Mengapa 10 Hari Pertama Dzulhijjah Istimewa? Begini Penjelasan Dalilnya!
Selasa, 27 Mei 2025 - 05:15 WIB
loading...
Terdapat beberapa hadis shahih yang menerangkan keutamaan amal saleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Bagi umat Islam, bulan Dzulhijjah adalah bulan istimewa. Selain karena salah satu bulan mulia (haram), banyak amalannya yang juga diganjar pahala berlipat-lipat. Bahkan, 10 hari pertama bulan yang dikenal sebagai bulan Haji ini memiliki keutamaan yang luar biasa. Benarkah demikian? Bagaimana penjelasan dalilnya?
Terdapat beberapa hadis shahih yang menerangkan keutamaan amal saleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Di antaranya adalah:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada waktu tersebut lebih dicintai Allah melebihi hari-hari sepuluh (bulan Dzulhijjah ini).”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga amalan jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berperang di jalan Allah dengan nyawa dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan membawa sesuatu pun (ia gugur di jalan Allah).” (HR. Al-Bukhari; HR. Abu Daud; HR. Tirmidzi; HR. Ibnu Majah; HR. Ahmad)
Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya tengah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu disebutkan beberapa amal shalih, maka beliau bersabda,
‘Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada waktu tersebut lebih mulia daripada hari-hari sepuluh (bulan Dzulhijjah ini).’
Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak juga amalan jihad di jalan Allah?’
Beliau menjawab, ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berperang di jalan Allah dengan nyawa dan hartanya, kemudian ia gugur di jalan Allah.’” (HR. Ahmad; HR. Ath-Thahawi; HR. Abu Nu’aim al-Asbhani. Dinyatakan shahih oleh muhaqqiq Hilyatul Awliya’ dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)
Baca juga: Mengapa Dzulhijjah Disebut Bulan Haram?
Terdapat beberapa hadis shahih yang menerangkan keutamaan amal saleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Di antaranya adalah:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ الله، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada waktu tersebut lebih dicintai Allah melebihi hari-hari sepuluh (bulan Dzulhijjah ini).”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga amalan jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berperang di jalan Allah dengan nyawa dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan membawa sesuatu pun (ia gugur di jalan Allah).” (HR. Al-Bukhari; HR. Abu Daud; HR. Tirmidzi; HR. Ibnu Majah; HR. Ahmad)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَذُكِرَتِ الْأَعْمَالُ، فَقَالَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ فِيهِنَّ أَفْضَلُ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: فَأَكْبَرَهُ فَقَالَ: وَلَا الْجِهَادُ، إِلَّا أَنْ يَخْرُجَ رَجُلٌ بِنَفْسِهِ، وَمَالِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ، ثُمَّ تَكُونَ مُهْجَةُ نَفْسِهِ فِيهِ
Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya tengah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu disebutkan beberapa amal shalih, maka beliau bersabda,
‘Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada waktu tersebut lebih mulia daripada hari-hari sepuluh (bulan Dzulhijjah ini).’
Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak juga amalan jihad di jalan Allah?’
Beliau menjawab, ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berperang di jalan Allah dengan nyawa dan hartanya, kemudian ia gugur di jalan Allah.’” (HR. Ahmad; HR. Ath-Thahawi; HR. Abu Nu’aim al-Asbhani. Dinyatakan shahih oleh muhaqqiq Hilyatul Awliya’ dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)
Baca juga: Mengapa Dzulhijjah Disebut Bulan Haram?
Lihat Juga :