Israel Bombardir Tepi Barat, Presiden Palestina Mahmoud Abbas Impoten
Selasa, 03 September 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Mengingatkan pada Tahun 1948
Bagi banyak warga Palestina, serangan terbaru Israel di Tepi Barat merupakan perwujudan rencana Menteri Keuangan sayap kanan Bezalel Smotrich untuk mencaplok wilayah tersebut ke Israel.
Juma mengatakan bahwa Israel terus membatasi keberadaan warga Palestina di wilayah yang sangat terbatas, "menyediakan jalan alternatif bagi para pemukim dan merekayasa geografi wilayah tersebut".
Ia menambahkan bahwa jalan utama dihancurkan dengan buldoser, sementara infrastruktur dan sumber daya sipil terputus.
"Mereka melakukan kebijakan yang sama seperti di Gaza: mengepung rumah sakit yang menyediakan perawatan medis bagi orang-orang yang terluka, memutus aliran listrik dan air, serta menghancurkan infrastruktur."
Baca juga: Misteri Presiden Palestina Mahmoud Abbas Kecam Serangan Hamas ke Israel lalu Meralatnya
"Mereka mengusir penduduk kamp pengungsi," tambahnya, merujuk pada komentar yang dibuat minggu ini oleh menteri luar negeri Israel yang mendesak warga Palestina untuk "mengungsi" dari rumah mereka.
Tokoh senior Fatah itu mengatakan bahwa “mengusir sejumlah besar penduduk dari Tepi Barat” adalah tujuan utama pemerintah sayap kanan Israel.
Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 3.000 warga Palestina telah mengungsi karena rumah-rumah mereka dihancurkan oleh tentara Israel.
Selama periode yang sama, Perserikatan Bangsa Bangsa mencatat 1.250 serangan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina.
Setidaknya 677 orang warga Palestina tewas oleh tembakan dan serangan udara Israel di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur antara 7 Oktober dan 27 Agustus, menurut PBB.
“Setiap hari, ada laporan tentang pembunuhan, penyerangan, dan geng-geng teror terorganisir yang mengingatkan pada yang terjadi pada tahun 1948,” kata Juma.
Bagi banyak warga Palestina, serangan terbaru Israel di Tepi Barat merupakan perwujudan rencana Menteri Keuangan sayap kanan Bezalel Smotrich untuk mencaplok wilayah tersebut ke Israel.
Juma mengatakan bahwa Israel terus membatasi keberadaan warga Palestina di wilayah yang sangat terbatas, "menyediakan jalan alternatif bagi para pemukim dan merekayasa geografi wilayah tersebut".
Ia menambahkan bahwa jalan utama dihancurkan dengan buldoser, sementara infrastruktur dan sumber daya sipil terputus.
"Mereka melakukan kebijakan yang sama seperti di Gaza: mengepung rumah sakit yang menyediakan perawatan medis bagi orang-orang yang terluka, memutus aliran listrik dan air, serta menghancurkan infrastruktur."
Baca juga: Misteri Presiden Palestina Mahmoud Abbas Kecam Serangan Hamas ke Israel lalu Meralatnya
"Mereka mengusir penduduk kamp pengungsi," tambahnya, merujuk pada komentar yang dibuat minggu ini oleh menteri luar negeri Israel yang mendesak warga Palestina untuk "mengungsi" dari rumah mereka.
Tokoh senior Fatah itu mengatakan bahwa “mengusir sejumlah besar penduduk dari Tepi Barat” adalah tujuan utama pemerintah sayap kanan Israel.
Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 3.000 warga Palestina telah mengungsi karena rumah-rumah mereka dihancurkan oleh tentara Israel.
Selama periode yang sama, Perserikatan Bangsa Bangsa mencatat 1.250 serangan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina.
Setidaknya 677 orang warga Palestina tewas oleh tembakan dan serangan udara Israel di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur antara 7 Oktober dan 27 Agustus, menurut PBB.
“Setiap hari, ada laporan tentang pembunuhan, penyerangan, dan geng-geng teror terorganisir yang mengingatkan pada yang terjadi pada tahun 1948,” kata Juma.
Lihat Juga :