Petunjuk Hadis bagi Pemimpin yang Tidak Mempekerjakan Para Ahli
Senin, 28 Oktober 2024 - 10:34 WIB
loading...
A
A
A
“Allah menyuruh kamu untuk menyerahkan amanat itu kepada ahlinya (orang yang berkompeten dan berhak untuk menerima amanah itu)…” (QS. An-Nisa[4]: 58)
Sehingga para Salaf dahulu saling menahan diri dan menolak untuk diangkat dan ditunjuk menjadi pemimpin . Mereka justru mengalihkannya kepada orang lain yang mereka pandang lebih pantas dan lebih berhak untuk mengembannya. Demikian wara’nya mereka terhadap kekuasaan dan kepemimpinan. Mereka bukanlah orang-orang yang haus kekuasaan. Kita lihat para sahabat sepeninggal Nabi, mereka bertebaran di muka bumi dan menjauh dari hiruk-pikuk perebutan kekuasaan.
Maka iblis menjadikan ini sebagai salah satu celah untuk memperdaya anak Adam. Dan iblis juga menjadikan mereka ini sebagai salah satu bala tentaranya untuk menyebarkan kerusakan. Karena iblis tahu bahwa pemimpin adalah panutan, apa yang dilakukan/dikatakan/dikerjakan oleh pemimpin biasanya diikuti/diamini/ditiru oleh rakyatnya. Maka mereka tidak lepas dari tipu daya dan makar iblis.
Di antara talbis iblis terhadap para pemimpin dan penguasa adalah para pemimpin ini tidak mempekerjakan orang-orang yang cakap, mereka justru mempekerjakan orang-orang yang tidak ahli di bidangnya. Nabi mengatakan di dalam sebuah hadits:
“Jika diserahkan satu tugas kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja masa kehancurannya.” (HR. Bukhari)
Biasanya mereka mempekerjakan orang-orang yang dekat dengan mereka, karib kerabat, sanak keluarga atau orang-orang yang mungkin mencari perhatian di hadapan mereka. Orang-orang inilah yang ditunjuk untuk melakukan tugas-tugas mengurus rakyat. Sehingga karena orang-orang ini tidak berilmu atau mungkin juga tidak bertakwa, maka tercerai-berailah urusan-urusan kaum muslimin, banyak hak-hak yang tidak tertunaikan dan kewajiban-kewajiban yang terbengkalai.
Rakyat pun mendoakan keburukan kepada para penguasa ini karena mereka telah berbuat aniaya terhadap rakyatnya, mereka memberi pekerjanya makanan yang haram karena diperoleh dengan cara yang haram. Maka beredarlah rezeki yang haram itu di kalangan penguasa dan kaki tangannya. Lalu bagaimana satu negeri dapat ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila doa mereka tidak terangkat ke langit karena rezeki tidak halal?
Baca juga: Khutbah Jumat tentang Pemimpin dan Pemerintahan Baru
Wallahu A'lam
Sehingga para Salaf dahulu saling menahan diri dan menolak untuk diangkat dan ditunjuk menjadi pemimpin . Mereka justru mengalihkannya kepada orang lain yang mereka pandang lebih pantas dan lebih berhak untuk mengembannya. Demikian wara’nya mereka terhadap kekuasaan dan kepemimpinan. Mereka bukanlah orang-orang yang haus kekuasaan. Kita lihat para sahabat sepeninggal Nabi, mereka bertebaran di muka bumi dan menjauh dari hiruk-pikuk perebutan kekuasaan.
Maka iblis menjadikan ini sebagai salah satu celah untuk memperdaya anak Adam. Dan iblis juga menjadikan mereka ini sebagai salah satu bala tentaranya untuk menyebarkan kerusakan. Karena iblis tahu bahwa pemimpin adalah panutan, apa yang dilakukan/dikatakan/dikerjakan oleh pemimpin biasanya diikuti/diamini/ditiru oleh rakyatnya. Maka mereka tidak lepas dari tipu daya dan makar iblis.
Di antara talbis iblis terhadap para pemimpin dan penguasa adalah para pemimpin ini tidak mempekerjakan orang-orang yang cakap, mereka justru mempekerjakan orang-orang yang tidak ahli di bidangnya. Nabi mengatakan di dalam sebuah hadits:
إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
“Jika diserahkan satu tugas kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja masa kehancurannya.” (HR. Bukhari)
Biasanya mereka mempekerjakan orang-orang yang dekat dengan mereka, karib kerabat, sanak keluarga atau orang-orang yang mungkin mencari perhatian di hadapan mereka. Orang-orang inilah yang ditunjuk untuk melakukan tugas-tugas mengurus rakyat. Sehingga karena orang-orang ini tidak berilmu atau mungkin juga tidak bertakwa, maka tercerai-berailah urusan-urusan kaum muslimin, banyak hak-hak yang tidak tertunaikan dan kewajiban-kewajiban yang terbengkalai.
Rakyat pun mendoakan keburukan kepada para penguasa ini karena mereka telah berbuat aniaya terhadap rakyatnya, mereka memberi pekerjanya makanan yang haram karena diperoleh dengan cara yang haram. Maka beredarlah rezeki yang haram itu di kalangan penguasa dan kaki tangannya. Lalu bagaimana satu negeri dapat ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila doa mereka tidak terangkat ke langit karena rezeki tidak halal?
Baca juga: Khutbah Jumat tentang Pemimpin dan Pemerintahan Baru
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :