Mengapa Ada Tradisi Rebo Wekasan di Bulan Safar?
Selasa, 19 Agustus 2025 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
"Sedangkan ditinjau dari bahasa Jawa berarti Rebo Pungkasan atau Rabu yang terakhir pada setiap bulan Safar," tulis Siti Mahmudah Yanti.
Menurutnya, berkaitan dengan itu ada ulama yang menyebutkan bahwa pada Bulan Safar Allah SWT menurunkan 320.000 sampai 500.000 lebih macam penyakit atau musibah .
Karena itu, untuk mengantisipasinya agar terhindar dari musibah tersebut sebagian umat Islam melakukan tirakatan, beribadah menghadap Allah SWT seraya berdoa agar terhindar dari malapetaka tepat di hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Sementara itu, Siti Nurjannah dalam karya tulisnya berjudul "Living Hadis: Tradisi Rebo Wekasan di Pondok Pesantren MQHS Al-Kamaliyah Babakan Ciwaringin Cirebon" juga menyebut Tradisi Rebo Wekasan yang dilaksanakan di Pondok MQHS Al-Kamaliyah Babakan Ciwaringin Cirebon tidak terlepas dari tradisi leluhur yang turun temurun dari generasi ke generasi.
Menurut penuturan Nyai Fatimah, pengasuh sekaligus pendiri Pondok MQHS al Kamaliyah Babakan, tradisi ini diyakini sebagai tradisi leluhur yang masih harus dilestarikan. Jika tidak mengamalkan tradisi ini, ia merasa khawatir akan datangnya blai atau bencana.
Ia menjelaskan bahwa tradisi ini bertujuan untuk mencegah datangnya malapetaka di hari Rabu terakhir di Bulan Safar. Menurutnya, mengamalkan ritual Rebo Wekasan di bulan Safar merupakan bentuk ikhtiar seorang hamba agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Tradisi Rebo Wekasan ini merupakan tradisi yang sudah membudaya dan menjadi tradisi tahunan di kalangan pesantren Babakan, maka ia pun ikut melaksanakan dan melestarikan tradisi ini," demikian Siti Nurjannah.
Baca juga: Dianggap Bulan Sial, Benarkah Segala Bala dan Musibah Bakal Turun di Hari Rabu Terakhir Bulan Safar?
Menurutnya, berkaitan dengan itu ada ulama yang menyebutkan bahwa pada Bulan Safar Allah SWT menurunkan 320.000 sampai 500.000 lebih macam penyakit atau musibah .
Karena itu, untuk mengantisipasinya agar terhindar dari musibah tersebut sebagian umat Islam melakukan tirakatan, beribadah menghadap Allah SWT seraya berdoa agar terhindar dari malapetaka tepat di hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Sementara itu, Siti Nurjannah dalam karya tulisnya berjudul "Living Hadis: Tradisi Rebo Wekasan di Pondok Pesantren MQHS Al-Kamaliyah Babakan Ciwaringin Cirebon" juga menyebut Tradisi Rebo Wekasan yang dilaksanakan di Pondok MQHS Al-Kamaliyah Babakan Ciwaringin Cirebon tidak terlepas dari tradisi leluhur yang turun temurun dari generasi ke generasi.
Menurut penuturan Nyai Fatimah, pengasuh sekaligus pendiri Pondok MQHS al Kamaliyah Babakan, tradisi ini diyakini sebagai tradisi leluhur yang masih harus dilestarikan. Jika tidak mengamalkan tradisi ini, ia merasa khawatir akan datangnya blai atau bencana.
Ia menjelaskan bahwa tradisi ini bertujuan untuk mencegah datangnya malapetaka di hari Rabu terakhir di Bulan Safar. Menurutnya, mengamalkan ritual Rebo Wekasan di bulan Safar merupakan bentuk ikhtiar seorang hamba agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Tradisi Rebo Wekasan ini merupakan tradisi yang sudah membudaya dan menjadi tradisi tahunan di kalangan pesantren Babakan, maka ia pun ikut melaksanakan dan melestarikan tradisi ini," demikian Siti Nurjannah.
Baca juga: Dianggap Bulan Sial, Benarkah Segala Bala dan Musibah Bakal Turun di Hari Rabu Terakhir Bulan Safar?
(wid)
Lihat Juga :