Rasulullah SAW Menyerukan Supaya Kita Berdagang, Begini Penjelasannya
Jum'at, 02 Agustus 2024 - 13:19 WIB
loading...
A
A
A
"Apabila mereka melihat suatu perdagangan atau bunyi-bunyian, mereka lari ke tempat tersebut dan engkau ditinggalkan berdiri. Oleh karena itu katakanlah (kepada mereka) bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada bunyi-bunyian dan perdagangan itu dan Allah sebaik-baik Zat yang memberi rezeki." ( QS al-Jumu'ah : 11)
Baca juga: Pekerjaan Mulia Menurut Islam: Menjadi Petani
Oleh karenanya, kata al-Qardhawi, barang siapa yang mampu bertahan pada prinsip ini, disertai dengan iman yang kuat, jiwanya penuh takwa kepada Allah dan lidahnya komat-kamit berzikrullah, maka layak dia akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin dan syuhada'.
Dari fi'liyah (perbuatan) Rasulullah sendiri kiranya cukup bukti bagi kita untuk mengetahui sampai di mana kedudukan perdagangan itu. Di samping beliau sangat memperhatikan segi-segi mental spiritual sehingga didirikannya masjid di Madinah demi untuk bertakwa dan mencari keridaan Allah dengan tujuan sebagai jami' tempat beribadah, institut, lembaga dakwah dan pusat pemerintahan, maka Rasulullah memperhatikan pula segi-segi perekonomian.
"Untuk itu maka didirikannya pasar Islam yang langsung berorientasi pada syariat Islam, bukan pasar yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi seperti halnya pasar Qainuqa' dulu," ujar al-Qardhawi.
Pasar Islam ini langsung diawasi oleh Rasulullah sendiri. Beliau sendiri yang menertibkan subjek-subjeknya dan beliau pula yang langsung mengurus dengan memberi bimbingan-bimbingan dan pengarahan-pengarahan.
Sehingga dengan demikian tidak ada penipuan, pengurangan timbangan, penimbunan, cukong-cukong dan lain-lain.
Baca juga: Islam Mengharamkan Kemewahan, Begini Penjelasan Syaikh Al-Qardhawi
Baca juga: Pekerjaan Mulia Menurut Islam: Menjadi Petani
Oleh karenanya, kata al-Qardhawi, barang siapa yang mampu bertahan pada prinsip ini, disertai dengan iman yang kuat, jiwanya penuh takwa kepada Allah dan lidahnya komat-kamit berzikrullah, maka layak dia akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin dan syuhada'.
Dari fi'liyah (perbuatan) Rasulullah sendiri kiranya cukup bukti bagi kita untuk mengetahui sampai di mana kedudukan perdagangan itu. Di samping beliau sangat memperhatikan segi-segi mental spiritual sehingga didirikannya masjid di Madinah demi untuk bertakwa dan mencari keridaan Allah dengan tujuan sebagai jami' tempat beribadah, institut, lembaga dakwah dan pusat pemerintahan, maka Rasulullah memperhatikan pula segi-segi perekonomian.
"Untuk itu maka didirikannya pasar Islam yang langsung berorientasi pada syariat Islam, bukan pasar yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi seperti halnya pasar Qainuqa' dulu," ujar al-Qardhawi.
Pasar Islam ini langsung diawasi oleh Rasulullah sendiri. Beliau sendiri yang menertibkan subjek-subjeknya dan beliau pula yang langsung mengurus dengan memberi bimbingan-bimbingan dan pengarahan-pengarahan.
Sehingga dengan demikian tidak ada penipuan, pengurangan timbangan, penimbunan, cukong-cukong dan lain-lain.
Baca juga: Islam Mengharamkan Kemewahan, Begini Penjelasan Syaikh Al-Qardhawi
(mhy)
Lihat Juga :