Hukum Tajwid Surat An Nisa Ayat 3, Lengkap dengan Penjelasan dan Maknanya!
Jum'at, 09 Mei 2025 - 15:42 WIB
loading...
Isi pokok dari surat An-Nisa ayat 3 menerangkan Allah memperbolehkan laki-laki untuk menikahi lebih dari satu perempuan, yaitu dua, tiga, atau empat, asalkan mampu berlaku adil. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Surat An-Nisa memiliki total 176 ayat dan termasuk dalam kategori surat Madaniyah karena diturunkan di Kota Madinah. Isi pokok dari surat An-Nisa ayat 3 menerangkan Allah memperbolehkan laki-laki untuk menikahi lebih dari satu perempuan, yaitu dua, tiga, atau empat, asalkan mampu berlaku adil.Namun jika merasa tidak sanggup bersikap adil, maka cukup menikahi satu orang saja.
Dalam ayat ini juga dapat dipelajari beberapa jenis bacaan tajwid seperti perbedaan Idzhar Halqi dengan Idzhar Syafawi, penggunaan Alif Lam Qomariyah dan Syamsiyah, serta hukum-hukum tajwid lainnya.
Latin: “Wa in khiftum allaa tuqsithuu fil-yataamaa fangkihuu maa thooba lakum minan-nisaa-i masnaa wa sulaasa wa rubaa’, fa in khiftum allaa ta’diluu fa waahidatan au maa malakat aimaanukum, zaalika adnaa allaa ta’uuluu.”
Artinya: “Dan jika kamu merasa takut tidak akan mampu berlaku adil terhadap anak-anak yatim (ketika menikahi mereka), maka nikahilah perempuan lain yang kamu sukai, dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak bisa berbuat adil, maka cukup satu orang saja, atau perempuan yang menjadi hamba sahaya yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih mendekatkan kamu untuk tidak berbuat zalim.” (QS. An-Nisa: 3)
Idzhar halqi
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Idzhar halqi, karena nun sukun bertemu dengan huruf Kha.
Idzhar syafawi, muncul saat huruf Mim sukun berhadapan dengan huruf Hamzah. Bacaan idzhar syafawi dilakukan dengan pengucapan huruf Mim secara terang dan tanpa dengung.
Mad thabi’i (mad asli), terjadi karena huruf alif sukun berada setelah fathah, serta huruf wawu sukun setelah dlommah. Panjang bacaannya adalah dua harakat atau setara satu alif.
Qolqolah sughra, terlihat pada huruf Qaf yang mati secara asli, menghasilkan pantulan ringan saat dibaca.
Alif lam qamariyah
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Alif lam qamariyah, karena alif lam diikuti huruf Ya, yang ditandai dengan adanya sukun pada huruf lam.
Mad thabi’i (mad asli), karena terdapat fathah berdiri pada huruf Ya dan Mim.
Ikhfa haqiqi
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Ikhfa haqiqi, karena nun sukun bertemu huruf Kaf, sehingga bunyi nun disamarkan saat dibaca.
Mad thabi’i (mad asli), ditandai dengan wawu sukun setelah dlommah dan alif sukun setelah fathah.
Idgham mimi
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Idgham mimi (juga dikenal sebagai idgham mutamatsilain atau mistlain), karena Mim sukun bertemu Mim. Bacaan ini disuarakan dengan dengung.
Alif lam syamsiyah, sebab alif lam bertemu huruf Nun dan ditandai dengan tasydid. Cara membacanya adalah lam dilebur ke dalam huruf berikutnya sehingga lam tidak terdengar.
Ghunnah, karena Nun ditasydid. Bacaan ghunnah dibaca dengan dengung selama 2 sampai 3 harakat.
Mad wajib muttashil, karena mad thabi’i bertemu hamzah dalam satu kata. Panjang bacaannya lima harakat atau dua setengah alif.
