Festival Kerukunan, Pendekatan PKUB Kemenag Perkuat Kohesi Umat

Senin, 14 Juli 2025 - 04:53 WIB
loading...
Festival Kerukunan,...
Festival Kerukunan, Pendekatan PKUB Kemenag Perkuat Kohesi Umat/Kemenag
A A A
Ada banyak cara memperkuat kohesi umat, salah satunya melalui pendekatan budaya dan partisipatif yang dilakukan Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama . Pendekatan ini dikemas dalam Festival Kerukunan di Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Sabtu (12/7/2025).

Seperti festival pada umumnya, acara ini bersifat massal. Tidak kurang 500 peserta hadir ikut memeriahkan. Mereka berasal dari berbagai unsur, antara lain tokoh agama, warga, pemerintah daerah, dan pelajar.

Baca Juga: Hukum Memelihara Anjing bagi Seorang Muslim, Bagaimana Menyikapinya

Festival ini merupakan bagian dari program Desa Sadar Kerukunan dan menjadi model penerapan pendekatan humanistik yang diusung PKUB. Pendekatan ini menekankan pentingnya interaksi yang setara, ruang berekspresi yang aman, dan keterlibatan aktif warga sebagai pelaku kerukunan.

“Kami percaya bahwa kerukunan tidak bisa dibentuk hanya dari ruang sidang dan teks kebijakan. Ia harus hadir lewat pengalaman sosial yang menyentuh sisi manusiawi. Maka, pendekatan budaya dan partisipatif adalah pilihan strategis kami,” ujar Kepala PKUB Muhammad Adib Abdushomad.

Desa Pabuaran yang telah lama menjadi simbol toleransi dan hidup berdampingan dipilih sebagai lokasi kegiatan. Festival menampilkan pentas budaya lintas iman seperti Hadroh Islami, Gambang Kromong, Barongsai, Tari Hindu dan Buddha, serta Vocal Group Kristen. Tenda-tenda UMKM juga berjajar rapi memamerkan kerajinan tangan, kuliner lokal, dan hasil kebun warga.

Warga pun larut dalam suasana. Anak-anak mengenakan pakaian adat dari berbagai suku menari di pinggir lapangan, para pemuka agama duduk berdampingan, dan remaja desa menjadi sukarelawan acara.

“Kami merasa acara ini milik kami juga, bukan cuma acara pemerintah. Semua dimusyawarahkan, kami ikut tampil, ikut jaga keamanan, bahkan bantu bersih-bersih panggung,” ujar Lilis Wulandari, ibu rumah tangga yang juga pelatih tari lokal.

Dalam sesi talkshow interaktif, para narasumber dari PKUB dan FKUB Jawa Barat menyampaikan bahwa pendekatan berbasis komunitas seperti ini merupakan benteng sosial yang kuat dalam menghadapi tantangan global seperti intoleransi digital, ujaran kebencian, dan politisasi agama.

Puncak kegiatan ditandai dengan Deklarasi Kerukunan oleh enam pemuka agama. Mereka berdiri di atas panggung utama, membacakan komitmen bersama untuk menjaga kedamaian, menolak kekerasan atas nama keyakinan, serta menguatkan nilai gotong royong dalam kehidupan antarumat beragama.

Ketua Panitia sekaligus Kepala Bidang Bina Lembaga Kerukunan Agama dan Lembaga Keagamaan PKUB, Hery Susanto mengatakan bahwa kegiatan ini tidak berdiri sendiri.

“Ini adalah piloting nasional, model awal yang akan kami replikasi di seluruh Desa Sadar Kerukunan binaan Kementerian Agama. Formatnya akan menyesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing, tetapi prinsipnya sama. Masyarakat dilibatkan sebagai aktor utama kerukunan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan ini memungkinkan masyarakat untuk tidak hanya memahami kerukunan, tetapi juga mengalami dan mempraktikkannya dalam bentuk nyata melalui seni, bazar, dialog publik, serta solidaritas lintas identitas.

Festival ditutup dengan penampilan dari Ngapah Band dan Madani. Lagu-lagu bertema cinta Tanah Air dan persaudaraan menggema di lapangan desa. Suasana begitu akrab. Warga dan tokoh agama berdiri berdampingan, menyanyi bersama, tertawa, dan saling menyapa hangat.

Di tengah tantangan zaman yang mengedepankan kecepatan dan ketegangan identitas, Festival Kerukunan di Desa Pabuaran menghadirkan pelajaran sederhana namun dalam. Damai bisa dimulai dari desa, dari warga, dan dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan bersama.

Jika kerukunan adalah rumah besar Indonesia, maka desa adalah fondasinya. Dan fondasi itu hanya akan kokoh jika dibangun dengan bahasa budaya, rasa percaya, dan partisipasi aktif seluruh anak bangsa.
(aww)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
Kemenag Siapkan Beasiswa...
Kemenag Siapkan Beasiswa Sarjana PJJ untuk Guru Ngaji
Kemenag: Secara Hisab,...
Kemenag: Secara Hisab, 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026
Sidang Isbat Awal Ramadan...
Sidang Isbat Awal Ramadan 2026 Digelar Besok
Kemenag Siap Kirimkan...
Kemenag Siap Kirimkan Imam dan Santri Berprestasi Program Beasiswa ke Turki
Kemenag Gelar Sidang...
Kemenag Gelar Sidang Isbat Awal Ramadan 2026 pada 17 Februari
Rekomendasi
Isyarat Aneh Muncul...
Isyarat Aneh Muncul dari Langit, Ada Apa dengan Alam Semesta?
Terdorong Gas Langit,...
Terdorong Gas Langit, Bumi Terperangkap di Lingkaran Magnet Raksasa
Jejak Kaki Dinosaurus...
Jejak Kaki Dinosaurus Berukuran Sangat Besar Ditemukan di Inggris
Artikel Terkini
5 Perintah Al-Quran...
5 Perintah Al-Qur'an terhadap Anak Yatim, Muslim Wajib Tahu dan Mengamalkannya
Doa Anak Yatim Diyakini...
Doa Anak Yatim Diyakini Mustajab, Benarkah?
Mengapa Anak Yatim Begitu...
Mengapa Anak Yatim Begitu Istimewa di Mata Allah? Ini Penjelasannya
Lebaran Anak Yatim:...
Lebaran Anak Yatim: Antara Dalil, Tradisi, dan Makna Kepedulian Sosial
Kenapa Hari Asyura Dijuluki...
Kenapa Hari Asyura Dijuluki Lebaran Anak Yatim? Begini Sejarahnya di Indonesia
Puasa Tasua 9 Muharram:...
Puasa Tasua 9 Muharram: Dalil, dan Bacaan Niat Lengkap
Infografis
Umat Muslim Dianjurkan...
Umat Muslim Dianjurkan Memperbanyak Doa Sambut Ramadhan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved