Bagaimana Cara Melejitkan Potensi Diri dalam Pandangan Syariat?
Selasa, 15 Juli 2025 - 11:39 WIB
loading...
Manusia itu memiliki dua potensi kekuatan: kekuatan ilmiah nazhariyah (pengetahuan dan pemikiran) dan kekuatan ‘amaliah iradiyah (perbuatan dan kehendak), bila dua kekuatan ini bisa dikembangkan maka potensi dirinya akan sangat besar. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Bagaimana cara melejitkan potensi diri dalam pandangan syariat? Adakah dalil dan panduannya? Dalam pandangan Islam , manusia itu memiliki dua potensi kekuatan: kekuatan ilmiah nazhariyah (pengetahuan dan pemikiran) dan kekuatan ‘amaliah iradiyah (perbuatan dan kehendak). Kebahagiaan yang sempurna bagi manusia sangat tergantung pada penyempurnaan kedua kekuatan ini; kekuatan ilmiah/pengetahuan dan kekuatan iradiyah/kehendak.
Lantas bagaimana caranya? Ustaz Abu Mushlih Ari Wahyudi memberikan penjelasan detail tentang hal tersebut. Berikut penjelasan dai dari Kajian Sunnah ini.
Menurutnya, cara untuk menyempurnakan kekuatan ilmiah hanya bisa dilakukan dengan:
1. Mengenali Zat Yang telah menciptakan dirinya, Nama-nama dan Sifat-sifatNya.
2. Mengetahui jalan yang bisa mengantarkan kepada-Nya.
3. Harus mengerti berbagai rintangan jalan tersebut.
4.Harus mengenali dirinya sendiri.
5. Mengetahui aib-aib yang dimilikinya.
Dengan lima pengetahuan inilah seorang manusia akan bisa memperoleh kesempurnaan kekuatan ilmiah. Orang yang paling berilmu adalah orang yang paling mengerti dan paling paham tentang-Nya.
Sedangkan untuk menyempurnakan kekuatan amaliah iradiyah hanya bisa diraih dengan menjaga hak-hak Alloh subhanahu wa ta’ala yang harus ditunaikan hamba (tauhid dan taat) dan menegakkannya dengan ikhlas, shidq (jujur dan benar), penuh nasihat, ihsan, mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dan menyadari serta mengakui karunia Alloh kepada dirinya, menyadari kekurangan dirinya dalam menunaikan hak-hakNya. Sehingga dia pun merasa malu menghadap-Nya dengan pengabdian (yang kurang) seperti itu karena dia menyadari bahwa pengabdiannya itu belum bisa memenuhi hak-Nya sebagaimana seharusnya, bahkan jauh sekali di bawah semestinya.
"Namun tidak mungkin seorang manusia menempuh jalan untuk menyempurnakan kedua kekuatan ini kecuali dengan pertolongan Allah. Allahlah yang memberikan hidayah kepadanya menuju jalan yang lurus/shirathul mustaqim; jalan yang diajarkan Alloh kepada wali-waliNya dan mereka mendapat keistimewaan dengan menempuhnya, Allahlah yang bisa menjauhkan dirinya dari melenceng keluar dari jalan tersebut" papar Ustaz Abu Mushlih beberapa waktu lalu.
Penyimpangan dari jalan lurus itu bisa terjadi dengan rusaknya kekuatan ilmiahnya sehingga dia terjatuh dalam kesesatan. Atau juga penyimpangan itu terjadi karena rusaknya kekuatan amaliahnya sehingga dia berhak mendapatkan murka. Maka kesempurnaan dan kebahagiaan insan tidak mungkin tercapai kecuali dengan terkumpulnya seluruh perkara ini tadi (kekuatan ilmiah dan amaliah serta pertolongan Alloh). Surat Al Fatihah telah mencakup perkara-perkara ini dan menatanya dengan sedemikian bagusnya.
Ayat-ayat ini mengandung landasan yang pertama yaitu mengenali Rabb ta’ala, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Nama-Nama Alloh yang tercantum dalam surat ini adalah ushul asma’ul husna (pokok Asma’ul Husna) yaitu: Alloh, Ar Rabb dan Ar Rahman. Makna-makna semua Nama-nama Allah intinya berpusat pada nama-nama ini.
