal 7 Oktober lalu yang disebut sebagai surprise attack itu ternyata menjadi momentum yang lebih dahsyat akan kemenangan yang nyata (fathun mubinan). Kesimpulan ini bukan saja didasarkan kepada informasi langit (devine revelation) yang pastinya tidak diragukan (laa raeba fiih). Tapi fakta-fakta di lapangan sepanjang sejarah peperangan itu membuktikan.
Pembantaian dan genosida Israel dilakukan kepada bangsa Palestina, khususnya di Gaza, bukan hanya kali ini. Sudah puluhan kali sejak pendudukan tanah mereka 75 tahun silam. Mungkin yang mutakhir dan masih fresh di memori adalah pembantaian tahun 2002, 2005, 2008, 2012, hingga dua tahun lalu. Pada setiap serangan dan pembunuhan massal itu ribuan warga Palestina yang syahid.
Belum lagi pembunuhan harian yang terjadi di kota-kota lain Palestina, termasuk di Jenin dan Ramallah. Dalam enam bulan terakhir sebelum pembalasan 7 Oktober itu diberitakan tidak kurang dari 600 warga Palestina yang ditembak mati. Belum lagi yang ditangkap dan/atau terluka dalam setiap insiden yang terjadi.
Namun, catatan sejarah mengatakan bahwa setiap kali serangan penjajah dengan pembunuhan massal (mass murder) dan genosida itu terjadi bangsa Palestina bukannya semakin lemah, apalagi menyerah. Mereka justru semakin kuat dan kokoh untuk memenangkan pertarungan itu.
Mungkin secara fisik mereka mengalami banyak pengorbanan. Hingga saat ini misalnya tidak kurang dari 9.000 warga sipil yang meninggal. 4.000 ribu di antaranya adalah anak-anak. Rumah-rumah mereka, fasilitas umum termasuk sekolah dan rumah sakit, bahkan rumah ibadah (Masjid dan gereja) diluluh lantakkan) oleh tentara penjajah. Belum lagi puluhan ribu yang luka dengan pengobatan yang sangat minim.
Namun, semua itu ternyata tidak menjadikan mereka para pejuang itu lemah. Apalagi menyerah. Mereka justru semakin kuat secara mental dan tekad dalam perjuangan. Persis seperti yang digambarkan dalam Al-Qur'an: "Mereka tidak bertambah kecuali dalam keimanan dan keislaman."
Dalam dunia saat ini peperangan dan akibatnya, kemenangan atau kekalahan, tidak bisa sekadar dinilai dari interaksi fisik persenjataan. Peperangan itu memiliki sudut (angles) yang sangat ragam. Benar ada sudut kontak fisik (physical clash). Tapi pada sisi lain ada aspek diplomasi, politik, ekonomi, persepsi atau imej dan seterusnya. Melihat peperangan ini dan menyimpulkan siapa yang kalah dan siapa yang menang, harusnya dilihat pada semua sudutnya.
Israel Mulai Terpojok
Dengan melihat kepada semua sudut dari peperangan yang terjadi ini, dapat kita simpulkan beberapa hal.
Pertama, Israel babak belur secara politik global dan diplomasi internasional. Saya tidak perlu memberikan banyak argumentasi tentang hal ini. Kita lihat saja pada dukungan kepada bangsa Palestina yang terjadi. Dari demonstrasi di jalan-jalan di berbagai belahan dunia, hingga ke kekalahan telak diplomasi Israel yang didukung oleh Amerika dan Negara-negara Eropa di arena PBB. Bahkan di tingkat elit pemerintahan Amerika terasa jika resistensi itu semakin kuat. Salah satunya ditandai dengan mundurnya seorang pejabat Deplu Amerika karena posisi Amerika yang membuta mendukung penjajah.
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation USA
Penyerangan pejuang Palestina di tanggal 7 Oktober lalu yang disebut sebagai surprise attack itu ternyata menjadi momentum yang lebih dahsyat akan kemenangan yang nyata (fathun mubinan). Kesimpulan ini bukan saja didasarkan kepada informasi langit (devine revelation) yang pastinya tidak diragukan (laa raeba fiih). Tapi fakta-fakta di lapangan sepanjang sejarah peperangan itu membuktikan.
Pembantaian dan genosida Israel dilakukan kepada bangsa Palestina, khususnya di Gaza, bukan hanya kali ini. Sudah puluhan kali sejak pendudukan tanah mereka 75 tahun silam. Mungkin yang mutakhir dan masih fresh di memori adalah pembantaian tahun 2002, 2005, 2008, 2012, hingga dua tahun lalu. Pada setiap serangan dan pembunuhan massal itu ribuan warga Palestina yang syahid.
Belum lagi pembunuhan harian yang terjadi di kota-kota lain Palestina, termasuk di Jenin dan Ramallah. Dalam enam bulan terakhir sebelum pembalasan 7 Oktober itu diberitakan tidak kurang dari 600 warga Palestina yang ditembak mati. Belum lagi yang ditangkap dan/atau terluka dalam setiap insiden yang terjadi.
Namun, catatan sejarah mengatakan bahwa setiap kali serangan penjajah dengan pembunuhan massal (mass murder) dan genosida itu terjadi bangsa Palestina bukannya semakin lemah, apalagi menyerah. Mereka justru semakin kuat dan kokoh untuk memenangkan pertarungan itu.
Mungkin secara fisik mereka mengalami banyak pengorbanan. Hingga saat ini misalnya tidak kurang dari 9.000 warga sipil yang meninggal. 4.000 ribu di antaranya adalah anak-anak. Rumah-rumah mereka, fasilitas umum termasuk sekolah dan rumah sakit, bahkan rumah ibadah (Masjid dan gereja) diluluh lantakkan) oleh tentara penjajah. Belum lagi puluhan ribu yang luka dengan pengobatan yang sangat minim.
Namun, semua itu ternyata tidak menjadikan mereka para pejuang itu lemah. Apalagi menyerah. Mereka justru semakin kuat secara mental dan tekad dalam perjuangan. Persis seperti yang digambarkan dalam Al-Qur'an: "Mereka tidak bertambah kecuali dalam keimanan dan keislaman."
Dalam dunia saat ini peperangan dan akibatnya, kemenangan atau kekalahan, tidak bisa sekadar dinilai dari interaksi fisik persenjataan. Peperangan itu memiliki sudut (angles) yang sangat ragam. Benar ada sudut kontak fisik (physical clash). Tapi pada sisi lain ada aspek diplomasi, politik, ekonomi, persepsi atau imej dan seterusnya. Melihat peperangan ini dan menyimpulkan siapa yang kalah dan siapa yang menang, harusnya dilihat pada semua sudutnya.
Israel Mulai Terpojok
Dengan melihat kepada semua sudut dari peperangan yang terjadi ini, dapat kita simpulkan beberapa hal.
Pertama, Israel babak belur secara politik global dan diplomasi internasional. Saya tidak perlu memberikan banyak argumentasi tentang hal ini. Kita lihat saja pada dukungan kepada bangsa Palestina yang terjadi. Dari demonstrasi di jalan-jalan di berbagai belahan dunia, hingga ke kekalahan telak diplomasi Israel yang didukung oleh Amerika dan Negara-negara Eropa di arena PBB. Bahkan di tingkat elit pemerintahan Amerika terasa jika resistensi itu semakin kuat. Salah satunya ditandai dengan mundurnya seorang pejabat Deplu Amerika karena posisi Amerika yang membuta mendukung penjajah.
Lihat Juga :