Sebelum Islam Datang, Dukun Dianggap seperti Nabi di Jazirah Arab
Jum'at, 15 November 2024 - 10:09 WIB
loading...
A
A
A
Di tanah Arab khususnya di Makkah sebelum Islam datang, keberadaan dukun juga sangat dihargai dan dimuliakan. Mereka ibarat para Nabi yang menjadi tempat bertanya, meminta keputusan hukum, dan juga untuk menyembuhkan penyakit.
Tidak hanya di Makkah, di daerah-daerah lain juga terdapat dukun sebagaimana disebutkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah AlAnshari, berkata, “Para dukun yang mereka (masyarakat Arab) jadikan sebagai tempat untuk menyelesaikan persoalan yang ada, terdapat satu orang di Juhainah, satu orang Aslam, dan di masing-masing perkampungan ada satu orang. Dukun-dukun itu dibantu oleh setan yang selalu datang kepada mereka”
Baca juga: Ayat Ruqyah Mandiri untuk Menangkal Sihir, Pelet, dan Santet
Pada zaman jahiliah perdukunan banyak dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kontak khusus dengan setan-setan yang mencuri kabar dari langit kemudian menyampaikan kepada mereka. Sehingga dukun mengambil kalimat tersebut melalui perantara setan dengan berbagai macam tambahan, lalu disampaikan kepada umat manusia.
Jika ada kecocokan, maka umat manusia akan percaya dan menjadikan sang dukun sebagai acuan konsultasi untuk menduga perkara yang akan terjadi.
Muhammad Sulaiman Al-Asyqar dalam "Candu Mistik Menyingkap Rahasia Sihir Dan Perdukunan" (Darul Falah, 2005) mengatakan dukun-dukun yang ada di tengah masyarakat Arab ketika itu tidak hanya didominasi kaum laki-laki seperti Rabi’ bin Rabi’ah yang dipanggil Suthaih, Ibnu Sha’b bin Yasykur yang di panggil Syaqq, Khanafir bin At-Tau’am Al-Humairi, Sawad bin Qarib Ad-Dusi, dan lain-lainnya.
Namun, ada pula dukun-dukun yang berasal dari kalangan perempuan seperti Zharidah Al-Khair (dukun di daerah Humair), Salma AlHamdaniyah, Fatimah binti Murr Al-Hamdaniyah Afraa’ Humair, Sajjah yang pernah mengaku menjadi Nabi dan lain sebagainya.
Seperti yang digambarkan George Zidane, orang Arab ketika itu berkeyakinan bahwa dalam diri seorang dukun terdapat kemampuan untuk melakukan sesuatu sehingga mereka selalu minta petunjuk kepada dukun dalam segala urusan (kebutuhan hidup), menyelesaikan persengketaan di antara mereka, mengobati penyakit, menjelaskan segala yang muskil (pelik), menguraikan mimpi, dan meramal masa depan.
Baca juga: Waspada! Dukun Putih Sama Sesatnya: Beda Sihir dengan Karomah
Singkat kata, bagi mereka dukun itu adalah orang yang berilmu, filsuf (ahli filsafat), dokter, hakim, dan tokoh agama.
Tidak hanya di Makkah, di daerah-daerah lain juga terdapat dukun sebagaimana disebutkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah AlAnshari, berkata, “Para dukun yang mereka (masyarakat Arab) jadikan sebagai tempat untuk menyelesaikan persoalan yang ada, terdapat satu orang di Juhainah, satu orang Aslam, dan di masing-masing perkampungan ada satu orang. Dukun-dukun itu dibantu oleh setan yang selalu datang kepada mereka”
Baca juga: Ayat Ruqyah Mandiri untuk Menangkal Sihir, Pelet, dan Santet
Pada zaman jahiliah perdukunan banyak dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kontak khusus dengan setan-setan yang mencuri kabar dari langit kemudian menyampaikan kepada mereka. Sehingga dukun mengambil kalimat tersebut melalui perantara setan dengan berbagai macam tambahan, lalu disampaikan kepada umat manusia.
Jika ada kecocokan, maka umat manusia akan percaya dan menjadikan sang dukun sebagai acuan konsultasi untuk menduga perkara yang akan terjadi.
Muhammad Sulaiman Al-Asyqar dalam "Candu Mistik Menyingkap Rahasia Sihir Dan Perdukunan" (Darul Falah, 2005) mengatakan dukun-dukun yang ada di tengah masyarakat Arab ketika itu tidak hanya didominasi kaum laki-laki seperti Rabi’ bin Rabi’ah yang dipanggil Suthaih, Ibnu Sha’b bin Yasykur yang di panggil Syaqq, Khanafir bin At-Tau’am Al-Humairi, Sawad bin Qarib Ad-Dusi, dan lain-lainnya.
Namun, ada pula dukun-dukun yang berasal dari kalangan perempuan seperti Zharidah Al-Khair (dukun di daerah Humair), Salma AlHamdaniyah, Fatimah binti Murr Al-Hamdaniyah Afraa’ Humair, Sajjah yang pernah mengaku menjadi Nabi dan lain sebagainya.
Seperti yang digambarkan George Zidane, orang Arab ketika itu berkeyakinan bahwa dalam diri seorang dukun terdapat kemampuan untuk melakukan sesuatu sehingga mereka selalu minta petunjuk kepada dukun dalam segala urusan (kebutuhan hidup), menyelesaikan persengketaan di antara mereka, mengobati penyakit, menjelaskan segala yang muskil (pelik), menguraikan mimpi, dan meramal masa depan.
Baca juga: Waspada! Dukun Putih Sama Sesatnya: Beda Sihir dengan Karomah
Singkat kata, bagi mereka dukun itu adalah orang yang berilmu, filsuf (ahli filsafat), dokter, hakim, dan tokoh agama.
Lihat Juga :