Hudzaifah bin al-Yaman: Sosok Sahabat yang Menyimpan Rahasia Nabi Muhammad SAW
Jum'at, 10 November 2023 - 17:42 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kaum Munafik Menghindari Seruan Nabi Melawan Romawi
Bakat Istimewa
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul "Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah" menjelaskan Hudzaifah adalah seseorang yang memiliki bakat istimewa, yakni kemampuan untuk membaca watak asli seseorang.
Sebelum bertemu dengan Rasulullah pun dia telah memiliki kemampuan untuk melihat jejak-jejak dan gejala orang munafik, bahkan pada saat mereka menyembunyikannya serapat mungkin.
Hudzaifah bin al-Yaman memiliki nama lain (kunyah) Abu Abdallah, dia adalah termasuk di antara para sahabat Nabi yang masuk Islam pada masa awal-awal. Ayah Hudzaifah bernama al-Yaman bin Jabir, namun menurut al-Tabari nama asli ayah Hudzaifah adalah Husail bin Jabir.
Al-Tabari dalam kitabnya berjudul Taʾrīkh al-Rusūl wa al-Mulūk memaparkan keluarga Husail berasal dari Yaman, namun karena keluarga itu terlibat pertikaian dengan sukunya di Yaman, akhirnya mereka mengungsi ke Madinah sebelum kebangkitan agama Islam. Di Madinah, keluarga mereka disebut dengan “al-Yaman”, yang bermakna “orang-orang dari selatan”.
Baca juga: Tidak Bersedih dengan Kematian Ulama Berarti Munafik?
Suatu waktu, Husail bersama kedua putranya, Hudzaifah dan Shafwan, datang menemui Nabi di Makkah. Setelah pertemuan tersebut, ketiganya memutuskan untuk masuk Islam. Setelah masuk Islam, bakat alamiah Hudzaifah untuk membaca watak asli seseorang semakin tajam karena didikan Rasulullah SAW.
Menurut Khalid Muhammad Khalid, terhadap Rasulullah, hati Hudzaifah benar-benar terbuka, tak ada satupun persoalan hidupnya yang dia sembunyikan. Bersama Rasulullah dia tumbuh menjadi orang yang jujur dan mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran. Sebaliknya, dia tidak menyukai orang-orang yang berbelit-belit, gemar riya, culas, dan bermuka dua.
Dia bergaul dan sangat dekat dengan Rasulullah, dan sungguh, tidak ada tempat lainnya yang dapat membuat kepribadian Hudzaifah dapat berkembang dengan pesat, yakni dalam pangkuan agama Islam, di hadapan Rasulullah dan di tengah-tengah banyak sahabat Rasulullah yang menjadi perintis dari ajaran ini.
Bakat Istimewa
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul "Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah" menjelaskan Hudzaifah adalah seseorang yang memiliki bakat istimewa, yakni kemampuan untuk membaca watak asli seseorang.
Sebelum bertemu dengan Rasulullah pun dia telah memiliki kemampuan untuk melihat jejak-jejak dan gejala orang munafik, bahkan pada saat mereka menyembunyikannya serapat mungkin.
Hudzaifah bin al-Yaman memiliki nama lain (kunyah) Abu Abdallah, dia adalah termasuk di antara para sahabat Nabi yang masuk Islam pada masa awal-awal. Ayah Hudzaifah bernama al-Yaman bin Jabir, namun menurut al-Tabari nama asli ayah Hudzaifah adalah Husail bin Jabir.
Al-Tabari dalam kitabnya berjudul Taʾrīkh al-Rusūl wa al-Mulūk memaparkan keluarga Husail berasal dari Yaman, namun karena keluarga itu terlibat pertikaian dengan sukunya di Yaman, akhirnya mereka mengungsi ke Madinah sebelum kebangkitan agama Islam. Di Madinah, keluarga mereka disebut dengan “al-Yaman”, yang bermakna “orang-orang dari selatan”.
Baca juga: Tidak Bersedih dengan Kematian Ulama Berarti Munafik?
Suatu waktu, Husail bersama kedua putranya, Hudzaifah dan Shafwan, datang menemui Nabi di Makkah. Setelah pertemuan tersebut, ketiganya memutuskan untuk masuk Islam. Setelah masuk Islam, bakat alamiah Hudzaifah untuk membaca watak asli seseorang semakin tajam karena didikan Rasulullah SAW.
Menurut Khalid Muhammad Khalid, terhadap Rasulullah, hati Hudzaifah benar-benar terbuka, tak ada satupun persoalan hidupnya yang dia sembunyikan. Bersama Rasulullah dia tumbuh menjadi orang yang jujur dan mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran. Sebaliknya, dia tidak menyukai orang-orang yang berbelit-belit, gemar riya, culas, dan bermuka dua.
Dia bergaul dan sangat dekat dengan Rasulullah, dan sungguh, tidak ada tempat lainnya yang dapat membuat kepribadian Hudzaifah dapat berkembang dengan pesat, yakni dalam pangkuan agama Islam, di hadapan Rasulullah dan di tengah-tengah banyak sahabat Rasulullah yang menjadi perintis dari ajaran ini.
Lihat Juga :