Baca juga: Hukum Tajwid Surat An-Nisa Ayat 59, Lengkap dengan Penjelasannya
Mad Thabi’i
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Mad thabi’i (mad asli), karena terdapat fathah berdiri di atas huruf Nun, Lam, dan Ba.
Idzhar syafawi
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Idzhar halqi, disebabkan nun sukun bertemu huruf Kha.
Idzhar syafawi, karena Mim sukun bertemu dengan Hamzah.
Mad thabi’i (mad asli), ditandai oleh kehadiran alif sukun setelah fathah dan wawu sukun setelah dlommah.
Huruf lin
Hukum bacaan pada ayat tersebut mencakup:
Mad thabi’i (mad asli), karena terdapat alif mati sesudah fathah.
Huruf lin (harfu layyin), karena huruf Wawu dan Ya sukun muncul setelah fathah.
Hams, ditemukan pada huruf Ta yang disukun. Hams dibaca dengan keluarnya udara saat mengucapkan huruf tersebut.
Mad jaiz munfashil
Hukum bacaan pada ayat tersebut mencakup:
Mad thabi’i (mad asli), terlihat pada fathah berdiri di atas huruf Dzal, alif sukun setelah fathah, dan wawu sukun setelah dlommah.
Qolqolah sughra, karena huruf Dal mati asli.
Mad jaiz munfashil, muncul saat mad thabi’i (seperti alif sukun setelah fathah) bertemu huruf hamzah di kata berbeda. Panjang bacaannya antara dua sampai lima harakat.
Demikian penjelasan mengenai hukum tajwid dalam Surah An-Nisa ayat 3. Dengan memahami berbagai hukum tajwid yang terkandung dalam Surah An-Nisa ayat 3, pembaca diharapkan dapat meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an secara tartil dan benar. Semoga penjelasan ini menambah wawasan dan memotivasi untuk terus belajar membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.M/G Alya Ramadhanty Vardiansyah
Baca juga: 15 Contoh Bacaan Mad Badal dalam Ayat Al Quran, Lengkap dengan Cara Membacanya
Dalam ayat ini juga dapat dipelajari beberapa jenis bacaan tajwid seperti perbedaan Idzhar Halqi dengan Idzhar Syafawi, penggunaan Alif Lam Qomariyah dan Syamsiyah, serta hukum-hukum tajwid lainnya.
وَاِ نْ خِفْتُمْ اَ لَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَا نْكِحُوْا مَا طَا بَ لَـكُمْ مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِ نْ خِفْتُمْ اَ لَّا تَعْدِلُوْا فَوَا حِدَةً اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰۤى اَلَّا تَعُوْلُوْا
Latin: “Wa in khiftum allaa tuqsithuu fil-yataamaa fangkihuu maa thooba lakum minan-nisaa-i masnaa wa sulaasa wa rubaa’, fa in khiftum allaa ta’diluu fa waahidatan au maa malakat aimaanukum, zaalika adnaa allaa ta’uuluu.”
Artinya: “Dan jika kamu merasa takut tidak akan mampu berlaku adil terhadap anak-anak yatim (ketika menikahi mereka), maka nikahilah perempuan lain yang kamu sukai, dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak bisa berbuat adil, maka cukup satu orang saja, atau perempuan yang menjadi hamba sahaya yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih mendekatkan kamu untuk tidak berbuat zalim.” (QS. An-Nisa: 3)
Idzhar halqi
وَاِ نْ خِفْتُمْ اَ لَّا تُقْسِطُوْا
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Idzhar halqi, karena nun sukun bertemu dengan huruf Kha.
Idzhar syafawi, muncul saat huruf Mim sukun berhadapan dengan huruf Hamzah. Bacaan idzhar syafawi dilakukan dengan pengucapan huruf Mim secara terang dan tanpa dengung.
Mad thabi’i (mad asli), terjadi karena huruf alif sukun berada setelah fathah, serta huruf wawu sukun setelah dlommah. Panjang bacaannya adalah dua harakat atau setara satu alif.