Ustaz Abu Mushlih menjelaskan, nama Allah mengandung sifat Uluhiyah. Alloh, dialah yang berhak dipertuhankan dan diibadahi, yang berhak diesakan dalam beribadah karena berbagai macam sifat ketuhanan melekat di dalam diri-Nya, dan itu semua merupakan sifat kesempurnaan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).
Nama Ar Rabb mengandung sifat Rububiyah. Rabbul ‘Aalamin artinya Zat yang men-tarbiyah seluruh alam. Tarbiyah Alloh kepada makhluk-Nya ada dua macam:
1.Tarbiyah ‘aammah/umum
2.Tarbiyah khaashshah/khusus
Tarbiyah umum yaitu: penciptaan seluruh makhluk, pemberian rezeki kepada mereka, pemberian petunjuk guna mencapai kemaslahatan hidup mereka selama di dunia.
Sedangkan tarbiyah khusus adalah: tarbiyahNya kepada wali-waliNya. Wali Allah adalah hamba-hambaNya yang beriman dan senantiasa bertakwa kepada-Nya.
Allah mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuknya, menyempurnakan iman itu bagi mereka. Alloh menyingkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang menghalangi hubungan mereka dengan-Nya. Hakikat dari tarbiyah khusus ini adalah: tarbiyah taufik untuk bisa mencapai segala kebaikan dan terlindungi dari berbagai macam kejelekan (Taisir Karimirrahman, hal.39).
Nama Ar Rahman mengandung sifat ihsan, pemurah dan pemilik kebaikan. Ibnul Mubaarak rohimahulloh mengatakan, “Ar Rahman apabila diminta pasti memberi dan apabila tidak diminta akan murka.” Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi, “Barang siapa yang tidak meminta kepada Alloh maka Alloh murka kepadanya.” (Shahih, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ 2418, lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/27)
Baca juga: Bacaan Asmaul Husna, Yasin, dan Tahlil Lengkap Tulisan Arab, Latin hingga Terjemahan
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 5)
Ayat ini mengandung keharusan mengetahui jalan yang mengantarkan kepada Allah, jalan itu adalah dengan beribadah kepada-Nya saja dengan segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi-Nya serta senantiasa memohon pertolongan-Nya dalam menunaikan ibadah kepada-Nya.
Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan; yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan ibadah hanya akan dianggap/diterima sebagai ibadah apabila:
- Diambil dari tuntunan Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
- Dikerjakan dengan niat mengharap keridhoan Alloh.
Istianah sebenarnya termasuk ibadah, maka penyebutan isti’anah setelah ibadah dalam ayat ini merupakan penyebutan sesuatu yang lebih luas cakupannya sebelum sesuatu yang lebih sempit cakupannya.
Kenapa isti’anah disebutkan padahal isti’anah juga termasuk ibadah, jawabnya adalah: karena setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Jika seandainya Alloh tidak menolong dirinya niscaya dia tidak akan bisa mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al Fatihah: 6)
Ayat ini mengandung penjelasan bahwa seorang hamba tidak memiliki jalan untuk meraih kebahagiaannya kecuali dengan istiqamah meniti shirathal mustaqim, dan tidak ada jalan menuju istiqomah di atas shirathal mustaqim kecuali dengan hidayah dari-Nya.
Hakikat jalan yang lurus adalah: mengenali kebenaran dan mengamalkannya. Hidayah itu ada dua, hidayah ila shirath dan hidayah fii shirath. Hidayah ila shirath yaitu petunjuk menuju jalan yang lurus; tetap berpegang dengan agama Islam dan meninggalkan agama-agama selainnya. Sedangkan hidayah fii shirath adalah petunjuk untuk bisa melaksanakan berbagai rincian ajaran agama Islam dengan bentuk ilmu dan pengamalan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).
