Jin Termasuk Pengertian Lafaz An-Nas, Begini Penjelasannya
Selasa, 05 Maret 2024 - 17:11 WIB
loading...
Makhluk jin pun termasuk ke dalam pengertian lafaz an-nas secara prioritas. Ilustrasi: occult worldcom
A
A
A
Ibnu Katsir saat menafsirkan al-Quran Surat An-Nas ayat 4 mengutip Sa'id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: "setan yang biasa bersembunyi". ( QS An-Nas : 4)
Menurutnya, setan bercokol di atas hati anak Adam . Apabila ia lupa dan lalai kepada Allah setan menggodanya; dan apabila ia ingat kepada Allah maka setan itu bersembunyi. "Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah," ujar Ibnu Katsir.
Sementara itu, Al-Mu'tamir ibnu Sulaiman telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa pernah diceritakan kepadanya, sesungguhnya setan yang banyak menggoda itu selalu meniup hati anak Adam manakala ia sedang bersedih hati dan juga manakala sedang senang hati. Tetapi apabila ia sedang ingat kepada Allah, maka setan bersembunyi ketakutan.
Sedangkan Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, Al-waswas," bahwa makna yang dimaksud ialah setan yang membisikkan godaannya; apabila yang digodanya taat kepada Allah, maka setan bersembunyi.
Baca juga: 5 Amalan sebagai Pencegahan Preventif terhadap Godaan Setan
Firman Allah SWT:
yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. ( QS An-Nas : 5)
Apakah makna ayat ini khusus menyangkut Bani Adam saja sebagaimana yang ditunjukkan oleh makna lahiriah ayat, ataukah lebih menyeluruh dari itu menyangkut Bani Adam dan jin?
Ibnu Katsir menjelaskan ada pendapat mengenainya, yang berarti makhluk jin pun termasuk ke dalam pengertian lafaz an-nas secara prioritas.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa adakalanya digunakan lafaz rijalun minal jin (laki-laki dari kalangan jin) ditujukan terhadap mereka, maka tidaklah heran bila mereka (jin) dikatakan dengan istilah an-nas.
Menurutnya, setan bercokol di atas hati anak Adam . Apabila ia lupa dan lalai kepada Allah setan menggodanya; dan apabila ia ingat kepada Allah maka setan itu bersembunyi. "Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah," ujar Ibnu Katsir.
Sementara itu, Al-Mu'tamir ibnu Sulaiman telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa pernah diceritakan kepadanya, sesungguhnya setan yang banyak menggoda itu selalu meniup hati anak Adam manakala ia sedang bersedih hati dan juga manakala sedang senang hati. Tetapi apabila ia sedang ingat kepada Allah, maka setan bersembunyi ketakutan.
Sedangkan Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, Al-waswas," bahwa makna yang dimaksud ialah setan yang membisikkan godaannya; apabila yang digodanya taat kepada Allah, maka setan bersembunyi.
Baca juga: 5 Amalan sebagai Pencegahan Preventif terhadap Godaan Setan
Firman Allah SWT:
{الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ}
yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. ( QS An-Nas : 5)
Apakah makna ayat ini khusus menyangkut Bani Adam saja sebagaimana yang ditunjukkan oleh makna lahiriah ayat, ataukah lebih menyeluruh dari itu menyangkut Bani Adam dan jin?
Ibnu Katsir menjelaskan ada pendapat mengenainya, yang berarti makhluk jin pun termasuk ke dalam pengertian lafaz an-nas secara prioritas.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa adakalanya digunakan lafaz rijalun minal jin (laki-laki dari kalangan jin) ditujukan terhadap mereka, maka tidaklah heran bila mereka (jin) dikatakan dengan istilah an-nas.
Lihat Juga :