Qolqolah sughra, terlihat pada huruf Qaf yang mati secara asli, menghasilkan pantulan ringan saat dibaca.
Alif lam qamariyah
فِى الْيَتٰمٰى
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Alif lam qamariyah, karena alif lam diikuti huruf Ya, yang ditandai dengan adanya sukun pada huruf lam.
Mad thabi’i (mad asli), karena terdapat fathah berdiri pada huruf Ya dan Mim.
Ikhfa haqiqi
فَا نْكِحُوْا مَا طَا بَ
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Ikhfa haqiqi, karena nun sukun bertemu huruf Kaf, sehingga bunyi nun disamarkan saat dibaca.
Mad thabi’i (mad asli), ditandai dengan wawu sukun setelah dlommah dan alif sukun setelah fathah.
Idgham mimi
لَـكُمْ مِّنَ النِّسَآءِ
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Idgham mimi (juga dikenal sebagai idgham mutamatsilain atau mistlain), karena Mim sukun bertemu Mim. Bacaan ini disuarakan dengan dengung.
Alif lam syamsiyah, sebab alif lam bertemu huruf Nun dan ditandai dengan tasydid. Cara membacanya adalah lam dilebur ke dalam huruf berikutnya sehingga lam tidak terdengar.
Ghunnah, karena Nun ditasydid. Bacaan ghunnah dibaca dengan dengung selama 2 sampai 3 harakat.
Mad wajib muttashil, karena mad thabi’i bertemu hamzah dalam satu kata. Panjang bacaannya lima harakat atau dua setengah alif.
Baca juga: Hukum Tajwid Surat An-Nisa Ayat 59, Lengkap dengan Penjelasannya
Mad Thabi’i
مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Mad thabi’i (mad asli), karena terdapat fathah berdiri di atas huruf Nun, Lam, dan Ba.
Idzhar syafawi
فَاِ نْ خِفْتُمْ اَ لَّا تَعْدِلُوْا
Hukum tajwid pada kalimat di atas sebagai berikut:
Idzhar halqi, disebabkan nun sukun bertemu huruf Kha.
Idzhar syafawi, karena Mim sukun bertemu dengan Hamzah.
Mad thabi’i (mad asli), ditandai oleh kehadiran alif sukun setelah fathah dan wawu sukun setelah dlommah.
Huruf lin
فَوَا حِدَةً اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ
Hukum bacaan pada ayat tersebut mencakup:
Mad thabi’i (mad asli), karena terdapat alif mati sesudah fathah.
Huruf lin (harfu layyin), karena huruf Wawu dan Ya sukun muncul setelah fathah.
Hams, ditemukan pada huruf Ta yang disukun. Hams dibaca dengan keluarnya udara saat mengucapkan huruf tersebut.
Mad jaiz munfashil
ذٰلِكَ اَدْنٰۤى اَلَّا تَعُوْلُوْا
Hukum bacaan pada ayat tersebut mencakup:
Mad thabi’i (mad asli), terlihat pada fathah berdiri di atas huruf Dzal, alif sukun setelah fathah, dan wawu sukun setelah dlommah.
Qolqolah sughra, karena huruf Dal mati asli.
Mad jaiz munfashil, muncul saat mad thabi’i (seperti alif sukun setelah fathah) bertemu huruf hamzah di kata berbeda. Panjang bacaannya antara dua sampai lima harakat.
Demikian penjelasan mengenai hukum tajwid dalam Surah An-Nisa ayat 3. Dengan memahami berbagai hukum tajwid yang terkandung dalam Surah An-Nisa ayat 3, pembaca diharapkan dapat meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an secara tartil dan benar. Semoga penjelasan ini menambah wawasan dan memotivasi untuk terus belajar membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.M/G Alya Ramadhanty Vardiansyah
Baca juga: 15 Contoh Bacaan Mad Badal dalam Ayat Al Quran, Lengkap dengan Cara Membacanya
(wid)
Lihat Juga :