Di dalam ayat ini juga terkandung bantahan bagi seluruh kalangan pembela kebid’ahan dan para pengibar bendera kesesatan, sebab setiap ahli bid’ah dan orang sesat adalah sosok yang menyimpang dari jalan yang lurus (lihat Taisir, hal.40). Wallahu A'lam
Baca juga: 3 Pintu Surga bagi Kaum Wanita, Begini Amalannya
Lantas bagaimana caranya? Ustaz Abu Mushlih Ari Wahyudi memberikan penjelasan detail tentang hal tersebut. Berikut penjelasan dai dari Kajian Sunnah ini.
Menurutnya, cara untuk menyempurnakan kekuatan ilmiah hanya bisa dilakukan dengan:
1. Mengenali Zat Yang telah menciptakan dirinya, Nama-nama dan Sifat-sifatNya.
2. Mengetahui jalan yang bisa mengantarkan kepada-Nya.
3. Harus mengerti berbagai rintangan jalan tersebut.
4.Harus mengenali dirinya sendiri.
5. Mengetahui aib-aib yang dimilikinya.
Dengan lima pengetahuan inilah seorang manusia akan bisa memperoleh kesempurnaan kekuatan ilmiah. Orang yang paling berilmu adalah orang yang paling mengerti dan paling paham tentang-Nya.
Sedangkan untuk menyempurnakan kekuatan amaliah iradiyah hanya bisa diraih dengan menjaga hak-hak Alloh subhanahu wa ta’ala yang harus ditunaikan hamba (tauhid dan taat) dan menegakkannya dengan ikhlas, shidq (jujur dan benar), penuh nasihat, ihsan, mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dan menyadari serta mengakui karunia Alloh kepada dirinya, menyadari kekurangan dirinya dalam menunaikan hak-hakNya. Sehingga dia pun merasa malu menghadap-Nya dengan pengabdian (yang kurang) seperti itu karena dia menyadari bahwa pengabdiannya itu belum bisa memenuhi hak-Nya sebagaimana seharusnya, bahkan jauh sekali di bawah semestinya.
"Namun tidak mungkin seorang manusia menempuh jalan untuk menyempurnakan kedua kekuatan ini kecuali dengan pertolongan Allah. Allahlah yang memberikan hidayah kepadanya menuju jalan yang lurus/shirathul mustaqim; jalan yang diajarkan Alloh kepada wali-waliNya dan mereka mendapat keistimewaan dengan menempuhnya, Allahlah yang bisa menjauhkan dirinya dari melenceng keluar dari jalan tersebut" papar Ustaz Abu Mushlih beberapa waktu lalu.
Penyimpangan dari jalan lurus itu bisa terjadi dengan rusaknya kekuatan ilmiahnya sehingga dia terjatuh dalam kesesatan. Atau juga penyimpangan itu terjadi karena rusaknya kekuatan amaliahnya sehingga dia berhak mendapatkan murka. Maka kesempurnaan dan kebahagiaan insan tidak mungkin tercapai kecuali dengan terkumpulnya seluruh perkara ini tadi (kekuatan ilmiah dan amaliah serta pertolongan Alloh). Surat Al Fatihah telah mencakup perkara-perkara ini dan menatanya dengan sedemikian bagusnya.
Mengenali Potensi Diri Melalui Ushul Asmaul Husna
Firman Allah Ta’ala, : “Segala puji bagi Allah Rabb penguasa alam, Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang, Raja penguasa pada hari pembalasan.” (QS. Al Fatihah: 2-4)Ayat-ayat ini mengandung landasan yang pertama yaitu mengenali Rabb ta’ala, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Nama-Nama Alloh yang tercantum dalam surat ini adalah ushul asma’ul husna (pokok Asma’ul Husna) yaitu: Alloh, Ar Rabb dan Ar Rahman. Makna-makna semua Nama-nama Allah intinya berpusat pada nama-nama ini.
Ustaz Abu Mushlih menjelaskan, nama Allah mengandung sifat Uluhiyah. Alloh, dialah yang berhak dipertuhankan dan diibadahi, yang berhak diesakan dalam beribadah karena berbagai macam sifat ketuhanan melekat di dalam diri-Nya, dan itu semua merupakan sifat kesempurnaan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).
