Alhazen, Fisikawan Muslim Penemu Ilmu Optik yang Spektakuler
Senin, 20 November 2023 - 09:40 WIB
loading...
Alhazen yang dikenal di dunia Barat, adalah ilmuwan muslim cerdas yang menguasai banyak ilmu khususnya bidang fisika dan matematika. Penemuannya yang spektakuler adalah optik atau gelombang cahaya cikal bakal kamera. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Alhazen yang dikenal di dunia Barat, adalah ilmuwan muslim cerdas yang menguasai banyak ilmu khususnya bidang fisika dan matematika. Alhazen bernama lengkap Abu Ali Muhammad al-Hasan bin al-Haitham atau Ibnu Haitham lahir di Bashrah, tahun 965 masehi.
Dia adalah penemu kamera atau optik dan siapa sangka sejarah penemuannya ini cukup unik. Dia sempat mengaku gila sehingga dipenjara. Penemuannya juga menjungkir-balikkan teori yang diyakini para pemikir Yunani pada zamannya.
Suatu ketika, Alhazen berkata di depan publik, bahwa dirinya bisa memberikan solusi mengatasi banjir tahunan yang menimpa Mesir akibat meluapnya Sungai Nil.
Pernyataan itu disampaikan Alhazen alias Ibnu Haitham di Basrah. Sudah barang tentu apa yang disampaikan Ibnu Haitham ini segera menyebar. Maklum saja, selain sebagai pejabat pemerinah, publik mengenal Ibnu Haitham sebagai seorang ilmuwan matematika.
Kala itu Basrah di bawah pemerintahan Khalifah Dinasti Fatimiyah, Abu Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah, atau dikenal dengan Al Hakim yang berpusat di Mesir.
Begitu mendengar pernyataan Alhazen, Khalifah mengundangnya untuk membuktikan kata-katanya. Dan Ibnu Haitham pun menjawab tantangan tersebut.
Setiap musim penghujan, air sungai ini akan meluap dan membawa luapan lumpur yang menyebar hingga radius 15 hingga 50 kilometer di sekitar aliran sungai. Fenomena ini mungkin disebabkan oleh posisi Mesir yang tepat berada di bagian paling hilir aliran sungai ini.
Menurut Eamonn Gaeron dalam bukunya “Turning Points in Middle Eastern History”, sejak awal ditemukannya, Sungai Nil memang langganan banjir. Tapi berkat keahlian dan kecakapan orang-orang Dinasti Fatimiyah ketika mendirikan kota Kairo, aliran sungai Nil berhasil dikendalikan, bahkan menjadi bermanfaat dalam menunjang lahan pertanian yang subur. Hanya saja, merawat aliran ini dibutuhkan kedisiplinan, dan tentu saja biaya.
Maka demikianlah, ketika masa Al-Hakim, dia sudah berniat untuk menyelesaikan masalah ini sekali untuk selamanya. Dan Alhazen adalah jawaban atas semua mimpinya. Maka tak ayal, ilmuwan nyentrik ini dianugerahi posisi penting di dalam istana. Dia diberikan akses istimewa ke semua hal yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan yang diberikan. Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan.
Sebagaimana dikisahkan oleh Ibn al-Qifṭī (wafat 1248), ketika Ibnu Haitham mempelajari secara komprehensif sifat-sifat alamiah Sungai Nil, dia langsung menyadari ketidakmampuannya.
Dia adalah penemu kamera atau optik dan siapa sangka sejarah penemuannya ini cukup unik. Dia sempat mengaku gila sehingga dipenjara. Penemuannya juga menjungkir-balikkan teori yang diyakini para pemikir Yunani pada zamannya.
Suatu ketika, Alhazen berkata di depan publik, bahwa dirinya bisa memberikan solusi mengatasi banjir tahunan yang menimpa Mesir akibat meluapnya Sungai Nil.
Pernyataan itu disampaikan Alhazen alias Ibnu Haitham di Basrah. Sudah barang tentu apa yang disampaikan Ibnu Haitham ini segera menyebar. Maklum saja, selain sebagai pejabat pemerinah, publik mengenal Ibnu Haitham sebagai seorang ilmuwan matematika.
Kala itu Basrah di bawah pemerintahan Khalifah Dinasti Fatimiyah, Abu Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah, atau dikenal dengan Al Hakim yang berpusat di Mesir.
Begitu mendengar pernyataan Alhazen, Khalifah mengundangnya untuk membuktikan kata-katanya. Dan Ibnu Haitham pun menjawab tantangan tersebut.
Sengaja Pura-pura Gila
Tak disangka, begitu sampai Mesir apa yang dihadapi Ibn Haitham sama sekali berbeda dengan kenyataan. Dia memang lahir dan besar di Basrah, kota yang merupakan muara dari semua aliran sungai di Asia Tengah. Tapi Sungai Nil berbeda. Sejak ribuan tahun, karakter alamiah aliran Sungai Nil yang ada di Mesir memiliki prilaku yang khas.Setiap musim penghujan, air sungai ini akan meluap dan membawa luapan lumpur yang menyebar hingga radius 15 hingga 50 kilometer di sekitar aliran sungai. Fenomena ini mungkin disebabkan oleh posisi Mesir yang tepat berada di bagian paling hilir aliran sungai ini.
Menurut Eamonn Gaeron dalam bukunya “Turning Points in Middle Eastern History”, sejak awal ditemukannya, Sungai Nil memang langganan banjir. Tapi berkat keahlian dan kecakapan orang-orang Dinasti Fatimiyah ketika mendirikan kota Kairo, aliran sungai Nil berhasil dikendalikan, bahkan menjadi bermanfaat dalam menunjang lahan pertanian yang subur. Hanya saja, merawat aliran ini dibutuhkan kedisiplinan, dan tentu saja biaya.
Maka demikianlah, ketika masa Al-Hakim, dia sudah berniat untuk menyelesaikan masalah ini sekali untuk selamanya. Dan Alhazen adalah jawaban atas semua mimpinya. Maka tak ayal, ilmuwan nyentrik ini dianugerahi posisi penting di dalam istana. Dia diberikan akses istimewa ke semua hal yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan yang diberikan. Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan.
Sebagaimana dikisahkan oleh Ibn al-Qifṭī (wafat 1248), ketika Ibnu Haitham mempelajari secara komprehensif sifat-sifat alamiah Sungai Nil, dia langsung menyadari ketidakmampuannya.
Lihat Juga :