Menjelang Wafat, Nabi Adam Berwasiat kepada Syits: Minta Buah dari Surga
Minggu, 26 November 2023 - 07:54 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Dahsyatnya Doa Tobat Nabi Adam, Yuk Amalkan!
Mereka menjawab, "Bapak kami sakit, beliau ingin makan buah dari Surga."
"Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba," saran para lelaki itu yang ternyata adalah para malaikat yang sedang menjelma manusia.
Di tangan mereka sudah tersedia kafan, wewangian, serta sejumlah perangkat yang lazim diperlukan untuk menggali kubur: kapak, cangkul, dan sekop.
Saat para malaikat itu datang, Siti Hawwa melihat dan mengenali mereka, maka ia pun berlindung kepada Nabi Adam. "Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan malaikat Tuhanku tabâraka wa ta'âlâ," kata Nabi Adam kepada Hawwa.
Para malaikatlah yang mencabut nyawa Nabi Adam, lantas memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan liang lahad, juga mensalatinya.
Baca juga: Doa Nabi Adam Saat Diturunkan dari Surga
Selanjutnya mereka turun ke kuburnya, memasukkan jenazah Nabi Adam ke dalam, lalu mereka meletakkan bata di atasnya. Usai naik ke atas kubur, mereka pun menimbunnya dengan batu. Mereka berseru, "Wahai anak cucu Adam, ini adalah sunnah kalian."
Rupanya Nabi Adam mempersiapkan pelajaran berharga bagi generasi berikutnya tentang bagaimana semestinya memperlakukan orang meninggal. Manusia tak hanya dihormati ketika masih hidup tapi juga saat mereka mati. Standar penghormatan pun tak berlebihan. Tak ada prosesi pembakaran mayat, mutilasi tubuh, menempeli jenazah dengan perhiasan, atau semacamnya.
Namun, semua pelajaran tersebut cukup menggambarkan bahwa manusia itu pada dasarnya mulia, namun kehidupan duniawinya pasti berujung fana. Dari tanah kembali ke tanah. Kisah ini bisa kita jumpai salah satunya dari uraian Syekh Umar Sulaiman Abdullah al-Asyqar dalam kitab Shahîhul Qishash an-Nabawî.
Baca juga: Di Manakah Surga yang Ditinggali Nabi Adam?
Mereka menjawab, "Bapak kami sakit, beliau ingin makan buah dari Surga."
"Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba," saran para lelaki itu yang ternyata adalah para malaikat yang sedang menjelma manusia.
Di tangan mereka sudah tersedia kafan, wewangian, serta sejumlah perangkat yang lazim diperlukan untuk menggali kubur: kapak, cangkul, dan sekop.
Saat para malaikat itu datang, Siti Hawwa melihat dan mengenali mereka, maka ia pun berlindung kepada Nabi Adam. "Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan malaikat Tuhanku tabâraka wa ta'âlâ," kata Nabi Adam kepada Hawwa.
Para malaikatlah yang mencabut nyawa Nabi Adam, lantas memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan liang lahad, juga mensalatinya.
Baca juga: Doa Nabi Adam Saat Diturunkan dari Surga
Selanjutnya mereka turun ke kuburnya, memasukkan jenazah Nabi Adam ke dalam, lalu mereka meletakkan bata di atasnya. Usai naik ke atas kubur, mereka pun menimbunnya dengan batu. Mereka berseru, "Wahai anak cucu Adam, ini adalah sunnah kalian."
Rupanya Nabi Adam mempersiapkan pelajaran berharga bagi generasi berikutnya tentang bagaimana semestinya memperlakukan orang meninggal. Manusia tak hanya dihormati ketika masih hidup tapi juga saat mereka mati. Standar penghormatan pun tak berlebihan. Tak ada prosesi pembakaran mayat, mutilasi tubuh, menempeli jenazah dengan perhiasan, atau semacamnya.
Namun, semua pelajaran tersebut cukup menggambarkan bahwa manusia itu pada dasarnya mulia, namun kehidupan duniawinya pasti berujung fana. Dari tanah kembali ke tanah. Kisah ini bisa kita jumpai salah satunya dari uraian Syekh Umar Sulaiman Abdullah al-Asyqar dalam kitab Shahîhul Qishash an-Nabawî.
Baca juga: Di Manakah Surga yang Ditinggali Nabi Adam?
(mhy)
Lihat Juga :