Kisah Pergumulan Pemikiran Bidang Teologi yang Akhirnya Dimenangkan Imam Al-Asy'ari
Jum'at, 04 Oktober 2024 - 17:44 WIB
loading...
Tidak ada tokoh pemikir dalam Islam yang dapat mengklaim sedemikian banyak penganut dan sedemikian luas pengaruh buah pikirannya seperti Abu al-Hasan Ali al-Asyari. Ilustrasi: Ist
A
A
A
CIRIpokok pemikiran kaum Muktazilah dan para filsuf antara lain adalah banyaknya penggunaan bahan falsafah Yunani sehingga mereka melakukan pendekatan takwil atau interpretasi metaforis terhadap teks-teks dalam Kitab dan Sunnah yang mereka anggap mutashabihat.
Nurcholish Madjid atau Cak Nur dalam bukunya berjudul "Islam Doktrin dan Peradaban" (Yayasan Paramadina) menjelaskan hal ini karena, misalnya, mengandung deskripsi tentang Tuhan yang antropomorfis. Tuhan menyerupai manusia seperti punya tangan, mata, bertahta di atas Singgasana atau Arasy, bersifat senang atau rida, murka atau ghadlab, dendam atau intiqam, terikat waktu seperti menunggu atau intidhar, dan seterusnya.
Disebabkan kuatnya peranan dan unsur logika dan dialektika dalam penalaran kaum Muktazilah dan para Filsuf ini, maka sistem mereka disebut Ilmu Kalam, yakni, Ilmu Logika atau Dialektika.
"Maka jika penalaran mereka itu merupakan sebuah teologi, lebih tepat disebut Teologi Rasional, Teologi Dialektis atau Teologi Spekulatif, kadang-kadang disebut Teologi Skolastik, juga disebut Teologi Alami (Natural Teology), bahkan Teisme Falsafati (Philosophical Theism)," jelasnya.
Baca juga: Sejarah Lahirnya Aliran Muktazilah, Tokoh dan Ajarannya
Akan tetapi penggunaan argumen-argumen logis dan dialektis tidak terbatas hanya kepada kaum Muktazilah dan para Filsuf saja. Kaum Asyari juga banyak menggunakannya, meskipun metode takwil yang menjadi salah satu akibat penggunaan itu hanya menduduki tempat sekunder dalam sistem Asyari.
Kemampuan Abu al-Hasan 'Ali al-Asy'ari menggunakan argumen-argumen logis dan dialektis ia peroleh dari latihan dan pendidikannya sendiri sebagai seorang Mutazili. Ia memang kemudian, pada usia empat puluh tahun, menyatakan diri lepas dari paham lamanya, dan bergabung dengan paham kaum Hadis (Ahl al-Hadits) yang dipelopori kaum Hanbali, yang bertindak sebagai pemegang bendera ortodoksi, sehingga sering diisyaratkan sebagai kaum Sunni par excellence.
Namun al-Asyari tampak tidak mungkin melepaskan diri sepenuhnya dari metode logis dan dialektis, yang kali ini ia gunakan justru untuk mendukung dan membela paham Ahl al-Hadis.
Disebabkan oleh metodologinya itu mula-mula al-Asyari tetap mencurigakan bagi kaum Hadis pada umumnya, sehingga ia merasa perlu membela diri melalui sebuah risalahnya yang sangat penting, Istihsan al-Khawdl fi 'Ilm al-Kalam ("Anjuran untuk Mendalami Ilmu Kalam", yakni, Ilmu Logika).
Karena ilmu logika formal, atau silogisme, dipelajari orang-orang Islam dari Aristoteles (maka dalam bahasa Arab disebut secara lengkap sebagai al-manthiq al-aristhi, logika Aristoteles), pemikiran Ilmu Kalam adalah juga dengan sendirinya bersifat Aristhi atau Aristotelian, dengan ciri utama pendekatan rasional-deduktif.
Nurcholish Madjid atau Cak Nur dalam bukunya berjudul "Islam Doktrin dan Peradaban" (Yayasan Paramadina) menjelaskan hal ini karena, misalnya, mengandung deskripsi tentang Tuhan yang antropomorfis. Tuhan menyerupai manusia seperti punya tangan, mata, bertahta di atas Singgasana atau Arasy, bersifat senang atau rida, murka atau ghadlab, dendam atau intiqam, terikat waktu seperti menunggu atau intidhar, dan seterusnya.
Disebabkan kuatnya peranan dan unsur logika dan dialektika dalam penalaran kaum Muktazilah dan para Filsuf ini, maka sistem mereka disebut Ilmu Kalam, yakni, Ilmu Logika atau Dialektika.
"Maka jika penalaran mereka itu merupakan sebuah teologi, lebih tepat disebut Teologi Rasional, Teologi Dialektis atau Teologi Spekulatif, kadang-kadang disebut Teologi Skolastik, juga disebut Teologi Alami (Natural Teology), bahkan Teisme Falsafati (Philosophical Theism)," jelasnya.
Baca juga: Sejarah Lahirnya Aliran Muktazilah, Tokoh dan Ajarannya
Akan tetapi penggunaan argumen-argumen logis dan dialektis tidak terbatas hanya kepada kaum Muktazilah dan para Filsuf saja. Kaum Asyari juga banyak menggunakannya, meskipun metode takwil yang menjadi salah satu akibat penggunaan itu hanya menduduki tempat sekunder dalam sistem Asyari.
Kemampuan Abu al-Hasan 'Ali al-Asy'ari menggunakan argumen-argumen logis dan dialektis ia peroleh dari latihan dan pendidikannya sendiri sebagai seorang Mutazili. Ia memang kemudian, pada usia empat puluh tahun, menyatakan diri lepas dari paham lamanya, dan bergabung dengan paham kaum Hadis (Ahl al-Hadits) yang dipelopori kaum Hanbali, yang bertindak sebagai pemegang bendera ortodoksi, sehingga sering diisyaratkan sebagai kaum Sunni par excellence.
Namun al-Asyari tampak tidak mungkin melepaskan diri sepenuhnya dari metode logis dan dialektis, yang kali ini ia gunakan justru untuk mendukung dan membela paham Ahl al-Hadis.
Disebabkan oleh metodologinya itu mula-mula al-Asyari tetap mencurigakan bagi kaum Hadis pada umumnya, sehingga ia merasa perlu membela diri melalui sebuah risalahnya yang sangat penting, Istihsan al-Khawdl fi 'Ilm al-Kalam ("Anjuran untuk Mendalami Ilmu Kalam", yakni, Ilmu Logika).
Karena ilmu logika formal, atau silogisme, dipelajari orang-orang Islam dari Aristoteles (maka dalam bahasa Arab disebut secara lengkap sebagai al-manthiq al-aristhi, logika Aristoteles), pemikiran Ilmu Kalam adalah juga dengan sendirinya bersifat Aristhi atau Aristotelian, dengan ciri utama pendekatan rasional-deduktif.