Nama Ar Rabb mengandung sifat Rububiyah. Rabbul ‘Aalamin artinya Zat yang men-tarbiyah seluruh alam. Tarbiyah Alloh kepada makhluk-Nya ada dua macam:
1.Tarbiyah ‘aammah/umum
2.Tarbiyah khaashshah/khusus
Tarbiyah umum yaitu: penciptaan seluruh makhluk, pemberian rezeki kepada mereka, pemberian petunjuk guna mencapai kemaslahatan hidup mereka selama di dunia.
Sedangkan tarbiyah khusus adalah: tarbiyahNya kepada wali-waliNya. Wali Allah adalah hamba-hambaNya yang beriman dan senantiasa bertakwa kepada-Nya.
Allah mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuknya, menyempurnakan iman itu bagi mereka. Alloh menyingkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang menghalangi hubungan mereka dengan-Nya. Hakikat dari tarbiyah khusus ini adalah: tarbiyah taufik untuk bisa mencapai segala kebaikan dan terlindungi dari berbagai macam kejelekan (Taisir Karimirrahman, hal.39).
Nama Ar Rahman mengandung sifat ihsan, pemurah dan pemilik kebaikan. Ibnul Mubaarak rohimahulloh mengatakan, “Ar Rahman apabila diminta pasti memberi dan apabila tidak diminta akan murka.” Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi, “Barang siapa yang tidak meminta kepada Alloh maka Alloh murka kepadanya.” (Shahih, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ 2418, lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/27)
Baca juga: Bacaan Asmaul Husna, Yasin, dan Tahlil Lengkap Tulisan Arab, Latin hingga Terjemahan
Inti Penghambaan
Firman Allah ta’ala,إيّاك نعبد و إيّاك نستعين
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 5)
Ayat ini mengandung keharusan mengetahui jalan yang mengantarkan kepada Allah, jalan itu adalah dengan beribadah kepada-Nya saja dengan segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi-Nya serta senantiasa memohon pertolongan-Nya dalam menunaikan ibadah kepada-Nya.
Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan; yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan ibadah hanya akan dianggap/diterima sebagai ibadah apabila:
- Diambil dari tuntunan Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
- Dikerjakan dengan niat mengharap keridhoan Alloh.
Istianah sebenarnya termasuk ibadah, maka penyebutan isti’anah setelah ibadah dalam ayat ini merupakan penyebutan sesuatu yang lebih luas cakupannya sebelum sesuatu yang lebih sempit cakupannya.
Kenapa isti’anah disebutkan padahal isti’anah juga termasuk ibadah, jawabnya adalah: karena setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Jika seandainya Alloh tidak menolong dirinya niscaya dia tidak akan bisa mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).
Shirathal Mustaqim
Firman Alloh ta’ala,اهدنا الصراط المستقيم
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al Fatihah: 6)
Ayat ini mengandung penjelasan bahwa seorang hamba tidak memiliki jalan untuk meraih kebahagiaannya kecuali dengan istiqamah meniti shirathal mustaqim, dan tidak ada jalan menuju istiqomah di atas shirathal mustaqim kecuali dengan hidayah dari-Nya.
Hakikat jalan yang lurus adalah: mengenali kebenaran dan mengamalkannya. Hidayah itu ada dua, hidayah ila shirath dan hidayah fii shirath. Hidayah ila shirath yaitu petunjuk menuju jalan yang lurus; tetap berpegang dengan agama Islam dan meninggalkan agama-agama selainnya. Sedangkan hidayah fii shirath adalah petunjuk untuk bisa melaksanakan berbagai rincian ajaran agama Islam dengan bentuk ilmu dan pengamalan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).
Di dalam ayat ini juga terkandung bantahan bagi seluruh kalangan pembela kebid’ahan dan para pengibar bendera kesesatan, sebab setiap ahli bid’ah dan orang sesat adalah sosok yang menyimpang dari jalan yang lurus (lihat Taisir, hal.40). Wallahu A'lam
Baca juga: 3 Pintu Surga bagi Kaum Wanita, Begini Amalannya
(wid)
Lihat Juga :