Kisah Bulan Muharram : Bahtera Nabi Nuh AS Berlabuh setelah 150 Hari Terombang-ambing Banjir
Jum'at, 27 Juni 2025 - 17:40 WIB
loading...
A
A
A
Antara waktu riwayat Bibel dengan waktu riwayat Quran apakah manusia sudah memperoleh informasi yang memberi penerangan tentang kejadian banjir itu?
Jawaban atas pertanyaan itu adalah "Tidak," kata Bucaille. Karena antara waktu Perjanjian Lama dan Quran, satu-satunya dokumentasi yang dimiliki manusia, tentang sejarah kuno adalah Bibel.
Jika faktor manusia tidak dapat menerangkan perubahan dalam riwayat, yakni perubahan yang sesuai dengan pengetahuan modern, maka kita harus menerima penjelasan lain, yaitu: Faktor itu adalah wahyu yang datang kemudian sesudah wahyu yang ditulis dalam Bibel.
Baca juga: 7 Peristiwa Muharram yang Diabadikan dalam Al Quran, Simak di Sini!
Ath-Thabari mengutip firman Allah SWT dalam Al-Quran surat As-Saffat ayat 77: "Dan Kami jadikan anak cucunya (Nuh) orang-orang yang melanjutkan keturunan."
Ulama pada masa awal Islam, Ibnu Abbas, pun mengatakan hal yang serupa ketika menjelaskan tentang surat As-Saffat ayat 77. Ibnu Abbas berkata, “Hanya keturunan dari Nuh yang tersisa.”
Namun demikian, tidak semua tafsir berkata demikian, Quraish Shihab mengatakan, bahwa ada juga tafsir yang memiliki pendapat bahwa banjir bah pada masa Nuh tidak melanda seluruh bumi, sehingga memungkinkan adanya manusia lain.
Ibnu Katsir melanjutkan Nuh melepaskan burung-burung, dan mereka beterbangan menyebar ke muka bumi. Setelah itu orang-orang beriman turun. Nuh meletakkan dahinya ke tanah dalam sujud.
Para pengikut Nuh menyalakan api dan duduk di sekitarnya. Menyalakan api dilarang selama di atas kapal, agar tidak menyalakan kayu bahtera dan membakarnya.
"Tak satu pun dari mereka makan makanan panas sepanjang seluruh periode banjir. Setelah pendaratan, ada satu hari puasa sebagai tanda terima kasih kepada Allah,” tulis Ibnu Katsir.
Jawaban atas pertanyaan itu adalah "Tidak," kata Bucaille. Karena antara waktu Perjanjian Lama dan Quran, satu-satunya dokumentasi yang dimiliki manusia, tentang sejarah kuno adalah Bibel.
Jika faktor manusia tidak dapat menerangkan perubahan dalam riwayat, yakni perubahan yang sesuai dengan pengetahuan modern, maka kita harus menerima penjelasan lain, yaitu: Faktor itu adalah wahyu yang datang kemudian sesudah wahyu yang ditulis dalam Bibel.
Kisah Berlanjut
Ibnu Katsir dalam bukunya "Qashash Al-Anbiya" menambahkan, setelah Nuh mendarat di al-Judi dan melanjutkan hidupnya bersama orang-orang yang beriman, Al-Quran menutup tirai pada kisah selanjutnya. Tidak diketahui bagaimana urusan dia dengan para pengikutnya berlanjut. "Yang diketahui atau dapat dipastikan adalah, bahwa pada saat kematiannya, dia meminta putranya untuk menyembah hanya kepada Allah saja, Nuh kemudian meninggal," ujar Ibnu Katsir.Baca juga: 7 Peristiwa Muharram yang Diabadikan dalam Al Quran, Simak di Sini!
Ath-Thabari mengutip firman Allah SWT dalam Al-Quran surat As-Saffat ayat 77: "Dan Kami jadikan anak cucunya (Nuh) orang-orang yang melanjutkan keturunan."
Ulama pada masa awal Islam, Ibnu Abbas, pun mengatakan hal yang serupa ketika menjelaskan tentang surat As-Saffat ayat 77. Ibnu Abbas berkata, “Hanya keturunan dari Nuh yang tersisa.”
Namun demikian, tidak semua tafsir berkata demikian, Quraish Shihab mengatakan, bahwa ada juga tafsir yang memiliki pendapat bahwa banjir bah pada masa Nuh tidak melanda seluruh bumi, sehingga memungkinkan adanya manusia lain.
Pasca Banjir dan Wasiat Nabi Nuh
Sementara itu, Qatadah bin an-Numan meriwayatkan peristiwa selanjutnya setelah bahtera tiba di al-Judi. Qatadah berkisah, ketika Nuh turun dari bahtera pada hari ke-10 al-Muharram, dia berkata kepada mereka yang bersamanya: "Bagi kalian yang telah berpuasa harus menyelesaikan puasanya, dan bagi kalian yang telah berbuka puasa harus berpuasa."Ibnu Katsir melanjutkan Nuh melepaskan burung-burung, dan mereka beterbangan menyebar ke muka bumi. Setelah itu orang-orang beriman turun. Nuh meletakkan dahinya ke tanah dalam sujud.
Para pengikut Nuh menyalakan api dan duduk di sekitarnya. Menyalakan api dilarang selama di atas kapal, agar tidak menyalakan kayu bahtera dan membakarnya.
"Tak satu pun dari mereka makan makanan panas sepanjang seluruh periode banjir. Setelah pendaratan, ada satu hari puasa sebagai tanda terima kasih kepada Allah,” tulis Ibnu Katsir.
Lihat Juga :