3 Versi Asal Mula Peringatan Maulid Nabi: Salah Satunya Sejak Shalahuddin Al-Ayyubi
Senin, 16 September 2024 - 09:07 WIB
loading...
Maulid Nabi di Mesir: Setidaknya ada tiga versi tentang asal mula peringatan maulid ini. Ilustrasi: Ist
A
A
A
PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW sudah dilaksanakan sejak ribuan tahun lalu oleh Umat Islam di dunia. Setidaknya ada tiga versi tentang asal mula peringatan maulid ini.
Dalam buku berjudul "Pro dan Kontra Maulid Nabi" karya AM Waskito disebutkan tiga versi tersebut.
Pertama, perayaan Maulid pertama kali diadakan oleh Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidhah). Dinasti ini berkuasa di Mesir pada tahun 362 sampai dengan 567 Hijriyah.
Maulid mula-mula diselenggarakan di era kepemimpinan Abu Tamim yang memiliki gelar Al-Muiz Dinillah. Tidak hanya Maulid Nabi Muhammad SAW saja yang mereka peringati, ada juga hari lainnya, yaitu peringatan Asyura, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Hasan dan Husain, dan Maulid Fathimah binti Rasulullah.
Baca juga: Apakah Negara Arab Merayakan Maulid Nabi?
Kedua, peringatan Maulid dari kalangan Sunni pertama kali diselenggarakan oleh Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri, gubernur Irbil di Irak.
Sultan Abu Said hidup pada tahun 549-630 H. Pada saat peringatan Maulid beliau mengundang para ulama, ahli tasawuf, ilmuwan, dan seluruh rakyatnya. Beliau menjamu tamu dengan hidangan makanan, berbagi hadiah, dan bersedekah kepada fakir miskin.
Ketiga, peringatan Maulid pertama kali diselenggarakan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi (567-622 H), penguasa dinasti Ayyub (di bawah kekuasaan Daulah Abbasiyah ). Tujuannya adalah untuk meningkatkan semangat jihad umat Islam pada saat Perang Salib dan merebut Yerusalem dari kerajaan Salibis.
Manakah versi yang benar? Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan orang yang pertama kali merintis peringatan Maulid ini adalah penguasa Irbil, Malik Al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukabri bin Zainuddin bin Baktatin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun masjid Al-Jami’ Al-Muzhaffari di lereng gunung Qasiyun.
Baca juga: Peringatan Maulid Nabi dalam Perspektif Hadis
Apabila dilihat dari jalannya sejarah, menurut Waskito, ketiga versi di atas bisa dihubungkan. Kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi di Mesir dimulai ketika Dinasti Ubaid sudah runtuh.
Menurut catatan sejarah, tradisi-tradisi yang dilahirkan oleh Dinasti Ubaid tetap melekat dalam kehidupan masyarakat Mesir, bahkan sampai hari ini. Sebagai penguasa baru pada waktu itu, Shalahuddin Al-Ayyubi tidak sepenuhnya membuat aturan yang benar-benar baru. Untuk menjaga popularitasnya, beliau mengadaptasikan tradisi-tradisi yang sudah berkembang di masyarakat ke dalam aturan pemerintahannya.
Lalu bagaimana keterkaitannya dengan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri yang juga menyelenggarakan Maulid Nabi? Waskito menjelaskan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri dan Shalahuddin Al-Ayyubi hidup di masa yang sama, dan ternyata mereka berdua memiliki hubungan kekerabatan, mereka adalah saudara ipar.
Dalam buku berjudul "Pro dan Kontra Maulid Nabi" karya AM Waskito disebutkan tiga versi tersebut.
Pertama, perayaan Maulid pertama kali diadakan oleh Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidhah). Dinasti ini berkuasa di Mesir pada tahun 362 sampai dengan 567 Hijriyah.
Maulid mula-mula diselenggarakan di era kepemimpinan Abu Tamim yang memiliki gelar Al-Muiz Dinillah. Tidak hanya Maulid Nabi Muhammad SAW saja yang mereka peringati, ada juga hari lainnya, yaitu peringatan Asyura, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Hasan dan Husain, dan Maulid Fathimah binti Rasulullah.
Baca juga: Apakah Negara Arab Merayakan Maulid Nabi?
Kedua, peringatan Maulid dari kalangan Sunni pertama kali diselenggarakan oleh Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri, gubernur Irbil di Irak.
Sultan Abu Said hidup pada tahun 549-630 H. Pada saat peringatan Maulid beliau mengundang para ulama, ahli tasawuf, ilmuwan, dan seluruh rakyatnya. Beliau menjamu tamu dengan hidangan makanan, berbagi hadiah, dan bersedekah kepada fakir miskin.
Ketiga, peringatan Maulid pertama kali diselenggarakan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi (567-622 H), penguasa dinasti Ayyub (di bawah kekuasaan Daulah Abbasiyah ). Tujuannya adalah untuk meningkatkan semangat jihad umat Islam pada saat Perang Salib dan merebut Yerusalem dari kerajaan Salibis.
Manakah versi yang benar? Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan orang yang pertama kali merintis peringatan Maulid ini adalah penguasa Irbil, Malik Al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukabri bin Zainuddin bin Baktatin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun masjid Al-Jami’ Al-Muzhaffari di lereng gunung Qasiyun.
Baca juga: Peringatan Maulid Nabi dalam Perspektif Hadis
Apabila dilihat dari jalannya sejarah, menurut Waskito, ketiga versi di atas bisa dihubungkan. Kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi di Mesir dimulai ketika Dinasti Ubaid sudah runtuh.
Menurut catatan sejarah, tradisi-tradisi yang dilahirkan oleh Dinasti Ubaid tetap melekat dalam kehidupan masyarakat Mesir, bahkan sampai hari ini. Sebagai penguasa baru pada waktu itu, Shalahuddin Al-Ayyubi tidak sepenuhnya membuat aturan yang benar-benar baru. Untuk menjaga popularitasnya, beliau mengadaptasikan tradisi-tradisi yang sudah berkembang di masyarakat ke dalam aturan pemerintahannya.
Lalu bagaimana keterkaitannya dengan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri yang juga menyelenggarakan Maulid Nabi? Waskito menjelaskan Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri dan Shalahuddin Al-Ayyubi hidup di masa yang sama, dan ternyata mereka berdua memiliki hubungan kekerabatan, mereka adalah saudara ipar.
Lihat Juga :